Shubuh Ini…

by Fadhli

Hari ini (21/12) dan beberapa hari belakangan saya bisa kembali sholat shubuh di masjid dekat rumah. Jarang-jarang memang setelah lima tahun belakangan, karena saat kuliah tinggal tidak di rumah orang tua lagi.

Di rakaat kedua, setelah berdiri dan mengucap sami’allahu liman hamidah, Sang Imam mengangkat tangannya membaca qunut. Saya ikut juga. Tapi, kayaknya ada yang berubah…

Menurut penglihatan saya yang dalam posisi normal bisa menjangkau selebar 180 derajat kurang dikit, di barisan itu mungkin hanya saya dan dua-tiga orang lain yang mengangkat tangannya pula. Seinget saya waktu sebelum kuliah, tidak sesedikit ini yang ikut qunut jika kebetulan imamnya adalah yang berkeyakinan membaca qunut adalah sunnah sholat subuh. Bahkan dulu kebalikannya, saya kadang-kadang termasuk satu-dua-tiga orang yang tidak mengangkat tangan sekalipun imamnya membaca qunut.

Anyway, tulisan ini tidak akan membahas kajian qunut dan berpolemik soalnya karena saya pun bukan ahli, saya sendiri sekarang justru ikut mazhab “kumaha imam” (terserah imam, hhe). Yang ingin saya sampaikan, ternyata sekarang di masjid saya sudah lebih arif dan bijaksana menyikapi perbedaan, karena sepertinya sudah tidak terdengar lagi “qunut tidak qunut,” “memulai bacaan pake Bismillah atau tidak,” dan semacamnya. Siapa dan bagaimanapun tata cara imam sholat, semua bisa menghargai dan menghormati. Apik lah kalau begitu.