Second Child Syndrome

by Fadhli

Saya sudah pernah mendengar istilah ini. Tapi tidak detail. Yang saya tahu, sampai sebelum menulis ini, bahwa sindrom ini terjadi pada anak kedua atau anak tengah yang biasanya memiliki karakter berbeda dengan saudaranya yang lain. Dan sebelum ini, saya tidak tahu perbedaan apa saja yang dimaksud.

Kemarin, di perjalanan mengendarai motor di seputaran Bandung, entah mengapa tiba-tiba terpikir dengan istilah ini. Sebelum menulis ini, maka saya cari tahu lebih lanjut apa itu Second Child Syndrome. Biasa, tanya ke Profesor Google. Dari beberapa artikel yang ditemukan, dikatakan bahwa sindrom ini terjadi karena pola pengasuhan anak kedua yang katanya tidak seintensif anak sulung atau bungsu. Perhatian pada anak sulung (sebelum ada anak tengah) pasti akan sangat intensif. Sampai anak kedua lahir, perhatian akan berpindah. Tapi mungkin tidak lama, sampai lahir anak ketiga.

Dr Kevin Leman, penulis buku The Birth Order, menyatakan bahwa anak tengah cenderung keras kepala dan berperilaku yang berisiko termasuk lebih berani untuk melakukan sesuatu yang berbeda, kadang ekstrem bahkan memberontak. Mengenai pergaulan, Adler mengatakan anak tengah biasanya lebih mudah bergaul demi mendapatkan apresiasi sosial. (http://bataviase.co.id/node/192726)

Dalam http://www.surfnetparents.com/second_child_syndrome_birth_order_and_personality-4571.html dan http://www.essortment.com/all/whatismiddlec_rsoe.htm, dinyatakan beberapa karakteristik anak tengah:

– Penyendiri, dan berusaha mandiri, tidak mau bergantung pada siapa-siapa, selalu berusaha melakukan hal yang berbeda dibanding yang lain
– Biasanya memiliki keputusan yang agak berbeda tentang sekolah dan karirnya (dalam tulisan sebenarnya memiliki hambatan dalam memutuskan sekolah atau karir, tapi saya ga mau dikatakan begitu, hehe)
–  Tetapi mereka memiliki karakter artistik dan sangat kreatif.
– Walaupun, tidak dapat dipaksa bekerja di bawah tekanan, karenanya (biasanya) dia memiliki pengalaman bekerja kemudian berhenti karena hal tersebut.
– Karir yang cocok untuk anak tengah adalah yang sejalan dengan kreatifitasnya. Pilihan seperti menulis atau menjadi jurnalis, atau pekerjaan lain yang mereka dapat mengekspresikan diri sepenuhnya, atau yang jam kerjanya fleksibel, dan dengan pekerjaan yang berganti-ganti.

Huffh!! Koq rasanya dalam beberapa karakteristik itu “Gue Banget”. Kemudian, saya mencoba membandingkan dengan beberapa orang keluarga, terutama dari sisi aktivitasnya. Ua (Ayah Kakak) yang anak ke-2, walaupun bukan anak tengah, sudah bekerja lama sebagai dosen (untuk menyatakan pekerjaan yang lebih fleksibel waktunya), pernah aktif lama menjadi jurnalis, termasuk pelopor yang sekolah ke luar negeri dibanding anak Kakek-Nenek yang lain, dan sering keliling ke negara lain sebagai akademisi.

Nah, anaknya Ua itu (berarti sepupu saya) yang kedua, sekaligus anak tengah, sepengetahuan saya , juga memiliki kemampuan jurnalistik yang menonjol walaupun studinya di jurusan eksakta, pernah menjadi Ketua Boulevard (Pers Mahasiswa-nya ITB), bekerja sebagai proofreader, menulis blog, dan menyatakan diri sebagai komentator lepas.

Dan saya?? Saya bercita-cita mengakhiri hidup sebagai pengajar, penulis, in-house graphic designer, pelancong, juga penggiat aktivitas sosial yang semuanya tentu memiliki waktu lebih fleksibel dibanding kerja di balik meja, menggunakan kemeja dan sepatu, dan harus berambut klimis.

Ah, benarkah Second Child Syndrome ini terjadi pada semua anak kedua terlebih anak tengah?? Kalau karakteristiknya sih betul saya rasakan pada diri saya. Tapi kalau penyebabnya karena kurang perhatian, saya kira nggak. Saya lahir satu tahun lebih 8 bulan saja dari Abang saya, jadi Abang saya yang mungkin perhatiannya tersedot darinya (tapi saya ga tau, kita sih biasa-biasa aja, ga merhatiin yang begituan). Dengan adik, jarak lahirnya 4 tahun. Jadi ga terlalu ada persaingan perhatian.

Yah, let it flow aja lah…