Belajar Tuang Ide…

by Fadhli

Akhir-akhir ini saya jadi sering pengen nulis lagi. Entah mengapa, kalau liat blog orang lain bisa begitu aktif, atau kalau baca-baca lagi folder di laptop yang berisi tulisan-tulisan jaman baheula, maka saya jadi terpacu lagi. Ya, menulis bagi saya belajar menuangkan ide, yang kadang tidak bisa dituangkan kalau bicara, dan setelah menulis seperti ada kesenangan sendiri, walau hasilnya kalau mau dikoreksi, pasti ga bagus.

Dulu, saya menulis tentang hal-hal yang mungkin dianggap “berat” dan “serius,” tapi sekarang  saya mencoba menulis apa saja yang ingin dan bisa saya tuliskan. Ini mudah-mudahan akan bermanfaat untuk melancarkan tulisan. Saya bahkan pernah menulis berdasarkan apa saja yang saya liat di sebuah ruangan kegiatan mahasiswa di kampus, tanpa boleh berhenti menuliskannya atau membiarkan jari lepas dari keyboard laptop, biarpun isinya ngaco, terus aja menulis, walaupun metode itu saya hanya lakukan sekali aja waktu itu, mungkin dulu lagi underpressure mau skripsi, hhe.

Mungkin inilah pengalaman-pengalaman belajar menulis yang saya kenang..

1. Waktu SMP, nulis cerpen (atau novel ya??) yang isinya tentang Piala Dunia, gara-gara lagi demam piala dunia di kalangan laki-laki maupun perempuan. Dulu rencananya, ingin saya hadiahkan ke seseorang sebagai kenangan sekolah (ihiiy), tapi belum beruntung, karena saya ga punya cukup keberanian untuk itu. Saya menyesal, kenapa tulisan itu sekarang dibuang. Kalau masih ada, saya mesti ketawa-tawa (baca: menistakan) diri sendiri… hhe

2. Waktu SMA, saya ditunjuk oleh Divisi Pemuda di DKM Masjid deket rumah untuk menginisiasi buletin masjid. Weh?! Tim awalnya banyak, belakangan berkurang yang efektif cuma jadi berempat. Ini pelajaran pertama jadi jurnalis amatir, mulai dari cari naskah, ilustrasi, reportase, wawancara, desain, layout, cetak, jual. Jadinya semacam buletin saku yang jumlah halamannya belasan gitu deh. Bertahan sampe 2 atau 3 tahun saya lupa, terbitnya 2-3 bulan sekali. Berhenti waktu saya kuliah ke Depok dan tim juga melanjutkan kehidupannya masing-masing (halah). Tulisannya berkaitan dengan keislaman. Nama buletinnya dimirip-miripin sama nama saya, “Fadhilah”, walaupun ada yang menanyakannya apa kaitannya dengan gerakan keislaman tertentu, karena “Fadhlilah” dalam jamaah tersebut merupakan konotasi untuk kitab yang sering dirujuknya: “Fadha’ilul Amal.”

3. Masih waktu SMA, di sekolah ditunjuk sebagai Wakil Koordinator Divisi Jurnalistik DKM Nurul Khomsah. Waktu itu, dua produk yang saya inget saya hasilkan, bikin Buletin Tembok yang ditempel di papan pengumuman yang tersedia di depan kelas-kelas, berukuran A3. Kemudian satu lagi adalah buletin selembaran yang dibagikan di hari Jumat. Menurut adik kelas, sampai sekarang masih beredar, dengan nama yang saya inisiasi: naDaHati, singkatan dari “saraNA DAwaH lewAt TuliSan”

4. Setelah masuk kampus, menulis kadang menjadi keterpaksaan, untuk tugas, baik tugas kuliah maupun tugas mengambil uang saku bulanan dari salah satu program beasiswa. Tetapi tidak mengapa, itu pada akhirnya memicu saya untuk menulis juga. Terlebih untuk tulisan-tulisan yang bisa dimuat di media nasional, disertakan lomba, dan lekat dengan bahasa-bahasa kompetensi di kampus. Yang lainnya adalah karena memang keinginan sendiri, waktu aktif di salah satu organisasi untuk sharing ide, karena kalau di rapat saja, waktunya terbatas, belum tentu semua ide bisa sampai. Saya mendapatkan pembekalan yang sustain ketika di kampus terkait menulis, karena setiap bulan diberikan tips dan trik oleh tentor yang lulusan master di Singapura dan mantan jurnalis Gatra, walaupun diikuti sambil terkantuk-kantuk.

Yah, begitu dulu. Tulisan ini juga dibuat masih dalam rangka selalu belajar menulis…