(Jangan) Pura-Pura Lupa

by Fadhli

Mungkin pernah di antara kita merasakan sesuatu hal yang agak sulit, kemudian ketika masa itu sudah dilalui, kita lupa pernah merasakan hal itu. Selanjutnya kadang menjadi tidak berempati kepada orang yang saat ini sedang merasakannya.

Sore ini saya berjalan pulang menuju salah satu stasiun kereta api di Jakarta Pusat. Di trotoar, dari kejauhan saya melihat beberapa relawan dari lembaga internasional yang menawarkan program kepedulian kepada orang-orang yang melaluinya di sekitar trotoar itu. Saya tahu itu adalah lembaga dalam naungan organisasi yang sama dengan tempat saya magang saat ini, tapi beda agency.

Saya pun hendak melalui relawan itu, dan sesuai dengan firasat saya, seorang relawan mendekati. Dia bertanya sedikit yang tujuannya untuk memulai penjelasan program dan mengajak berdonasi. Belum dimulai penjelasan, saat itu saya langsung menjawab, “Kebetulan saya lagi butuh waktu cepet Mas untuk pulang… maaf ya…” Dengan agak megaloman juga, saya katakan, “Kebetulan kita di satu tempat kerjaan nih Mas” supaya dikira sudah paham dengan program yang ditawarkan oleh relawan itu. Padahal nyatanya, saya hanya berstatus intern dan belum tentu tahu karena beda agency kita.

Oia, saat itu saya masih menggunakan earphone untuk mendengarkan siaran radio dari ponsel saya. Maka saya berjalan melalui relawan itu. Beberapa meter di depannya, ternyata masih ada relawan dari organisasi yang sama. Entah dia melihat saya sebelumnya sudah tidak berhasil diberikan informasi oleh relawan pertama atau tidak, nyatanya dia juga mencegat saya.

Sambil berkenalan, dia menanyakan nama dan kerjaan saya. Bodohnya lagi, saya mengulangi kelakuan yang sama: megaloman, bahkan kali ini menunjukkan ID Card tempat magang (yang bagi saya emang membanggakan sih, hhe). Ga sopannya yang lain, saya masih menggunakan earphone di telinga yang kanan, sementara sang relawan sedang menjelaskan program. Hingga dia bertanya, “Mas, maaf, lagi denger musik, atau telepon??” Saya pun menjawab, “Ooh, enggak, enggak apa Mbak, lanjut aja…” Ga beberapa lama saya lepas itu earphone.

Dengan relawan yang kedua ini, saya (dengan agak terpaksa) mendengarkan penjelasannya dengan seksama, walaupun dengan sikap yang saya sadari kurang simpatik, dan pada akhirnya belum bisa memenuhi harapan relawan (berdonasi melalui kartu kredit, maklum ga punya, padahal tadi udah nunjukin ID Card yang berlabel lembaga internasional gitu, dia kira saya mungkin sudah berpenghasilan segantang, hhe, emang sombong tanda kehancuran sih… atau tong kosong nyaring bunyinya😀 )

Setelah selesai berinteraksi dengan relawan itu, saya berpikir bahwa saya dulu pernah melakukan hal yang serupa dengan yang mereka lakukan kali ini, beberapa kali. Dan hal yang seperti itu memang sulit. Asal tahu saja, dulu saya pernah membagi-bagikan kalender dengan gratis dari salah satu LSM, itu saja masih ada orang-orang yang kurang simpatik, dan menolak. Saya pernah ditolak mewawancara atau meminta kuisioner dari orang di daerah yang ga saya kenal di luar pulau. Pernah juga disuruh melapor ke RT/RW setempat saat melakukan survei karena hampir ga dipercaya sebagai mahasiswa.

Mungkin wajar kalau kita menolak karena relawan yang mencegat berasal dari organisasi yang ga jelas dan mungkin fiktif, tapi rasanya kalau dari lembaga yang terpercaya, kita harus belajar menghargai. Selain karena memang program yang ditawarkanya, bagi saya karena pernah juga merasakan bagaimana tidak mudahnya mempersuasi masyarakat dengan cara face to face seperti itu. Dan seharusnya saya jangan pura-pura lupa tentang itu. Kalaupun menolak, menolaklah dengan cara simpatik.