Kerja Tergesa-Gesa

by Fadhli

Saya selalu kurang nyaman kalau bekerja dalam kondisi tergesa-gesa dan rusuh, padahal sebenarnya masih cukup waktu mengerjakannya dengan tenang. Kurang tahu kenapa dengan yang suka kerja tergesa, mungkin biar kelihatan sedang sibuk, atau ya memang berbeda pola kerjanya. Ya, ga apa-apa juga sih, pilihan masing-masing. Kalau saya sih pake prinsip Bang Haji Rhoma aja, “Santai biar otot tidak tegang, biar saraf tidak kejang….” Hehehe…

Tergesa-gesa itu, selain jadi ga bisa ngurusin facebook dan twitter (ini mah senengnya saya aja, wkwk), juga menyebabkan pikiran kita menyempit, yang kata SP Reid itu dinamakan berpikir konvergen. Biasanya orang yang tergesa memang fokus dengan apa yang harus dia kerjakan dengan segera. Di sisi lain, dia seakan “menutup” pikirannya dari hal lain, misalnya dari kreatifitas mengerjakan sesuatu itu dengan cara lain yang kadang bisa lebih mudah, atau bisa jadi melupakan hal-hal lain di sekitar pekerjaan itu, padahal hal itu masih berkaitan dengan pekerjaannya.

Mungkin pernah saat bekerja dengan rusuh kita fokus dengan satu hal, dan melupakan hal-hal kecil lain. Dan ketika merasa sudah selesai dengan ketergesaan, kita teringat dengan satu hal kecil yang belum dikerjakan, dan itu juga tidak kalah vitalnya.

Jadi, dua kerugian yang dialami pikiran kita kalau bekerja tergesa: kreatifitas dan sistematik. Padahal kalau dikerjakan dengan lebih santai, kita bisa memastikan langkah demi langkah yang telah diambil dengan lebih jernih, kemudian mengaitkan langkah yang satu dengan langkah yang lain apakah sudah cocok, dan bisa mengerjakannya dengan yakin, juga tanpa menutup peluang mencari cara yang berbeda-beda untuk menyelesaikannya dengan lebih efisien dan efektif.

Jadi, niatnya bekerja cepat-cepat itu biasanya memang supaya menyingkat waktu dalam menghasilkan sesuatu, padahal itu tidak selalu. Oh ya, bekerja dengan tergesa juga biasanya disebabkan (atau menyebabkan ya??) perasasan khawatir pekerjaan tidak selesai. Maka, keputusan-keputusan singkat sering diambil. Ini masih tidak terlalu bermasalah asal keputusannya benar.

Di sisi lain, ketakutan tidak bisa menyelesaikan pekerjaan bisa menimbulkan kebohongan di depan atasan. Jadi paranoid berkata benar, dan selalu menyatakan sesuatu yang menyenangkan kepada bos di balik ketergesaannya seakan pekerjaan baik-baik saja dan tanpa masalah. Jadi paranoid bertanya kepada atasan kalau memang ada yang perlu dipertanyakan.

Bekerja dengan tergesa atau santai mungkin adalah karakter, yang penting sih pekerjaan selesai dengan benar dan tepat. Kalau bisa lebih santai, saya pilih bekerja dengan santai, kecuali kalau kondisi sudah sangat mepet kali ya??