Kebutuhan dan Tanggung Jawab (Laki-Laki)

by Fadhli

Kehidupan memang sepertinya menuntut dan menuntun pada tanggung jawab dan tentu saja kebutuhan, yang akan semakin meningkat di setiap fase kehidupan.

Waktu kecil kita sama sekali tidak tahu bagaimana cara memenuhi kebutuhan hidup. Tiba-tiba saja semua kebutuhan sudah terpenuhi. Kita belum ada tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan hidup kita sendiri. Semua menjadi tanggung jawab orang tua kita.

Agak dewasa dan menginjak sekolah, kita masih juga disuplai untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tapi kehidupan saat itu sudah memberi gambaran bagaimana kebutuhan kita itu dipenuhi dengan rasa tanggung jawab orang tua kepada kita. Kita tahu bagaimana orang tua mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dengan tidak mudah, walaupun kadang kita masih saja terlalu manja untuk meminta segala yang kita inginkan.

Beranjak makin dewasa, saat kuliah, banyak di antara mahasiswa yang mulai beraktualisasi dalam memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, tidak lagi membebankannya pada tanggung jawab orang tua secara utuh, apalagi biaya kuliah yang semakin mahal. Ada yang meraihnya melalui beasiswa-beasiswa, mencari tambahan dari mengajar, ikut lomba, menjadi freelancer, dan lain sebagainya. Saya merasakan juga fase ini.

Setelah lulus, sudah pasti ada rasa ingin mandiri sepenuhnya, tidak lagi ingin disuplai kebutuhan kita oleh orang yang selama ini memberi. Bekerja, dalam berbagai bentuknya adalah pilihan untuk itu. Bahkan beberapa sudah bisa berkontribusi balik untuk keluarganya di rumah, minimal tidak menjadi beban.

Sampai di sini, agaknya saya juga sudah mencoba. Dan untuk tahap ini, nampaknya tidak terlalu bermasalah (beberapa hal kadang masih disuplai, seperti pulsa, karena Ibu jualan pulsa, hhe, tapi kadang diganti koq). Saya tidak pusing dengan keinginan, untuk diri saya sendiri. Tiap bulan, paling hanya makan, transport, bayar kost, hiburan (nonton bioskop) sedikit, beli buku bila mampu…. Kalau pengen yang laen ada uangnya, ya beli. Kalo ga, ya puasa.

Saya ga ambil pusing dengan keinginan sekunder, seperti membeli gadget, pakaian dan pernak-perniknya, dan lain-lainnya, yang tanpa itu sebenarnya masih bisa beraktivitas dengan baik. Sejujurnya, saya ga pernah beli handphone sendiri. Semua dikasih dari orang tua, beberapa kali hilang, dibeliin lagi. Tapi (dibeliin) itu waktu kuliah. Selepas lulus, ga pernah beli, tentu saja berarti hpnya yang lama itu, dan yang biasa saja.

Awal tahun ini memang saya beli polo-shirt dan tas (yang saya selalu banggakan, halah). Tapi sudah entah berapa tahun sebelumnya saya ga beli barang-barang itu. Di lemari, pakaian yang ada (termasuk jaket-jaket keren, yang suka disombongkan) itu warisan dari Abang dan Ayah bertahun lalu, bahkan ada yang punya Adek saya pinjem (tanpa batas waktu, :D).

Saya menjalani hidup terasa enjoy-enjoy aja, namun bukan berarti tanpa perjuangan dan sekedar leha-leha. Saya cuma ga mau dibuat pusing. Ga ada uang, ya ga usah beli macem-macem.

Tapi sebaliknya, kalo ada uang, saya belum terbiasa nabung banyak. Semuanya mengalir gitu saja. Cenderung impas. Dan saya, insya Allah, ga cukup khawatir kalo untuk diri sendiri. Kalaupun misalnya, ga ada lagi uang, ya tinggal puasa. Ga ada yang rugi dengan kekurangan finansial saya itu, selama saya ga merepotkan orang kan dan mereka ga tahu kan?? Paling saya aja yang ngerasain keleyengan lemes…😀

Sampailah di hari-hari belakangan ini, di saat saya sudah banyak melihat kawan dekat dan saudara beranjak menikah, saya jadi berpikir, “Mungkin beberapa lama lagi hidup kita tidak akan bisa seenjoy ini…

Awalnya saya juga merencanakan tidak akan ambil pusing. Bahkan sempat terpikir, nanti saya akan bilang begini saja pada calon keluarga wanita (kalau ada yang mau itu juga,😀 ), “Neng kalo mau sama Abang sih, ya siap2 aja hidupnya easy going aja ya, paling gini-gini aja Neng, kalo ada uang kita jalan Neng…., kalo ga ada…., Abang tetep disayang ya Neng. Kalo Neng ga mau kayak gitu, ya berarti memang Neng belom beruntung jadi jodoh buat Abang…” (yeee… minta ditampol sodara sekampung calonnya nih gw, udah pas-pasan, sombong, hidup pula, wkwk).

Tapi saya juga berpikir, kalau saya jadi mengutarakan kalimat itu nanti, kesannya, dan rasa-rasanya saya egois, ga mau ambil tanggung jawab. Dan saya flashback ke belakang, liat waktu kita diurus orang tua dulu, kayaknya mereka bisa-bisa aja memenuhi kebutuhan kita, dengan perjuangan dan perantauan sana-sini. Itu artinya, mereka berani mengambil tanggung jawabnya untuk memenuhi kebutuhan tanggungannya.

Sampai di sini saya kadang suka kepikiran itu. Haha, lebay. Gimana nanti kalo hidup saya masih aja se-easy going sekarang. Kasian calon anak istri ntar. Kadang-kadang kalo berpikir tentang ini, konsep rezeki yang sudah ditentukan dari Allah, sejujurnya kadang ditutupi rasionalisasi tanggung jawab dan kebutuhan yang pasti meningkat itu. Apa sanggup apa enggak?

Kalau sekedar untuk kebutuhan diri sendiri, saya masih meyakini dan merasakan ga pernah kekurangan yang parah-parah amat tanpa suplai orang tua. Nah nanti, kalo udah nambah bawaan, jadi agak “ragu” apa bisa apa nggak.

Jadilah plesetan saya ke temen-temen, saat kemaren ditanya tentang targetan hidup, saya jawab aja, “Kalau ditanya tentang yang satu itu, ya memang salah satu cita-cita saya menikah…. jika mampu… (ke’ naek haji aja ke’nya beratnya). ga tau itu rukun agama yang keberapa…” sambil cekikikan.

Padahal di dalam hati dan otak kudunya mikiiiir…. mikiir woi… mikiiir…😀