Let’s Rock Bangkok! #5

by Fadhli

Sampai di hari keempat forum, waktu terasa begitu cepat, apalagi kesempatan tidur menjadi sedikit gara-gara sering ngebolang sampe malem. Baru aja tidur, et dah, udah harus bangun lagi. Tapi ga apa, saya setuju dengan temen saya yang bilang, kalau cuma mau tidur, ga usah pergi jauh-jauh ke negeri orang, di kamar sendiri aja sono tidur. Hhe…

Rangkaian presentasi terakhir disajikan teman-teman Bangladesh, Nepal, Pakistan, dan Jepang. Setelah itu, dilanjutkan dengan diskusi untuk memberikan saran, rekomendasi, dan opini berkaitan dengan rangkaian acara yang telah digelar sampai 4 hari ini. Di sesi terakhir ini juga, masing-masing negara memberikan kenang-kenangan kepada panitia. Setelah itu diadakan semacam acara farewell, yang intinya makan-makan dan foto-foto sambil berbincang dengan para peserta, dan panitia sebelum berpisah.

Delegasi Indonesia, kasih kenang2an bwt panitia

Di hari terakhir ini, setidaknya saya mendapat 3 kebahagiaan.

Pertama, kamera adik saya berhasil ditemukan. Pagi-pagi sebelum acara dimulai, saya datang ke venue dan menanyakan kepada panitia. Panitia bilang dia akan tanya ke petugas ruangannya apakah menemukan kamera atau tidak. Tapi panitia itu bilang, saya harus bersiap dengan kemungkinan terburuk, karena apapun bisa terjadi. Ah, saya langsung pesimis. Tapi saya berusaha tetap santai. Hingga beberapa menit sebelum acara dimulai, panitia itu melambai-lambaikan tangannya ke arah saya dari arah bilik petugas ruangan. Saya hampiri ke sana, dan dia katakan “Kamu sungguh beruntung,” sambil menyerahkan kamera kepunyaan adik saya… Fiuuh… Alhamdulillah

Kedua, saya sudah menyelesaikan mengirim file poster dan deskripsinya kepada teman dari Nepal yang akan mengajukannya untuk dimuat di majalah Mountain Carrier, yang diterbitkan asosiasi pegunungan gitu. Hehe… lumayan kalau jadi diterbitkan.

Ketiga, saya berhasil membuat Madu, peserta dari Nepal terpingkal-pingkal. Pasalnya di sesi terakhir sebelum farewell, yaitu saat foto-foto, dia kehilangan kamera yang dia bawa. Masalahnya, itu bukan kamera miliknya. Dia sampai berbicara berkali-kali di depan forum dengan nada agak tinggi agar yang menemukan segera mengembalikan. Beruntung dia mendapatkannya kembali. Nah, saat di farewell saya menyatakan bahwa saya juga sempat kehilangan kamera. Dan sama dengan dia, kamera yang sempat hilang itu bukan punya saya, tapi punya adik saya. Saya bilang ke dia, seandainya kamera adik saya itu hilang, saya bisa mati (sambil memperagakan menggorok leher saya). Melihat peragaan saya menggorok leher, dia tiba-tiba tertawa terpingkal-pingkal. Saya awalnya bingung, di Indonesia jokes seperti itu biasa, tapi ternyata sangat lucu bagi dia. Maka untuk menghargai, saya mengajak Erik juga, untuk ikut tertawa terpingkal-pingkal. Aya-aya wae.

Dari semua kebahagiaan itu, tentu tidak bisa melepaskan kesedihan berpisah dengan forum beserta peserta dan panitianya. Hari-hari kemarin sungguh penuh dengan pengalaman. Dan banyak yang baru saya rasakan pertama kali. Semua tidak pernah saya duga akan bermula dari sini. Ya saya katakan bermula, karena saya mengharap ini bukan yang terakhir kalau Allah izinkan.

Panitia Memberikan Kata-Kata Terakhir Sebelum Forum Ditutup...

Erik, Miss Libby, Endy, Saya

Di hari penutupan forum ini, malam hari kami kembali berjalan. Kali ini tanpa Edwin dan Ika, karena mereka harus pulang duluan. Saya, Erik, Endy, dan Somphet (Laos) akhirnya berjalan ke Khaosan Road, sempat bertemu dengan Yola, Resty, Nonoy, dan Marmon juga di sana. Setelah itu dilanjutkan kembali ke Silom, tempat yang sudah dikunjungi di hari kedua untuk menemani Endy membeli kaos dan sarung lagi. Selain itu juga kita sempat mencicipi keripik durian yang rasanya kayaknya asin. Sampai sekitar pukul 1 malam, baru kami kembali ke hostel. Dan, besoknya saya akan pulang.

(klik di sini untuk baca seri terakhir…🙂 <– klik ini untuk kisah lanjutannya

Endy, Somphet (Laos), Yola, Erik, Resty, di Khaosan