Let’s Rock Bangkok! #3

by Fadhli

Hari kedua konferensi juga menarik. Dengan suasana yang tidak begitu formal, juga kondisi yang makin akrab dan bersahabat dengan peserta lain, membuat saya yang suka ngantuk kalau ikut kuliah dulu menjadi tetap terjaga sepanjang acara. Ditambah presentasi yang makin bervariasi formatnya, ada tarian, ada wayang, video lucu, dan lukisan yang dibuat dari bahan alam seperti kopi, daun, dsb. Sebelum forum berakhir di hari kedua, peserta juga menjalani semacam simulasi teater yang diawali dengan beberapa games menarik. Seru lah pokoknya!

Lagi Workshop Teater

Selepas forum, saya, Erik, Edwin, Ika, ditambah Endy berencana ngebolang lagi. Kali ini tujuannya adalah Wat Arun, sebuah kuil besar di sisi sungai Chao Phraya. Dengan menumpang angkutan sungai, perahu berbayar 14 Baht, kami menuju Wat Arun. Sebetulnya tidak sampai ke Wat Arun langsung, karena untuk ke sana ada perahu penyebrangan sekali lagi berbayar 3 Baht.

Sampai di sana sudah tidak boleh masuk kuil, karena buka hanya jam kerja. Tapi kita tetap bisa masuk ke area sekitarnya yang tetap indah, karena kuilnya menyala di malam hari dengan bantuan lampu di sana-sini. Kami menghabiskan waktu cukup lama di Wat Arun. Untuk apalagi selain untuk foto-foto. Lapar pun rela ditahan. Hanya memakan sebungkus biscuit ukuran kurang dari 500 gram untuk dibagi 5, ditambah sisa-sisa coklat Silver Queen Chunky.

Pas di Wat Arun dan setelahnya, lebih banyak menggunakan kamera Erik untuk foto yang bersama, sementara kamera saya habis baterainya, dan lebih banyak untuk memotret kenarsisan Endy, dan saya sendiri. Wkwk

Di Deket Terminal Perahu Wat Arun

Gaya di Samping Chao Phraya, deket Wat Arun

Wat Arun di Malam Hari, Shining...

Habis dari Wat Arun kami bertujuan ke Suan Lum Night Market. Sambil menunggu kedatangan perahu penyebrangan, kita melihat peta untuk memastikan posisinya. Agak lama karena memang tidak tertulis di peta. Tapi seinget saya posisinya ada di persimpangan Rama IV dan Lumphini Park. Beruntung ketemu petunjuk itu di peta. Untuk ke sana, diputuskan naik taksi dulu sampai stasiun Hua Lampong, dari sana dilanjut naik MRT (kereta subway gitu) ke Lumphini.

Beli tiket MRTnya otomatis lho, ga usah beli di loket, kayak beli minuman-minuman otomatis itu lho. Keretanya juga asyik, bersih, tertib, beradab, hhe. Cuma dikotori aja oleh kelakuan kita foto-foto sama ambil video ga jelas di dalem kereta. Penumpang laen pada ngeliatin juga kayaknya.

Sampai Lumphini, kita harus bertanya pada 3 orang yang berbeda tentang letak Suan Lum, dan ajibnya, 3-3nya menunjukkan arah yang berbeda. Beruntung orang yang ketiga benar menunjukkan arahnya. Dan, ternyata diketahui bahwa Suan Lum Night Market sudah ditutup, karena akan ada pembangunan hotel. Maaf, anda belum beruntung, silakan coba kapan-kapan, wkwk.

Akhirnya diputuskan untuk lanjut ke Silom. Menggunakan taksi berwarna pink, sampailah kita di Silom. Pertama sekali di sana, mencari makan, karena waktu sudah menunjukkan pukul 10an gitu dan kita belum makan malam, Si Endy udah ga sabaran pengen ketemu nasi. Awalnya di McD, tapi ga ada menu nasi, akhirnya kita ke KFC. Sambil makan dan ngaso di KFC, kita ngobrol-ngobrol sampe eneg… Wkwkwk… Yang paling diinget mungkin gayanya si Edwin abis nyobain saladnya Ika, ekspresi Edwin: “Hmmm… Enaaak”

Setelah makan, kita belanja-belanja kaos, sarong, sama gantungan kunci gitu. Ada beberapa kaos yang saya tertarik, tapi ga ada ukurannya. Sayang sekali. Abis itu, jalan-jalan di seputaran Silom, Surawong, sambil ngerekam video kita yang ga jelas. Sempat ketemu orang Indonesia lain, yaitu Daud sama Fathan. Ngobrol-ngobrol di pinggir jalan.

Seinget saya, sampai jam1 malam kita keluar, hingga waktu diputuskan untuk pulang. Akhirnya, kita pulang dengan mencoba menggunakan taksi yang berargo. Tapi mungkin karena sudah tengah malam, ga ada supir yang mau menggunakan argonya. Edwin akhirnya nawar, dapetlah taksi yang mengantarkan kita ke Phitsanulok dengan ongkos 150 Baht (dibagi 5 jadi 30/orang). Nah, itupun ternyata kemahalan, karena 2 hari kemudian, saya, Erik, Endi dan Somphet menggunakan taksi berargo dari sana, hanya 70 Baht. Gila kan, 2 kali lipat. Berarti yang nawar nih alias Edwin yang harus kita pertanyakan, wkwk.

Di perjalanan pulang, pas hampir memasuki kawasan Phitsanulok, ada pemeriksaan polisi. Awalnya Ika yang bilang, “Kalian nyadar ga ni argonya koq dinyalain di tengah-tengah jalan gini?” Padahal kesepakatan dengan sopir kan ga pake argo. “Ia, itu ada polisi di depan.” Dan taksi kami dicegat. Menurut info, itu berkaitan dengan aksi kaus merah belakangan. Untunglah tidak mengapa, karena kami mengaku mahasiswa Indonesia yang sedang mengikuti konferensi di sana. Dengan sedikit bahasa Inggris cing cong cing cong, dipersilakannya kembali taksi kami jalan sampai tujuan, dengan selamat Alhamdulillah.

Klik di sini untuk lanjut… <– klik ini untuk kisah lanjutannya