“Anker” Kadang Emang “Angker”

by Fadhli

Anker” memang homofon dengan “angker.” Dan beberapa anker kadang memang semakna dengan angkerAnker yang dimaksud di sini adalah “ANak KEReta”

Kalau boleh mengklaim, sewaktu SMP saya adalah anker, walaupun amatiran. Dengan bekal seribu rupiah saja waktu itu yang dikasih untuk ke sekolah, maka saya mencari cara bagaimana menghematnya biar bisa ditabung ke warung, alias jajan. Alhasil, selama 3 tahun, bahkan berlanjut saat SMA,  saya menjadi pengguna setia transportasi KRD: Kereta Rel Diesel. Di Bandung, tempat saya tinggal dan sekolah itu, sampai sekarang kereta api masih menggunakan tenaga diesel untuk menggenjot lokomotif supaya kuat menarik gerbong-gerbongnya, sehingga kepulan asap masih terlihat kalau ia berjalan.

Seinget saya, pertama kali naek KRD adalah untuk jarak yang satu stasiun saja dari rumah: Stasiun Cimahi. Adapun stasiun yang dekat rumah saya namanya lucu: Gadobangkong. Saya juga baru tahu sekarang bahwa gadobangkongadalah ungkapan dalam bahasa sunda yang artinya “dagu kodok”. Konsepgadobangkong ini digunakan untuk arsitektur atap saung yang dibentuk seperti dagu kodok. Maknanya agar kita selalu posisi siaga dalam hidup, tidak perlu lagi ancang-ancang, seperti kesiagaan dagu kodok yang seakan-akan selalu ingin menerjang.

Kembali ke bahasan, waktu itu pertama kali naik KRD dengan tujuan Stasiun Cimahi, stasiun yang terdekat dengan Stasiun Gadobangkong. Momennya waktu itu bersama Abang ingin menghadiri acara Filatelis di Kantor Pos Cimahi yang letaknya dekat dengan Stasiun Cimahi. (Selain anker, dulu juga saya filatelis lho… tapi sekarang entah kemana perangkat-perangkat filatelinya, sayang sekali). Yang saya ingat waktu itu, adalah tidak membeli karcis, sehingga merelakan diri hanya berdiri di dekat pintu, bahkan masuk toilet untuk menghindari masinis. Selain itu, saya juga pernah diajak Ibu menghabiskan satu jalur kereta sampai habis di ujung jalur Bandung (Stasiun Cicalengka) dan balik lagi. Waktu itu kami dapet privilege duduk di ruang masinis, di samping bangku masinis yang mengendalikan kereta agar baik jalannya.

Setelah diterima di SMP 3 Cimahi, yang juga dekat dengan Stasiun Cimahi, maka naik kereta adalah kebiasaan, bahkan kebutuhan (untuk menghemat uang ongkos). Karena, pertama bisa tidak berbayar, kedua bisa cepat dengan sampai, dan ketiga, jadwalnya pas ada. Waktu kelas 1 saya masuk siang, sehingga hanya berangkatnya saja yang naik KRD karena jadwalnya sesuai. Setelah naik kelas 2 dan kelas 3 dan masuk sekolah pagi, saya bisa pulang-pergi naik KRD.

Beberapa kejadian lucu dan angker sebagai anker pernah saya alami.

Dipalak! Ini karena saya dan beberapa teman ikut muter dulu ke Stasiun Padalarang (stasiun ini adalah pemberhentian terakhir sebelum memutar balik ke Gadobangkong, Cimahi, lalu lanjut ke Bandung). Di Padalarang itu lah terjadi adegan seorang anak SMP juga mendekati kami. Dari wajahnya, kami tahu dia lebih berumur. Sebut saja to the point, dia si Pemalak.

Pemalak: Aya gope teu?? (Ada 500 rupiah ga??)
Temen saya: Teu, teu boga (Ga punya)
Pemalak: Maneh aya teu?? (Kamu punya ga??) sambil ngeliat ke arah saya
Saya: Teu, teu boga oge… (Ga, ga punya juga)
Pemalak: Heuuh, tingali tuh ka tukang…! (Liat tuh ke belakang!)
Saya dan teman saya liat ke belakang, dan… banyak anak-anak SMA di sana yang badannya lebih besar!
Pemalak: Tah, barudak urang…! (Itu adalah pasukan saya)
Saya tanpa berkata-kata lagi langsung memberikan uang sejumlah 500 rupiah, yang padahal itu sudah terbayang akan menjadi pisang bolen si Bibi kantin sekolah. Kecut. Pemalak pun pergi. Teman saya beruntung, karena saya yang jadi tumbal, dan dia ga mau PT2…

Betapa sakit hatinya, teriris-iris, setelah ada salah satu dari anak SMA yang dibilang si Pemalak sebagai pasukannya, justru mendekat dan bertanya pada saya…

Anak SMA: Diapain tadi??
Saya: Diporot (dipalak)
Anak SMA: Ooh… laen kali hati-hati ya…

Saya dalam hati: lhoo, kampret juga berarti tadi si Pemalak bohong, karena anak SMA yang dibilang sebagai pasukannya justru malah menunjukkan simpati pada saya. Aaah…

Dan tidak berhenti sampai situ, ada kondektur! Maka saya maju ke gerbong depan menghindari dia, sembari mengharap kereta sampai di Stasiun Gadobangkong agar saya bisa turun dan balik ke belakang, pindah ke gerbong yang sudah diperiksa oleh kondektur. Untung masih selamat! Fiuuh…

Kalau naek kereta paling pagi saat berangkat sekolah, keangkeran lain terjadi. Kereta penuh, penumpang layaknya pindang dipepet-pepetin. Belum lagi pedagang asongan, keranjang sayuran, hasil-hasil kerajinan seperti kursi kayu,beeuh… dan kalau kondisi demikian, saya ga mau masuk ke dalam. Pertama, menghargai Ibu saya yang sudah menyetrika baju saya agar baik gayanya, agar tidak lecek, kotor dan (maaf) bau. Kedua, toh tujuan saya cuma satu stasiun, saya ga mau kayak temen saya yang pernah kelewatan stasiun gara-gara dia masuk terlalu dalam. Haha.

Untuk itu, sy merelakan tidak masuk ke dalam. Parahnya jadi setengah bergelantungan. Kadang berdiri di tangganya, sambil memegang handrail di dua sisi pintu. Saya naek hampir selalu di bagian sebelah kanan, untuk menghindari papasan secara langsung dengan kereta lain. Nah masalahnya, pas kereta berbelok dan miring ke kanan, maka beban pertahanan saya semakin berat karena otomatis badan ikut terdorong ke kiri. Mungkin karena berbekal latihan beladiri dan pernapasan yang saya ikuti waktu SMP itu (padahal mah karena takut aja),Alhamdulillah masih bisa menahan. Pernah suatu hari saya melihat anak SMA yang jatuh mungkin gara-gara tidak kuat menahan beban bergelayutan seperti itu.

Tapi gara-gara bergelantungan juga, saya hampir terkena sesuatu yang tidak diinginkan. Dalam posisi menggendong tas, saya setengah bergelantungan menghadap ke arah dalam kereta, punggung menghadap keluar kereta dan… “BRAKK” tas saya menyenggol marka (semboyan) yang terpasang di sisi rel… dan omelan pun mengarah kepada saya dari orang-orang… dan saya (seperti anker lain) sok cool aja. Padahal saya juga ngeri, andaikan tas itu terselip di marka itu, kemudian badan saya tertahan, dan tertarik… Na’udzubillah.

Kalau berkaitan dengan jadwal telat, saya pernah “terdampar” di stasiun yang jaraknya lumayan jauh untuk seukuran anak SMP waktu itu. Parahnya, saya membawa teman, yang dia anak Sulawesi, Poso. Karena belum ada handphoneya mungkin itu bikin ketar-ketir orang rumah. Untung saya pas SMP emang aktif juga di sekolah ikut eksul atau kadang kalau hari sabtu juga ga langsung pulang karena maen bola dulu. Jadi ketika pulang saya jelaskan alasan sebenarnya saja, beruntung orang rumah mengerti.

Di KRD pula, saya pernah menyaksikan secara langsung seorang ibu yang dijambret kalungnya, di depan mata kepala saya sendiri tanpa saya bisa berbuat apa-apa. Ada orang yang berlari seakan mengejar penjambret itu, tetapi orang-orang bilang, itu sama juga, pura-pura saja padahal itu temannya si penjambret. Si Ibu shocked… Saya juga sok-sok memegang saku celana, memastikan kondisi aman, padahal emang ga ada apa-apanya isi saku celana saya, dan mendekap lebih dalam tas kesayangan (halah, lebay).

Seumur-umur yang ga saya pernah adalah naik di atap kereta. Tapi justru sejarah itu runtuh, ketika saya sudah lulus kuliah, di Jakarta. Di hari ketika saya sudah merasa capek mempersiapkan urusan dari 2 Bank di Depok, kemudian menuju Thamrin, setelah itu ke Salemba, saya ingin pulang cepat. Pilihan jatuh naek KRL (Kereta Rel Listrik). Karena itu jam pulang kerja, tau sendiri bagaimana kondisi jalanan Jakarta. Saya bilang ke petugas saat beli tiket ingin naek yang tercepat datang, ternyata KRL Ekonomi.

Maka dari Cikini saya naek. Di Manggarai anarkisme penumpang masuk bergelombang menerjang tubuh ini dan juga penumpang lainnya. Masih sabar. Di Tebet, begitu juga. Di sini mulai gelisah. Laptop saya pegimane urusannya nih. Bisa remuk dia, kasian. Di Cawang akhirnya saya putuskan.

Ikut keluar bersama penumpang yang turun. Mendekat ke arah jendela, dan menjulurkan tangan ke penumpang yang sudah lebih dulu berada di lantai 2. Naiklah saya. Pengalaman pertama. Penuh dengan kehati-hatian, mendongak-dongak ke atas, menatap tajam ke depan, khawatir ada sesuatu hal yang saya tidak ketahui akan terjadi. Angin sepoi-sepoi berhembus. Penumpang lain di situ hampir tidak ada yang berpakaian seperti saya, berbatik, sepatu pantopel, menggendong tas. Selama perjalanan hanya satu keinginan saya, cepatlah sampai ke Pondok Cina.

Anker bisa menyebabkan angker bagi dirinya sendiri, berhati-hatilah!