Hujan-Hujanan…

by Fadhli

Sabtu (14/5) kemaren, sebetulnya saya sudah berniat pulang ke Bandung sejak siang. Sebelum pulang, saya mengambil barang yang akan dibawa ke Bandung di rumah Ua’, dan setelahnya juga ke kampus untuk unduh film gratis dan bertemu dengan kawan.

Na’asnya, sepulang dari kampus, kunci kostan kamar tempat biasa saya simpen barang, termasuk barang yang akan dibawa ke bandung, koq ga ada. Kuncinya itu biasanya disimpan di kamar tempat saya nonton TV (banyak banget kaya’nya kamarnya, wkwk… padahal kamar orang lain itu).

Ternyata setelah diselidiki, kunci kamar itu dibawa teman saya (junior, pemilik kamar sah), karena dia mengira saya sudah pulang ke Bandung dari tadi. Beuuh, dan dia baru akan pulang ke kostan lagi abis maghrib-an katanya. Dasar junior, menyusahkan saja, wkwkwk…

Ya gimana lagi, terpaksalah menunggu dia balik. Kebetulan emang biasanya hari sabtu jadwal futsal. Jadi, sambil nunggu, sekalian main. Udah disamperin temen pula untuk main. Akhirnya ganti kostum lah. Cuaca sangat adem, pas untuk bermain di lapangan outdoor.

Baru bermain setengah jam, dan sedang menang-menangnya (biasalah, top skorer, wkwk), tiba-tiba hujan rintik turun. Permainan dilanjutkan. Tapi hujan pun melanjutkan dan meningkatkan intensitasnya.

Tapi semua sepakat akan menantang hujan saat itu. Lapangan menjadi licin. Sepatu pun dibuka. Permainan melambat. Pemain diperbanyak karena tidak mungkin bisa membawa bola lama-lama kalau licin, jadi mengandalkan permainan oper-oper cepat dan pendek saja. Orang-orang terjatuh saat membawa bola, atau sengaja menjatuhkan diri untuk merebut bola, dan itu menimbulkan kegelian. Tawa riang membahana.

Petir sekali-kali menyambar, kadang kami menunduk. Sebentar meneduh. Tapi kemudian berlanjut lagi. Kepalang basah. Kalah menang sudah tidak penting lagi. Yang penting keceriaan di balik gelapnya awan dan kerasnya guntur.

Sebelum saat ini, mungkin 3 bulan sebelumnya sempat bermain hujan-hujanan. Tapi waktu itu tanpa guntur, dan tidak seceria ini.

Lama sebelumnya lagi, sudah lupa kapan. Mungkin zaman SMP, ketika perumahan kami masih memiliki lapangan sepakbola yang luas. Yang jika hujan besar pasti menimbulkan genangan, dan kami tetap bermain. Yang saya ingat waktu kecil, di dekat sebuah genangan di area tengah lapangan, saya melepaskan sebuah tendangan ke arah gawang lawan, yang mereka berbadan besar dan berusia dewasa di saat tubuh saya masih kecil, dan masuk ke gawang tanpa dapat diantisipasi kiper lawan. Saya tidak menyangka itu berbuah gol. Bahkan saat itu saya tidak merayakannya, hanya nyeletuk kepada teman, “Eh, emang gol ya??”

Kembali ke hujan-hujanan kemarin, selepas permainan langsung mandi dan membasuh badan full… Dilanjutkan dengan membalurkan minyak kayu putih ke beberapa bagian badan. Nikmat sekali terasa. Setelah hujan-hujanan itu makan menjadi nikmat karena lapar. Tidur pun nyenyak karena lelah. Bagaimanapun, mantap lah, diibaratkan ponsel, diabisin dulu energinya, abis itu dicharge lagi sampe full…