(Ga Jadi) Iri

by Fadhli

Sebenarnya, pernah terbetik rasa iri kepada kawan-kawan kuliah dulu, yang mereka itu adalah jagoan bagi saya, dan membuat saya kadang minder (walaupun disimpan dalam hati). Di antara mereka ada yang berangkat ke luar kota membawa nama almamater dalam berbagai kompetisi. Di antara mereka berhasil memajangkan poster penelitiannya dan menggaet berbagai medali. Di antara mereka ada yang inovasinya menjadi finalis kontes sana-kontes itu. Berbeda dengan saya yang mencoba berprestasi di bidang akademis misalnya, tidak ada yang terlalu menarik untuk dibicarakan. Dibicarakan deng, bahkan oleh dosen, gara-gara jarang masuk pada beberapa matakuliah, sampai dikenal oleh orang di ruang sekretariat departemen.

Mungkin seharusnya saya tidak mengatakan ini, tapi tak apalah untuk sekedar menyatakan kronologisnya, bukan sekedar mengambil bagian kesuksesan orang lain atau mengklaimnya. Saya sungguh senang (walaupun kadang terpaksa sih kalo lagi hectic, apalagi yang permintaannya belibet dan dadakan, hehe, piss bro!😀 ) untuk membantu membuat desain-desain bagi kawan-kawan yang mengikuti lomba-lomba itu, dari mulai awal kuliah, terlebih sewaktu tingkat 2 dan 3, saat tinggal di asrama beasiswa. Bukan karena setelah membantu desain itu saya ditraktir dan bisa menikmati makanan gratis di seputaran rumah makan Jalan Margonda. Tapi ya memang hobi saja, selain dengan itu saya bisa menyisipkan kontribusi kecil saya di berbagai lomba yang mereka ikuti, yang terlalu berat bagi “otak” saya untuk sekedar mengikutinya, apalagi menjuarainya.

Waktu rasa “iri” itu hinggap, biasanya dalam bentuk perkataan, “Ya Allah, saya bisanya gini doang, bikin desain doang, sementara mereka berangkat dan menjuarai berbagai lomba.” Walaupun setelah itu selalu saya tepis, terlebih kalau melihat wajah kawan-kawan saya yang menginspirasi dan sangat tulus itu, “Ga apa-apa ya Allah, mudah-mudahan jadi tabungan saya saja, lagipula saya sadar usaha saya ga sekuat mereka, menangkan mereka ya Allah, mudah-mudahan desain saya ini ada manfaatnya.

Berkali-kali ikut lomba desain dan tidak kunjung memenanginya (hanya sekali saya menang, itu di tingkat fakultas), dari bibir sempat terucap, “Ya Allah, saya ini kerjaannya tukang mendesain kerjaan temen, sudah banyak yang dipakai, tapi kalo urusan untuk saya sendiri koq ga ada yang menang-menang juga.” Tapi kembali saya tepis, “Kalo rezeki mah ga ke mana deh, terserah Allah saja saya mah…

Saya mulai pahami bahwa saya sedang diajari-Nya hidup dengan nilai profetik: kebermanfaatan. Bukankah itu yang membuat kemanusiaan kita berharga. Bukankah itu yang diajari dalam pembinaan kepemimpinan yang pernah saya terima. Bahwa memberi manfaat (dengan tulus) akan kembali menjadi manfaat adalah benar adanya. Hanya masalah waktu. Dan saya yakin itu.

Belakangan saya mendapatkannya, dalam bentuk dan arah yang tidak pernah saya duga sebelumnya…