Berdamai dengan Masa Lalu

by Fadhli

Judul di atas cuma biar keren aja, hehe, padahal isinya seperti biasa, cuma tulisan selintas, sekali duduk.

Sejak saya menyelesaikan kontrak sebagai anak magang di salah satu lembaga awal Juni kemarin (nanti saya tulis pengalaman2 menarik di sana, insya Allah), tentu saya ga masuk kantor lagi. Saya baru akan melanjutkan kerja pertengahan Juli nanti, insya Allah.

Dalam waktu lowong itu saya berusaha mengisinya dengan apapun lah, yang penting ga bosen. Prioritasnya adalah nyiapin buat ngurus2 beasiswa. Di antaranya latian TOEFL ampe mual, sakit mata, sakit pinggang.

Setelah TOEFL selesai, kan nunggu hasilnya, itu juga bikin bosen. Saya pulang lah ke Bandung. Nah, di bumi saya lahir inilah saya kepikiran sama temen-temen SMP dan SMA. Siapa tau di antara mereka masih ada yang punya utang, hehe, bukan, bukan koq…

Emang terbersit aja niat buat silaturahim ke mereka, siapa tau menambah rezeki (walaupun sumpah, saya ga bermaksud menawarkan MLM ato asuransi!) dan memperpanjang usia (catat: memperpanjang… bukan mempertua!).

Tapi gimana caranya ya?? Membaca saja saya sulit… Lho?? Maksudnya nomor kontak mereka saja saya tidak punya, email juga ga ada, maklum lah zaman SMP, SMA dulu kan jarang pake email. Zaman dulu masih pake surat yang dikirim merpati kayaknya, (maksudnya, merpati oranye, alias pak pos, hehe).

Tapi zaman makin canggih, kata Bapak Febe (ikut2an “kata Bapak Tebe”, maksudnya FB), kan jejaring sosial bisa menghubungkan orang-orang, atau manfaatkan twittah, skaip, atau mai spek (alai banget sih, ngejanya salah pula,  maksudnya Twitter, Skype, atau MySpace, kalo Friendster mah kayaknya udah pada expired ya?? haha).

Maka saya carilah mereka, kebanyakan lewat FB, dan beberapa ketemu. Say Hello dikit, nanya mereka masih kenal apa ga via message dengan harapan supaya diapprove.

Dalam menjalin kembali komunikasi itu banyak dari mereka yang berkomentar, “Ka mana wae maneh??” alias “Arep neng ndi bae koe…?” artinya: “Ke mana aja kamu??” Ya, ya, ya, saya tau maksud pertanyaan itu, saya sudah hilang kontak dengan kalian lama. Dengan temen SMP mungkin mendekati 9 tahun. Dengan temen SMA sudah 5 tahun lebih.

Lalu teringat dengan kelakuan saya selama ini. Setiap lulus dari satu jenjang, saya hampir pasti melupakannya, ibarat pepatah, “kacang lepas dari kulitnya, dimakan aja sambil nonton bola, wkwk (malah becanda). Serius ah, pepatah aslinya, “kacang lupa pada kulitnya.” Udah SMP, lupa temen SD. Naek SMA, lupa temen SMP. Udah kuliah, ditambah jarak yang makin jauh, lupa temen SMA. Semoga aja abis lulus kuliah ini (yang baru setaun) saya ga lepas kontak dengan temen-temen kuliah, dan saya ga mau kayak gitu.

Indikasi itupun bisa diliat di tulisan-tulisan di blog ini yang sifatnya cerita masa lalu, pasti kesannya “saya”sentris banget, sedikit sekali tokoh-tokoh kehidupan masa lalu saya. Aduh, maafkan saya teman-teman (itupun kalau kalian masih menganggap saya sebagai teman.. ~halah, lebai!~).

Bahkan, saya sudah lupa pada beberapa kejadian yang itu masih diingat oleh temen-temen saya, ketika mereka bertanya kepada saya, “Masih inget kejadian ini ga?” “Masih inget kamu pernah ketabrak becak ga” “Masih inget ga?? Jawab Rudolfo, jawaaab!” *lebai abis ala telenovela*

Jadi apa maksud judul tulisan ini “Berdamai dengan Masa Lalu”?? Damai artinya juga bermaafan. Nah, melalui mimbar yang berbahagia ini, saya ucapkan mohon maaf apabila saya sudah lama ga kontak dengan kalian, mudah2an jalinan tali kasih ini (kyk nama acara reality show ya, hehe) bisa kembali dihubungkan.

Saya senang, sungguh senang, bisa berjumpa lagi dengan temen-temen, walaupun di dunia maya dulu untuk sementara…

Ok, kapan-kapan kita berjumpa lagi, di jam dan acara yang kita buat sendiri lah semacam kopi darat, mudah-mudahan kesuksesan dan keberkahan menyertai kita semua. Sukses di darat, laut, dan udara, bahagia, dunia dan akherat… Salam perjuangan…😀