Bela Diri Nanggung…

by Fadhli

Belakangan ini saya menonton beberapa film aksi, dan itu emang salah satu tipe film kesukaan selain yang berbau perang, intelijen, atau dinamika/realita sosial. Yang terakhir adalah Yamakasi 1 dan 2, yang isinya tentang orang-orang yang ahli loncat-meloncat dari satu bangunan ke bangunan lain, dicampur dengan kemampuan beladiri yang mereka punya, menjadikan mereka terlihat hebat di film itu. Sebelumnya adalah The Warrior’s Way, tentang seorang ksatria pedang. Yang keren juga adalah Karate Kid 2, Jackie Chan.

Melihat aksi-aksi itu sebenarnya pengen bisa ngikutin mereka (kayak bocah banget ya… wkwk), badannya atletis, jago beladiri, lincah dan selalu siap-sedia di manapun berada. Melihat film itu saya jadi mengingat beberapa beladiri yang pernah saya ikutin, dan semuanya nanggung! Ga ada yang beres. Gimana mau jadi jagoan coba?? Hhe…

1. Waktu SD, ikut karate, seinget saya, kelas 4 SD sudah pegang sabuk coklat (beberapa strip lagi menuju hitam). Tapi sekarang saya sadar, waktu dulu mungkin cuma sebagai ekstrakulikuler dan gaya aja kali, karena pada prakteknya jarang digunakan, ditampol sedikit aja saya masih nangis, dimarahin dikit sama ortu juga nangis, hhe… Saya pernah dipuji Sensei karena tendangan kaki kanan saya termasuk yang bagus. Latihan waktu itu sudah sampai kuat diinjak perut oleh Sensei. Juga pernah bergabung dengan Jambore se-Kabupaten/kota kayaknya yang di acara itu mata kami ditutup malam-malam dan becek-becekan, ditetesi lilin, dan sebagainya. Latihan rutin waktu itu setiap jumat malam, dan minggu pagi, kadang ditambah minggu sore di pusat pendidikan perbekalan dan angkutan TNI AD di Cimahi.

2. Waktu SMP, saya ikut beladiri yang namanya cukup aneh, Tawo Po Liong Netral. Saya tertarik karena mendengar kisah hebat guru-gurunya yang masih muda, konon kebal dan bisa menggunakan tenaga dalam. Saya pernah melihat teman saya yang berdarah, kemudian dengan diusap oleh salah seorang guru, bisa kering itu darah. Di beladiri ini kayaknya saya sampai sabuk hijau deh, selangkah lagi untuk diisi (tenaga dalam). Saat itu latihan sudah sampai mengalirkan tenaga dalam. Dada kuat dihantam bata merah, bahkan batanya yang pecah. Perut kuat dipukul dan diinjak. Kalo senjata, sudah lumayan mahir menggunakan double-stick, seenggaknya gaya muter-muterin kayak jet-li. Tapi kalau ditakut-takutin sama hantu, ciut. Keluar malem sendiri masih ngeri. Kalo ada jurit malem kenaikan tingkat berharap ga dapet jatah. Pendekar apaan tuh, penakut. Wkwk

Tapi akhirnya saya tidak melanjutkan, karena khawatir dengan metodenya yang ghaib-ghaib itu, takut kenapa-kenapa. Lagipula saya pernah melihat mereka menggunakan mantera-mantera. Ah, jadi ga sesuai dengan kaidah agama yang saya ketahui. Setelah ada ruqyah, saya mencoba ruqyah mandiri pake kaset waktu kuliah, dengan niat menghapus kali aja masih ada yang tersisa dari ilmu-ilmu itu yang harus dikeluarin… hehe…

3. Waktu SMA ga ikut apa-apa, walaupun sempat tertarik ikut Tifan, beladiri asal Mongol. Waktu itu karena ada teman di rohis yang ikutan dan agak tertarik, tapi ga sampe ikut.

4. Saya memulai beladiri yang berbeda waktu kuliah, tingkat 2-3: Tae Kwon Do. Di sini saya sampe sabuk hijau. Yang lebih banyak dilatih adalah kaki dan tentu saja fisik. Saya menikmati lebih di latihan fisiknya sebenarnya. Agar kuat stamina. Selain itu, Tae Kwon Do enak karena gerakan mengandalkan kaki. Kalau mau latih tanding kadang melihat cuplikan-cuplikan di You Tube untuk ngikutin gerakannya. Tapi saya belum cukup berani untuk ikut kejuaraan, walaupun ditawarkan, berhubung kalau ikut saya akan berada di kelas fly yang itu orangnya pada lincah-lincah, dan pasti banyak pesertanya. Keburu capek. Hehe… (alasan! padahal mah takut, wkwk)

Kapan lagi ya bisa ikut?? Cukup susah emang cari waktunya… Tapi saya berharap bisa ikut lagi… Karena kecenderungan temen-temen lain yang saya liat, setelah lulus (mohon maaf) semakin lama koq semakin gemuk?? Hhe…