(Ga Sekedar) Jumpa Penulis Buku 9 Summers 10 Autumns

by Fadhli

Hari ini saya cukup senang karena bisa mendapat inspirasi di acara bedah buku bersama Mas Iwan Setyawan, penulis buku 9 Summers 10 Autumns. Acara ini saya ikuti di sebuah toko buku di salah satu pusat perbelanjaan Kota Depok. Bukan karena nama penulisnya sama kayak nama panggilan Bapak saya, tapi ya memang karena ingin hadir.

Sampul 9 Summers 10 Autumns

Buku yang baru diterbitkan beberapa bulan itu, sudah mencapai cetak ulang yang ke-6 kalinya sampai saat saya menulis ini. Juga sudah pernah dibahas oleh Andy F. Noya dalam acara bincang-bincang inspiratifnya: KickAndy!

Saya pertama kali melihat buku itu dipajang di etalase toko buku, dan sebelumnya tidak tahu bahwa itu buku yang sudah terkenal. Seperti biasa kalau mata saya tertarik melihat satu buku, maka tangan saya memegangnya, membaca apa yang bisa dibaca di sampul depan dan belakangnya, dan tentu melihat harganya.

Saat pertama kali melihat itu, saya sebenarnya sudah merasa tertarik karena isinya lebih kurang punya sensasi seperti Edensor-nya Andrea Hirata yang membuat saya kepengen melanjutkan sekolah (dan jalan-jalan) ke luar negeri. Tapi entah kenapa saya bilang, “Sudah lah nanti saja.”

Saya akhirnya membeli buku itu setelah seorang senior menyebut nama penulisnya saat kami sedang makan siang bersama di kantin kampus. Saat nama penulisnya disebut, senior itu tidak menjelaskan lebih, sementara pikiran saya langsung kembali ke toko buku ketika melihat nama yang disebut (Iwan Setyawan) tertulis di sampul 9 Summers 10 Autumns. Entah itu “Iwan” yang disebut oleh senior saya atau bukan, saat namanya disebut saya langsung bilang lagi, “Saya beli aja deh buku yang kemaren diliat.

Hampir dua pekan setelah saya beli bukunya, saya mendapat informasi akan diadakan bedah buku dan book signing oleh penulisnya di toko buku yang sama dengan tempat saya membelinya. Dan pada hari Minggu, 3 Juli, saya pun menghadirinya.

Pas saya liat Mas Iwan, kesan pertamnya, “Lho, pendek tho orangnya…??” Tapi itu ga terlalu penting, karena acara pun akan segera dimulai. Saya bersiap lah mendengarkan paparannya. Dan ternyata yang menjadi moderatornya juga Boim Lebon, yang bersama Hilman pada zaman saya bocah menulis Lupus, juga menulis buku-buku kocak yang beberapa sudah saya lahap, juga salah seorang produser di salah satu TV swasta. Tapi karena ini sesinya Mas Iwan, kita kesampingkan dulu lah Bang Boim… Sorry ya Bang Boim… Hehe

Untuk permulaan, Mas Iwan menampilkan slideshow “Melancholy Batu, Malang” tempat di mana dia lahir dan “Melancholy New York” tempat di mana 10 tahun terakhir dia bekerja. Nah, saat menampilkan itu posisi laptopnya tepat berada di samping kanan kursi saya. Dan, Mas Iwan sendiri yang mengoperasikan laptopnya. Artinya, dia duduk tepat di sebelah kanan saya.

Kesempatan itu saya gunakan untuk mengajaknya berbincang. Saya tertarik dengan lagu pengiring slide “Melancholy New York” nya, maka saya tanya, “Lagu apa ini, Mas??” Ternyata dengan wajah antusias beliau menjawab, “Ini lagunya Kanye West” (saat itu saya ga terlalu nangkep, karena baru tau juga ada penyanyi itu, hhe). “New York banget nih suasana lagunya, beda ama yang tadi untuk mengiringi kondisi Batu, Malang,” tambahnya. Saya hanya menimpali, “Ia Mas, energik banget.

Setelah itu beliau kembali ke posisi depan menghadap penonton dan memberikan kisah-kisahnya.

Mau tau kisah lengkapnya?? Ya baca lah bukunya… Saya sendiri membacanya kurang dari sehari, itupun sebagiannya bergantian dengan adik saya ketika menunggu pemeriksaan mata saya di rumah sakit.

Satu hal yang paling saya tangkap dari beberapa hal penting lain dalam bedah buku itu adalah, “Bermimpi kecil pun kalau kita upayakan dengan serius dan sepenuh hati, maka hasilnya akan hadir, bahkan bonusnya bisa hal-hal yang lebih besar dari apa yang kita impikan.”

Flashback kata Mas Iwan, bahwa mimpinya sebagai anak sopir adalah sekedar ingin memiliki kamar sendiri untuk privasi belajar, setidaknya ingin merasakan mengunci sendiri kamarnya. Dia sebelumnya ga pernah berpikir bisa ke luar negeri, membangun karir hebat, dan segudang mimpi dahsyat lain. Hanya ingin sebuah kamar.

Tapi hasil kerja keras dan dukungan keluarganya lebih dari itu, ia bisa membuat saudari-saudarinya bukan hanya memiliki kamar sendiri, tapi membantu membangunkan rumah mereka dan memberikan kamar untuk keponakan-keponakannya.

Mas Iwan yang bahkan ke Bogor pun tidak tahu bagaimana caranya di awal untuk kuliah, demi mimpi kecilnya itu akhirnya sampai juga ke New York tanpa pernah diimpikan sebelumnya, dan sampai pula ke belahan negara dan benua lain.

Cita-citanya membayar hutang-hutang uang orang tuanya ke orang lain bukan sekedar dibayar lunas, tapi sekaligus membangun kost-kostan sebagai antisipasi finansial masa tua orang tuanya.

Keinginannya menjadi hansip waktu kecil dan karena itu ditertawakan orang, membawanya menjadi salah satu Direktur di Nielsen.

Berbeda dengan saya, yang keberatan mimpi, tapi lemah di aksi. Mimpi ini, itu, tapi usahanya pas-pasan.

Satu hal lagi adalah jangan minder menghadapi kehidupan yang penuh tantangan. Tantang diri sendiri, maka itu yang akan menghidupkan konsistensi kita untuk belajar cepat dan lebih. Mas Iwan yang mengaku bahasa Inggrisnya ga jago-jago amat waktu ke New York (mirip lah sama saya yang cengo’ selama 2 minggu awal magang di kantor bernuansa internasional, hehe, ngaku2), tapi ga mau kalah oleh keminderannya, maka dengan upayanya dia meningkatkan kapasitas dirinya.

Sekali lagi, ini sisi perspektif yang unik, berpikir kontras dari kebanyakan, ketika buku-buku lain “menjual” mimpi-mimpi besar, tapi Mas Iwan menekankan yang penting kesepenuh-hatian, karena dengan itu, walaupun mimpi kita kecil (tetapi harus bermanfaat), bonus-bonus besar yang tidak kita duga pun bisa hadir. Kesepenuh-hatian (cinta) itulah yang akan membuat kita bertahan hidup dan berusaha, apapun kondisinya, walaupun mimpi itu misalkan tidak pula hadir.

Mas Iwan mengutip ungkapan Dostoevsky, “When there is LOVE, you can LIVE even without happiness.”

Saya pulang hari ini dengan membawa tanda tangan Mas Iwan di buku dengan pesan, “Berlayar. Terus Berlayar.” Ditambah lagi dengan judul lagu “Lost in the World” (Kanye West feat Bon Iver), yang dia beri tahukan pada saya.

Dan lebih penting dari itu, mengisi bahan bakar perahu saya untuk terus berlayar. Dalam bahasa lain, Buya Muh. Natsir pernah mengatakan, “jan baranti tangan mandayung, nanti hanyuik terbawa aruih” Jangan berhenti tangan mendayung, nanti malah kamu yang hanyut terbawa arus.