Stasiun Apa Bandara??

by Fadhli

ini cerita tentang stasiun kereta di Indonesia, kalau mau menyebut spesifik di daerah kota sekitar Jakarta Pusat seperti Cikini, Gondangdia, dan Juanda.

Baru saja saya turun dari kereta api, keluar pos pemeriksaan karcis dengan petugas yang tidak peduli karcis itu dibeli dengan harga 1500 untuk ekonomi, atau 5500 untuk yang berAC, semuanya “tak sobek-sobek…

Setelah itu, turunlah melalui tangga yang mengantarkan ke jalan raya di sekitar stasiun. Dan, banyak orang sudah menunggu sambil setengah teriak memanggil-manggil, “Pak, Bu, Mbak, Mas, gambir ya?? Gambir kan??” Orang-orang itu rata-rata berjaket, bahkan beberapa di antaranya berjaket kulit seakan-akan security service atau intel atau bareskrim berpakaian preman, walaupun nyatanya mereka bukanlah itu semua, tapi tukang ojeg!

Penumpang yang over PD dan salah sangka akan melenggang layaknya model berjalan di catwalk, sesekali menaik-turunkan kacamatanya sambil bilang, “A lot of paparazzis here… waw…” Paparazzi bawa kamera kali Mbak, bukan nawarin ojeg.

Kalau ada bule, mungkin bingung sambil menggerutu, “Oh, betapa manjanya bangsa Indonesia, perjalanan dalam kota naek KRL aja, udah banyak gitu penjemputnya,” mereka sangka tukang ojeg itu penjemput seperti di bandara.

Atau beberapa dari bule itu bingung, baru turun dari stasiun sudah ditawari permainan (game) dan minuman keras (beer) oleh sebab para tukang ojeg itu bilang “gambir, gambir, gambir… gambir Pak, Bu, Mas, Mbak, Ncang, Ncing, Nyak, Babe, gambiiiir!

Tukang ojeg itu memang sedang berusaha menjemput rizkinya, memang agaknya membuat tidak nyaman bagi beberapa orang yang belum terbiasa, mungkin bikin kikuk. Tapi ya sudahlah, cukup angkat tangan, sambil sedikit menyimpulkan senyum di bibir kita. Walaupun kadang-kadang juga masih ditimpali, “Ayo Mas… Aaah Mas…” tanda mereka kecewa.

Yah, maaf tukang ojeg, soalnya saya tahu bapak tukang ojeg akan marah kalau saya sok basa-basi seperti contoh ini.

Saya: Ini ojeg Pak?
Tukang Ojeg: Ia, Mas
Saya: Beneran??
Tukang Ojeg: Masa saya bo’ong Mas…
Saya: Oh, bener ya tukang ojeg. Kalau gitu, halte busway di mana ya Pak?
Pasti kena gedig kalau saya gitu, ya mending sok cool aja, dan katakan dalam hati: caaaw! Hehe…

Ditulis setelah lama tidak naek KRL Ekonomi Jakarta Depok, 7 Des 2010