Kenangan Bersama Kawan

by Fadhli

Dalam perjalanan pulang ke Bandung dari Depok satu hari sebelum tahun baru 2011, entah mengapa saya jadi teringat kawan lama di SMA dulu. Mungkin gara-gara sempat melihat akun Facebook-nya. Ditambah juga di jalan ga ada kerjaan, ya sms-an aja, daripada mati gaya di perjalanan.

Awalnya nomor ponsel saya tidak dikenalinya. Ditanyalah siapa yang mengirim sms itu? Dengan satu kata kunci yang dia biasa memanggil saya dengan kata itu (tapi ga akan saya sebutkan di sini, rahasia! hehe), dia langsung mengenali. Berbasa-basilah kami dengan kondisi dan aktivitas masing-masing sekarang. Dan, seperti biasa, ocol-ocolan (ocol ga tau apa artinya saya juga, definisikan saja sebagai lucu-lucuan lah). Setidaknya walaupun tidak dibahas panjang lebar, ada beberapa kenangan yang disebutkan dalam sms-an kami itu.

1. Makan es duren di Jalan Tubagus Ismail. Biasanya sepulang sekolah di hari Sabtu kami suka jalan bareng, tentu saja saya nebeng motornya. Buat saya yang kantongnya tipis dulu (sampe sekarang juga masih), jarang-jarang makan es yang harganya 6000 perak waktu itu. Dan es duren ini bukan es duren yang dibikin cream gitu, tapi beneran durennya dicemplungin sama biji-bijinya. Tempat es duren itu memang terkenal. Entah sekarang masih ada atau tidak.

2. Pengalaman ke Bandung Electronic Center (BEC). Saya lupa pastinya untuk mencari apa, mungkin sekedar jalan-jalan (waktu itu harga-harga terkait komputer masih mahal). Nah, yang tidak dilupakan adalah kami masuk toilet di sana. Setelah menyelesaikan urusan dengan kloset, cuci tanganlah di wastafel. Dasar udik, itu kerannya ternyata yang pake sensor. Selama tangan di bawah keran, airnya akan mengalir otomatis dalam beberapa waktu tertentu. Nah, teman saya itu cuci tangan sebentar saja, jadi jatah waktu mengalirnya air belum habis alias air masih mengalir dong. Di situ agaknya kami bingung. Saya bilang, “Matiin euy!” “Kumaha carana??” kata dia yang artinya: “Gimana caranya??” “Coba puter, pencet atau apapun!” “Apa yang mau dipencet ato diputer??” “????” Bleseeet… kami keluar lah dari toilet dengan tampang-tampang ga bertanggung jawab. Agaknya air masih mengalir, karena ketika kami berusaha puter atau pencet yang ga ada gunanya itu, sensor menyala lagi untuk mengalirkan air. Dasar ndeeso!

Cerita tentang keran belum berakhir, setelah keluar saya ledek dia, “Ah itu harusnya bisa dimatiin, lu nya aja kaga tau caranya…” Sementara teman saya berpendirian itu emang mati otomatis (tapi saya juga ga yakin dia tau itu, cuma nebak aja, haha, ga mau kalah gitu saya). Akhirnya ceng-cengan berubah jadi perdebatan, dan kami sepakat untuk mengadakan tantangan untuk membuktikan. Maka kami kembali masuk ke salah satu toilet untuk melihat perilaku keran itu. Dan… tet-tot emang keran itu otomatis. Teman saya itu akhirnya puas menertawakan dengan wajah penuh kemenangan, dan sampai sekarang ledekan itu menjadi cengan gacoannya! “Yuk ke BEC lagi, kita benerin keran…” Saya hanya tertawa kalau kayak gitu, lebih tepatnya untuk mengalihkan perhatian. Hahaha

3. Di suatu perjalanan naik motor, dan saya masih selalu nebeng, waktu itu di Jalan Setiabudi dari arah Jalan Gegerkalong menuju Cihampelas, kami ngobrol sesuatu dan seperti biasa: ledek-ledekan. Dan setelah kejadian ini kami agak sadar (sedikit) bahwa bercanda saat mengendari motor adalah berisiko. Di suatu titik, teman saya itu agaknya kurang konsentrasi pada kendali motor, dan tidak sadar di depannya ada mobil polisi mengerem, dan saat dia sadar langsung pula ngerem mendadak. Hampir fatal, kami hampir terpelanting karena rem depan ditarik dengan kencang juga. Tapi masih bisa ditahan. Dan untungnya, si mobil polisi ga kami tabrak dari belakang. Kejadiannya hanya beberapa detik saja. Tapi membuat kami shocked. Lalu?? Apalagi, ya kabuur lah!

4. Waktu itu ada lomba foto Konferensi Asia-Afrika, maka saya minta teman saya itu jadi ojeg untuk mengambil objek-objek yang akan saya sertakan di lomba foto. Hasilnya sih ga menang.

5. Setiap Sabtu sore, biasanya kami juga berolahraga, yang lebih sering adalah jogging di Sabuga ITB. Dengan karcis masuk arena atletik hanya 1000 rupiah, hampir selalu sampai maghrib kami habiskan waktu di sana. Pertama, kuat-kuatan lari. Kedua, jalan di atas batu (yang berkhasiat untuk refleksi katanya). Ketiga, lompat jauh ke bak pasir. Keempat, berenang. Cuma yang terakhir jarang-jarang, karena saya ga mau diledek lagi dan melihat teman saya puas menertawakan, gara-gara saya sempat hampir tenggelam.

Dasar, udik, udik! Haha…