Romantisme Kado Kosong

by Fadhli

Ada kisah singkat yang saya baca dari sebuah media cetak nasional beberapa hari lalu. Saya tulis dengan beberapa penyesuaian di sini.

Tersebutlah seorang anak yang mengambil bungkus kado berwarna emas kemilau milik ayahnya. Dilapisinya sebuah kotak sepatu dengan bungkus kado tersebut. Beberapa hari kemudian, diberikanlah kotak yang telah terbungkus itu kepada sang ayah. Saat dibuka, sang ayah justru dengan nada tinggi memarahinya, “Kamu tidak seharusnya melakukan ini. Untuk apa kamu bungkus kado ini dengan kertas emas berkilau jika isinya hanya kardus sepatu kosong ini yang kau berikan!

Anak itu sambil menangis terisak berkata, “Tidak ayah, kardus itu tidak kosong. Aku telah memberikan ribuan ciuman sebelum aku memberikannya kepadamu…” Konon setelah kejadian itu, sang anak mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Sang ayah pun meyimpan kotak yang nampaknya kosong itu sebagai kenangan yang tak terlupakan.

Kisah ini membuat saya berpikir, bagaimana romantisme (antar anggota keluarga, antar sesama, antar manusia) harusnya berbentuk??

Kardus kosong yang diberikan mungkin tidak bernilai bagi sang ayah, padahal sang anak sudah mencoba meluapkannya dengan bahasa yang lain. Mohon maaf untuk mengkorelasikan dengan kebiasaan saya yang kurang romantis, misalnya dengan saudara, bahkan ya bisa dikatakan cuek jika dibandingkan dengan kebiasaan umum. Tanyakan saja pada Abang dan Adik, jika ulang tahun, tidak ada yang istimewa untuk diucapkan kepada satu sama lain. Paling hanya sms. Singkat. Kalau lebaran pun begitu. Salam sambil meletakkan punggung tangan yang lebih tua ke kening yang lebih muda, rasanya sudah cukup. Tanpa tangis, bahkan kadang sambil cengengesan. Begitu kebiasaan kami. Dan itu asyik-asyik aja. Setelah itu, kalau ada kesempatan berkumpul bersama, kami berjalan, foto-foto, ketawa-ketiwi. Itu ganti romantismenya.

Hoho, tapi pada akhirnya di satu sisi, saya rasa, saya pun tidak bisa memaksakan kebiasaan kami yang santai dan dingin itu melawan kebiasaan umum. Ketika berinteraksi dengan banyak orang di organisasi, terlebih ketika memimpin, saya harus mengalah. Memaksakan diri mengumpulkan database anggota, melihat tanggal lahirnya, menyusun kata-kata untuk memberikan ucapan. Dan kirim. Pada beberapa hal lain saya juga harus menyesuaikan untuk memberikan apresiasi, penghargaan, atau penghormatan. Dan, setelah tidak berinteraksi lagi dalam satu organisasi, ah, saya kembali lagi lupa.

Dan, hari ini saya membaca buku Habibie & Ainun, karya Presiden Habibie, yang mengisahkan kehidupannya yang sangat romantis. Walaupun agaknya akan lebih banyak romantisme yang dilisankan dalam kisah mereka, saya mengutip beberapa alinea yang saya tafsirkan bahwa terkadang kehangatan itu tidak perlu dinyanyikan dengan suara yang merdu dan menyenangkan.

Kata Ibu Ainun:

Kami berdua dapat menghayati pikiran dan perasaan masing-masing tanpa bicara. Malah antara kami berdua terbentuk komunikasi tanpa bicara, semacam telepati… Saya membuat masakan yang persis saya butuhkan tetapi lupa untuk menitipkan padanya (Pak Habibie) sewaktu berangkat pagi. Hidup berat tetapi manis.”

Saya bahagia malam-malam hari; dia (Pak Habibie) sibuk di antara kertas-kertasnya yang berserakan di tempat tidur. Saya menjahit, membaca atau berbuat yang lainnya. Saya terharu melihat ia pun banyak membantu tanpa diminta: mencuci piring, mencuci popok bayi yang ada isinya.”

Yang jadi pertanyaan bagi saya terkait dengan pesan keagamaan, bolehkah kita mengonversi pesan Nabi Saw yang menyatakan agar menyampaikan rasa cinta kepada saudara secara verbal, ke dalam bentuk-bentuk lain, walaupun dalam bentuk “kotak kosong”??

Saya kira dalam bentuk apapun boleh dan sah-sah saja, tetapi apakah itu menghilangkan anjuran untuk mengeksplisitkannya?? Untuk ini, saya mau tanyakan dulu kepada yang lebih ahli. Karena kalau ia, saya berarti harus belajar untuk itu. Hhe