Jalan Ksatria

by Fadhli

Tulisan ini hanya ingin menyampaikan ringkasan dan sedikit hasil interpretasi saya terhadap film “The Warrior’s Way”, yang sepekan lalu saya tonton di sebuah bioskop. Mungkin bukan ini makna yang diinginkan dari pembuat cerita, tapi ini apa yang dapat saya tangkap dari film itu.

Kisahnya berkisar tentang seorang ksatria dari daerah Asia Timur (mungkin Jepang atau China). Dia adalah jago pedang terhebat dari sebuah klan. Klan tersebut memiliki musuh dari klan lain, yang mereka berjanji akan saling membunuh hingga generasi dari salah satu klan itu ada yang habis. Ksatria terhebat itu akhirnya hampir membunuh semua generasi dari klan musuhnya, dan hanya menyisakan satu bayi.

Namun dalam film digambarkan, si ksatria ini tidak jadi membunuh bayi generasi terakhir klan musuh itu karena si bayi tertawa ketika melihat di pipi si ksatria ada daun yang menempel, dan ketika daunnya dibersihkan, si bayi akan merengek lagi.

Ksatria pun menyelamatkan bayi itu dan pergi jauh dari daerah asalnya. Dalam pengembaraan dengan bayi itu, Ksatria tadi justru dikejar oleh klannya sendiri, karena dianggap tidak memenuhi janji untuk menghabisi klan musuh.

Untuk menghindari kejaran berkelanjutan, ia pun menyegel pedangnya. Karena jika segelnya dibuka, ksatria-ksatria lain dari klannya bisa mendengar suara kesedihan dari jiwa-jiwa yang dibunuh pedang itu, dan dengan itu mereka bisa melacak keberadaannya. Karena suara-suara dari pedangnya itulah, si Ksatria dijuluki “Seruling Kesedihan.”

Tiba di tempat barunya, kawasan Barat (Eropa), si Ksatria dan bayinya memulai kehidupan baru dan menjadi tukang laundry. Ia juga menanam bunga. Bahkan, belajar mendengarkan musik. Juga belajar bersikap romantis. Itu semua tidak ditemukannya dalam pendidikan menuju ksatria. Hidupnya dulu dididik keras oleh gurunya. Dia hanya ditemani oleh seekor anjing, dan saat anjingnya sudah dewasa dan berteman lama dengannya, sang guru meminta ksatria untuk membunuhnya dengan alasan bahwa seorang ksatria tidak boleh cengeng, karena suatu saat kita harus memaksakan diri meninggalkan apa yang kita cintai ~eyyaaa. Dan sang ksatria pun melakukannya. Sudah lama hatinya keras, seperti balok, hhe…

Kembali ke komunitas barunya, ternyata komunitas itu juga punya musuh. Musuh mereka adalah gerombolan bandit yang meminta upeti dan melakukan kekerasan terhadap mereka. Bandit itu pula yang membunuh satu keluarga, dan hanya tertinggal satu perempuan (yang kemudian menjadi tandem Ksatria itu).

Karena sudah menjadi bagian komunitas itu, dan jiwa pejuangnya masih ada, sang Ksatria akhirnya memutuskan membantu komunitas ini. Bahkan dia sekarang memberi pedang, dan mengajarkan pedang “untuk membunuh” kepada perempuan yang keluarganya menjadi korban kekerasan bandit dulu. Padahal, dulu dia memberi pedang kepada wanita itu hanya “untuk melindungi diri dan bukan untuk membunuh”.

Singkat cerita, pertempuran akan berlangsung, ksatria dan komunitas barunya pun bersiasat. Dan dimulailah perang. Si Ksatria pun membuka segel pedang lamanya untuk ikut bertempur. Dan, setelah pedang dibuka, musuh si Ksatria bukan hanya gerombolan bandit, tetapi juga klannya sendiri yang sudah lama mencari keberadaannya melalui nyanyian dari pedangnya.

Kondisi menjadi agak ricuh, karena pertempuran seakan menjadi segitiga, antara ksatria featuring komunitasnya, bandit, dan klannya sendiri yang menurutsertakan guru si ksatria. Walaupun dalam cerita, urutannya harus menjadi tertib bagi si lakon. Pertama, akhirnya kepala bandit yang harus dihadapi. Untuk ini, dia tidak menghabisinya, teman perempuannya yang diberi kesempatan untuk “membalas” kelakuan si bandit kepada keluarganya dulu.

Setelah kepala bandit, maka Gurunya sendiri yang harus dihadapi satu lawan satu oleh Ksatria. Saat pertempuran, teringatlah kembali indoktrinasi dari gurunya dulu yang mengesankan bahwa ksatria tidak boleh punya hati, ksatria harus selalu berkeinginan membunuh, ksatria tidak boleh tegaan, dan lain sebagainya.

Sang ksatria terus digoda dan disindir oleh gurunya, seakan-akan si ksatria sekarang membela seorang wanita yang keluarganya dihabisi oleh bandit, padahal sang ksatria sudah melakukan hal yang sama terhadap klan lain. Begitulah godaan manusia untuk tetap teguh, dicoba dengan kenangan-kenangan masa lalu.

Namun, justru indoktrinasi itu seakan berbalik bagi si Guru. Benar, bahwa ksatria harus terus membunuh, ksatria ga boleh tega walaupun terhadap orang yang sangat dicintainya, dan itu dilakukan kepada gurunya sekarang. Sang Ksatria akhirnya membunuh sang guru.

Sampai di situ cerita utamanya, sang ksatria pun setelah itu meninggalkan komunitas yang baru saja menjadi tempat hidup barunya. Namun kali ini dia pergi tanpa bayi, bayi itu dititipkan kepada wanita sahabatnya. Dia kembali mengembara. Dan dalam pengembaraannya masih selalu saja diikuti oleh orang-orang dari klannya untuk menuntutnya melakukan janjinya dulu menumpas habis klan lawan.

Pelajaran yang saya tangkap, selain dari sisi geografis dan demografis film yang berusaha mengelaborasi kehidupan Barat dan Timur, juga adalah tantangan untuk berubah. Setidaknya ada beberapa hal yang harus dimiliki untuk melakukan perubahan yang esensial bagi ksatria:

1. Belajar, tentu saja, karena apa yang bisa diubah dari diri kita kalau tidak mau mengambil pelajaran?? Ksatria belajar lebih dari sekedar membunuh, karena dunia ini punya sisi lain, ada cinta dan kasih sayang dari sekedar kemampuan menaklukkan musuh, ada toleransi dari sekedar mempertahankan gengsi pribadi, ada sensitifitas terhadap kemanusiaan, dan lain-lain.

2. Bertanggung jawab dan mengambil risiko. Sang ksatria sadar betul dengan jalan yang dipilihnya dan konsekuensinya. Dia harus siap ditangkap dan dibunuh oleh klannya sendiri. Dia harus meninggalkan pedang dan gelar ksatrianya saat bergabung dengan komunitas barunya. Itu semua dia ambil dan laksanakan. Adapun lari dari klannya bukanlah sebuah pelarian diri dari risikonya, tetapi bersikap realistis dalam mencapai tujuannya.

3. Konsisten. Godaan dan sindiran bahkan dari gurunya sendiri pada akhirnya harus dilawan. Ini agaknya langkah yang terberat. Karena biasanya menghadirkan kenangan akan masa lalu dan terganjal balas budi. Dan semacamnya-semacamnya. Namun ksatria sejati harus tetap mengambil langkah jelas dari pikirannya yang jernih.

Begitulah kira-kira. Mohon maklum kalo ngelantur, hehehe…