Let’s Rock Bangkok! #4

by Fadhli

Hari ketiga di forum masih menampilkan presentasi dari para narasumber dimulai jam 08.30 sampai jam 14.30. Presentasi diisi dengan video, nyanyi, dan teater dari para mojang jajaka dari Laos. Dari pukul 15.00 – 17.00, seperti juga hari-hari sebelumnya, diisi dengan workshop. Kali ini tentang story telling. Pada prakteknya, story telling ini tidak diset agar peserta bicara, tetapi juga lebih pada mempraktekan alur ceritanya. Sesi workshop selalu saja seru. Membuat kita tersenyum dan tertawa.

Workshop Story Telling

Panitia Juga Ikut Main

Setelah forum selesai, sebagian berfoto ria. Saya sih mengutamakan mengambil reimbursement tiket pesawat di panitia, baru setelah itu juga ikut foto-foto.

Keluar dari ruangan, terlihat mahasiswa-mahasiswa Universitas Rajamangala yang memang biasa terlihat bermain futsal setiap sore di luar venue. Endy langsung berinisiatif mengajak tanding. Empat lawan empat, tantang kami kepada mereka. Siapa yang mencetak 2 gol terlebih dahulu, maka dia akan menang. Yang kalah, push up 5 kali.

Maka, kami pun bermain. Dengan serangan dan operan cepat (halah), kami berhasil mencetak satu gol duluan lewat kaki Endy kalo ga salah. Tapi agaknya ga bertahan lama, karena setelah itu dibalas. Dan, setelah dibalas, mereka menambah gol. Kami akhirnya kebagian push up saja. Sayang, pertandingan tidak terekam di kamera karena ada kesalahan teknis (kamera si Erik udah terlalu penuh memory-nya). Akhirnya gambar yang diambil setelah acara saja.

Berpose setelah kalah… hhe

Setelah selesai bermain futsal, kami janjian lagi untuk ketemu sekitar jam18.30 untuk melanjutkan ngebolang. Masing-masing pulang dulu ke hostel untuk beres-beres badan.

Nah, setelah sampai hostel ini saya panik! Sungguh panik! (Sungguh lebay!,hhe) Karena kamera tidak ada. Biasanya saya gantungkan di leher, atau dimasukkan di tas. Tapi tidak ada. Dicek berkali-kali tidak ada. Saya kirim sms ke Ika (yang hostelnya dekat dengan venue) untuk tolong cek di venue apakah kamera saya tertinggal atau tidak.

Belum ada balasan, maka saya bersiap lebih cepat (ga mandi dulu), untuk menuju venue, mengecek keberadaan kamera adik saya. Ternyata ruangan sudah ditutup. Saya memperhatikan sekeliling arena futsal tempat kami bermain tadi sore juga ternyata tidak ada. Yah, akhirnya saya pasrah, mau diapain lagi. Hilang, ya harus ganti. Kalau ada, Alhamdulillah. Tapi sekarang pun ga bisa apa-apa. Paling menunggu sampai besok. Yang jelas, jangan mengganggu acara ngebolang temen-temen.

Singkat cerita, kami (saya, Erik, Edwin, Endy, Ika) menuju MBK, sebuah kawasan belanja yang satu jalan dengan Siam, tepat bersebelahan dengan National Stadium Skytrain Stasiun. Setelah menukar uang, kemudian dilanjutkan membeli kaos lagi karena beberapa desainnya lucu, bagus juga untuk oleh-oleh ke sepupu yang masih imut-imut. Kami juga sempat melihat-lihat kripik durian, walaupun belum sempat beli di hari itu.

Selepas dari MBK, kami foto-foto. Di pinggir jalan, tepat di pelataran MBK. Tapi fotonya belum bisa diupload nih, pake kamera Erik soalnya (harap sabar menanti ya…). Pokoknya foto-fotonya asyik deh, karena pake tripod, berlima gitu, dengan pose-pose yang aneh, dan alai. Haha

Nah, di MBK ini, Ika dikontak sama temennya yang Thailand yang kenal dengannya di Pakistan. Intinya, kita diajak ke Nana Square. Walah, tempat inceran si Erik itu mah. Langsung aja serbu. Lagi pula sekalian coba Skytrain.

Perjalanan di Skytrain menuju Nana juga agak-agak rempong, disebabkan kita sempat kelewatan satu stasiun yang seharusnya kita transit di situ. Namun, dengan bantuan dari orang-orang yang kita tanyai, petunjuk bisa didapat. Sampailah di Nana.

Di daerah Nana ini kita mulai dengan makan, ditemani seorang Thailand (lupa namanya…), di rumah makan Pakistani gitu. Hebatnya, kita makan dengan menu yang super hemat kayaknya. Jadi ada paket untuk bertiga, tapi kita pesennya untuk berlima. Abis itu, di dalem rumah makannya, kita pada ribut, ketawa-tawa. Mungkin pelayannya pada aneh juga kali ngeliatin kita. Apalagi, si Endy sempet bilang dengan nada tinggi, “The basic idea we eat here is: to take picture only!” Woot! Langsung saya n temen-temen ketawa, pelayannya kan ngerti Bahasa Inggris kali, Ndi…. Haha…

Abis makan, kita jalan-jalan menghabiskan jalan Nana yang na na na na dah pokoknya, hehe. Ngobrol-ngobrol ga jelas. Terus jalan juga ke daerah konsentrasi orang Arab gitu di sana. Membuat keributan dengan ngerekam video yang ga jelas, joget-joget smash, dan sebagainya deh. Semua barang bukti ada di kamera Erik.

Setelah jalan dari ujung ke ujung. Kita putuskan untuk pulang. Jam sekitar pukul 12.00 juga, lewat saya kira. Namun untuk pulang, kami berlima tidak satu taksi, dibagi dua karena Rawal, dari Pakistan bertemu kami di Nana dan dia ikut pulang ke dekat hostel Endy, Edwin, dan Ika. So, saya dengan Erik pulang dengan taksi berdua.

Lanjuuut… <– klik ini untuk kisah lanjutannya