(Tidak) Lupa Bapak Pada Vespanya

by Fadhli

Saya perhatikan sekarang di lingkungan rumah, lumayan banyak perubahan yang bisa dilihat kasat mata. Selain beberapa rumah menjadi lebih besar, banyak juga yang sudah memiliki kendaraan. Makin banyak mobil terparkir di garasi atau di depan rumah-rumah, kalau motor ga usah ditanya. ‘Mantan’ mobil orang tua saya (Jeep, Katana atau Taft saya lupa) ga bertahan lama, hanya sekitar 1-2 bulan di tahun 2008, abis itu dijual, mungkin karena ga ada yang pake (Ayah belum terlalu lancar, Ibu ga bisa, Adik setiap hari sekolah, 2 anaknya yang lain sudah ga tinggal di rumah), ditambah ga ada yang ngerti perawatan, terakhir sempat “meledug,” atau… juga buat bayar biaya kuliah saya, ga ngerti juga saya, hhe.

Kembali ke makin banyaknya kendaraan yang saya kira makin mewah itu, pagi-pagi tadi saya bangun dan pas dengan terdengarnya suara kendaraan yang distarter, bersumber dari rumah tetangga. Dari suaranya bukan mobil, pun bukan jenis motor keluaran terbaru.

Dari suaranya yang khas itu, saya masih bisa mengidentifikasi bahwa itu suara Vespa. Dan, suara itu sudah menghiasi gang rumah kami sedari dulu, bahkan sedari kami masih duduk di bangku sekolah dasar. Wah, saya pikir, betapa setianya Bapak itu pada Vespanya, padahal setahu saya juga beliau punya motor yang lain (lebih sering digunakan anak-anaknya). Kalau masih bisa digunakan sampai sekarang, saya pikir mesti itu selalu dirawat, sebagaimana dulu kami sering menyaksikan Bapak itu mencuci dan merawatnya di depan rumah, yang sebelah rumah saya itu.

Saya jadi ingat potongan film yang saya temukan ga sengaja di Youtube tentang kisah kakek berusia lebih dari 80 tahun yang setiap hari membuat sup, kemudian berjalan 16 km, dan memainkan biola di atas puncak bukit. Dia melakukannya dengan penuh kesetiaan karena telah berjanji untuk membuatkan sup dan memainkan musik di hadapan istrinya selamanya. Sekarang istrinya telah meninggal dan dimakamkan di atas bukit tersebut.

Lho, koq saya jadi nyama-nyamain istri si kakek dengan Vespa?? Bukan, bukan itu maksud saya… Tapi poinnya adalah bagaimana kesetiaan seseorang mempertahankan apa yang mereka rasa patut pertahankan walaupun secara logika umum nampaknya ya kalaupun tidak dilakukan pun tidak mengapa. Sebabnya tentu bisa beda-beda, mungkin karena memang senang, kepalang tanggung, repot kalo ganti yang baru, ada kenangannya, dan sebagainya. Terserah yang punya aja, hhe.

OK, semoga Vespanya lancar terus Pak. Kalau nanti ada aturan pembatasan durasi pemakaian kendaraan, saya menduga bisa jadi dijadikan semacam monumen di museum pribadinya… atau kalau terpaksa dijual, akan mengisi relung hatinya… (halah… mohon maaf lebay…)