Let’s Rock Bangkok! #2

by Fadhli

Tanggal 24 Januari akan menjadi hari bersejarah buat diri saya pribadi. Kalau boleh saya katakan sedikit pengalaman saya di kampus dulu, saya mulai terbiasa bicara di depan umum, baik menjadi pembicara, pembawa acara, atau moderator, dengan panel dari berbagai kalangan mulai dosen, pejabat pemerintah, anggota DPR, mantan menteri, atau beberapa tokoh lain.

Tapi kali ini berbeda, harus berbicara di depan ratusan pemuda-pemuda hebat perwakilan negara-negara Asia-Pasifik, dalam perjalanan pertama kali ke luar negeri dan langsung diamanati jadi penyaji di sesi pertama, dan tampil menggunakan Bahasa Inggris pula untuk pertama kalinya. Oh, sambil menunggu, saya bulak-balik ke kamar mandi. Menyendiri di beberapa bangku dekat tempat acara, sambil berlatih apa yang akan saya bicarakan.

Ga banyak yang saya pikirkan hari itu kecuali cepat menyelesaikan presentasi. Upacara pembukaan terasa begitu cepat. Sesi pertama pun dimulai dengan 3 pembicara. Pembicara pertama datang dari mahasiswa Cambodia yang sedang kuliah di Filipina. Dan, tibalah saatnya nama saya dipanggil. Awalnya saya akan membawa kertas contekan sebagai panduan alur bicara. Tapi kemudian, saya campakkan itu kertas di bangku saya saja, karena saya pikir justru itu yg akan membuat saya terpaku.

Di depan saya biarkan kepala berpikir dan melontarkan idenya dari mulut, walau saya sadari, kebanyakan hanyalah membaca slide, dan menambahkan sedikit-sedikit ungkapan saja. Saya akui juga ada beberapa kesalahan grammar. Ah, masa bodo, yang penting orang ngerti apa yang saya maksud. Kalaupun tidak, slide saya sudah cukup menjelaskan, silakan baca saja. Pengen nangis rasanya saat itu.

Presentasi saya selesai akhirnya. Hanya 1 tanya dari peserta yang saya jawab. Untungnya pertanyaan itu pun tidak terlalu sulit. Setelah presentasi itu, dan saya amati presentasi lain selama forum, mungkin presentasi saya adalah presentasi terpendek, walaupun bagi saya, itu sudah sangat panjang. Hohoho…

Suasana Saat Presentasi

Setelah tepuk tangan selesai mengakhiri sesi pertama dengan 3 penyaji, saya kembali ke bangku. Tak dinyana, datang Miss Libby (salah satu panitia) mendekati saya, dia mengucapkan persetujuan dan selamat dengan apa yang baru saya sampaikan dalam presentasi. Saya sampaikan maaf kepadanya bila ada yang tidak dimengerti, tapi dia sampaikan bahwa presentasi saya dimengertinya. Syukurlah. Teman-teman Indonesia yang lain pun menyemangati saya dengan beberapa ungkapan seperti “bagus koq, idenya dapet,” kemudian “kena banget gambar posternya,”… Kemudian ada pula Miss Chris yang menghampiri dan kira-kira menyatakan hal yang sama dengan Miss Libby. Yang bikin saya agak amazing itu teman-teman dari Nepal menyatakan akan mengajukan poster saya untuk dimuat di majalah asosiasi pegunungan gitu, wuiih… Alhamdulillah… Walaupun ada juga temen Indonesia yang bilang, “Aku ndak ngerti tho apa yang kamu omongin itu…” Haha, apapun, asyik lah karena presentasi sudah selesai.

Bersama Miss Libby, Mr. Kevin, dan beberapa peserta lain

Bersama Jay (Nepal)

Setelah 2 sesi presentasi sampai jam 14.30, jam 15.00-17.00 dilanjutkan dengan workshop mapping kondisi negara masing-masing terkait climate change dengan format simulasi. Forum hari pertama selesai.

Malam hari, rombongan Indonesia, ditemani beberapa orang Thailand, bersama juga satu orang Pakistan berjalan ke kawasan Khaosan Road yang konon dan faktanya daerah berkumpul bule-bule, terutama para backpacker. Kami berfoto-foto ria sambil melihat-lihat kawasan itu. Dilanjutkan berjalan ke Democracy Monument di kawasan itu.

Rame-Rame di Seputaran Monumen Demokrasi

Rame-rame di Khaosan Road

Selesai dari situ, rombongan berpisah. Saya, Erik, Ika dan Edwin karena berjalan agak terlambat dari rombongan depan memutuskan untuk pulang dengan jalan kaki saja. Sementara rombongan lain sudah duluan naik taksi. Dari jalan Phra Sumen, agaknya aksi alai kami bermulai. Halah…

Dengan berbekal peta, namun tanpa bantuan Dora the Explorer, kami mengira-ngira akan pulang lewat mana. Setelah bermufakat, kita susuri saja lereng pertokoan di Surabaya yang panas (itu lagu pengamen oi!). Maksudnya, kita menyusuri jalan yang kita kira akan membawa kembali pulang ke hostel. Mampir ke 7 Eleven (semacam Alf*M*rt-nya kalo di Indonesia) untuk membeli minum, kami melanjutkan perjalanan dengan perkiraan akan baik-baik saja.

Sampai di suatu jalan, kita merasa tersesat. Ada halte bis di situ. Kita berusaha bertanya pada orang yang ada di situ, tapi kurang menjawab karena komunikasi kita ga nyambung, yang ditanya ga ngerti Bahasa Inggris, sama seperti yang bertanya, ga ngerti Bahasa Thailand. Akhirnya, saya coba ke ujung jalan untuk melihat nama jalannya: Nakhon Ratchasima. Dan saat lihat peta, tidak ada nama jalan itu. Mungkin karena tidak termasuk jalan besar kali ya.

Edwin pun mencoba cari tahu ke ujung jalan lain, tapi ga ketemu, karena tahu adanya di Sumedang (ga jelas gini tulisan). Yang jelas, Edwin agak lama ditungguin ga nongol-nongol di halte itu karena mencari informasi. Setelah dia balik ke halte, baru kita tanya gimana hasilnya, ternyata tetep saja kita harus liat peta. Akhirnya diisepakati saja kita akan belok kiri di perempatan depan.

Berjalan tidak jauh dari halte yang merasa diri kita tersesat di sana, ternyata eh ternyata, tak berapa lama berjalan dari situ terlihat plang hostel kami (saya dan Erik). “Lah, itu hostel kita…” Dan itu berarti ke arah depan sampe mentok kemudian belok kanan dan belok kiri lagi, adalah hostel Edwin dan Ika. Euleuh-euleuh eta barudak, merasa tersesat di tempat yang dekat ternyata… Haha… Itulah pengalaman di hari pertama.

Lanjuut Hari ke2 <– klik ini untuk kisah lanjutannya

Pake Baju Persib, siapa tau ketemu Suchao Nutnum sama Kosin, orang Thai yang pernah main di Persib