Magang di Lembaga Internasional

by Fadhli

Kali ini saya ingin berbagi tentang pengalaman magang saya di salah satu lembaga internasional yang bikin saya banyak belajar beberapa hal. Ini adalah salah satu lembaga yang berfokus pada pencegahan HIV secara komprehensif, walaupun sifatnya lebih pada koordinasi, pendampingan, dan dukungan kepada lembaga-lembaga yang ada di Indonesia, baik yang didirikan oleh pemerintah ataupun komunitas (LSM), juga dalam tingkat kebijakan. Namanya sengaja ga saya sebutkan ya… Gpp kan? Clue-nya adalah salah satu joint programme-nya PBB lah…😀

Mendaftar

Saya mendapatkan informasi tentang kesempatan ini di pertengahan November 2010 dari milis fakultas. Wah, saya tertarik, karena saya pikir ini kesempatan untuk menambah pengalaman dan nilai tambah untuk aplikasi beasiswa ke luar negeri (sampai saya menulis ini, saya masih sedang berusaha apply2 beasiswa).

Tahap pertama adalah seleksi berkas yang dikirim melalui email. Waktu itu yang mereka minta adalah daftar riwayat hidup, contoh tulisan yang pernah saya bikin dalam bahasa Inggris, dan surat pernyataan (motivasi) ingin bergabung.

Setelah semua itu siap, saya tambahkan lah beberapa dokumen pendukung yang kira-kira bisa menjadi nilai tambah seperti desain-desain media komunikasi yang pernah saya bikin dan contoh presentasi. Abis itu?? Ya dikirim lah…

Tapi saya ingin mengatakan di sini, bahwa pada tahap ini saya lagi-lagi harus berterima kasih kepada berbagai pihak.

  1. Bang Refi Kunaefi yang sudah lebih dulu go abroad baik tempat kerjanya yang emang pernah di luar negeri dan emang perusahaannya juga adalah multi-national company. Dulu saya minta contoh CVnya untuk mengetahui gimana sih CV yang efektif (ni kalo dia baca pasti terbang idungnya, wkwk). Tentu ga saya salin bulat-bulat, karena orangnya juga jelas beda, hehe… Maksudnya, saya mengikuti sebagian besar urutannya aja, tapi formatnya saya bikin ala saya aja yang suka simpel (padahal males bikin tabel-tabel, hehe)
  2. Nor Rofika Hidayah, yang urusannya Bahasa Inggris deh kalo sama bocah yang satu ini. Saya minta tolong direview surat motivasi saya yang sudah saya draft. Sebenernya sih bagus-bagus aja draftnya, bagus untuk ga dibaca karena bikin puyeng kali, hehehe… Oleh karenanya saya minta direview biar bagus beneran. Eh, suatu hari di kantor emang pernah dibilang, bahasa Inggrismu bagus Zul kalo nulis… Wkwk, belum tau aja mereka gimana awalnya perjuangan saya yang bersimbah luka (apaan sih ini??)
  3. Nah, terkait contoh tulisan yang pernah saya bikin, ini alhamdulillah banget karena saat itu saya baru saya menyelesaikan tulisan sekitar 13 halaman yang diminta oleh temen-temen Salam UI X3 bertema Islam dan kesehatan dalam Bahasa Inggris untuk menjadi bagian dalam Book of International Muslim’s Affairs-nya mereka. Sebenernya agak kurang yakin dengan keakuratan Bahasa Inggrisnya, tapi karena waktu mepet, bikin kepepet, daripada ga sempet, ya sudah dilampirkan aja. Untuk hal ini, saya berterima kasih kepada Nanda Fauziyana yang telah menghubungi saya untuk menulis, walaupun awalnya hampir saja putus asa sebelum memulai karena kemampuan bahasa saya yang masih cengo’ waktu itu (sekarang juga sebenernya, wkwk)

Wawancara Pertama dan Tes Tulis

Hasil pengumuman kelulusan berkas saya ketahui via email tertanggal 2 Desember 2010. Wah, antara senang dan sedih. Lho kenapa sedih? Karena tahapan berikutnya adalah wawancara tanggal 7 Desember 2010. Ngomong apa coba nanti? Tapi ya gapapa lah, masa’ karena gitu doang takut (cieeh), yang penting kan dicoba. If you never try, you will never know dong… (padahal ini lirik lagu, coba tebak lagu apa?? Hehe)

Akhirnya saya berangkat. Terima kasih untuk Waway yang ngasih tau rutenya. Oh ia, waktu itu juga hari libur, jadi jalanan Jakarta relatif sepi. Meluncur ke TKP naek kereta dan lanjut busway, saya tiba di gedung megah di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat. Impressed karena gedung megah?? Oh tentu tidak, biasa aja (dengan gaya jumaya, hehehe), karena sebelumnya sudah sering keluar masuk ke beberapa gedung juga di daerah Sudirman. Ngapain? Dagang jamu… Wkwk… Ga, tapi karena dulu sempat beraktivitas menjadi corporate fundraiser untuk sebuah lembaga charity yang kerjaannya banyak ketemu dengan orang-orang di gedung-gedung kayak gitu.

Setelah melewati security gate awal, saya sempetin dulu masuk ke toilet sebelum naek lift ke lantai yang tempat tes. Tiba-tiba sakit perut soalnya. Setelah beres dan lega, baru meluncur ke TKP. Ternyata, saya juga ketemu Waway disana, juga ada Ani, ada Tari. Weh, semua anak dari fakultas yang sama nih kayaknya?? Hehehe. Tapi ga usah ceritain apa yang saya obrolin dengan mereka ya… Karena emang ga ngobrol, orang mau test juga… wkwk…

Nah, tibalah saya diwawancara. Waktu itu 2 orang staf lokal yang mewawancarai. Saya sudah cukup rileks di awal, kayak ga ada beban aja di pundak saya, karena emang tas saya ditaro di bawah kursi, masa’ wawancara masih gendong tas di pundak.

Eh, tapi mungkin karena saking rileksnya, saya bilang gini waktu ceritain latar belakang hidup saya… “I was born in Bandung, Central Java, and then…”  Tiba-tiba aja dipotong, “Bandung, Central Java??”… Jleg, saya langsung sadar, o’on banget sih, segera setelah sadar, saya langsung bilang, “Oh, oh, I’m sorry, I mean West Java, I’m sorry, I’m a bit nervous…” Si pewawancara senyum-senyum, dan mencoba menenangkan saya, “Take it easy, take it easy.” Untung setelah itu saya ga bilang, “Ada break, ada kitkat” Hahaha

Intinya ketika wawancara lumayan lebih tenang dibanding yang saya duga, mungkin karena saya sudah berlatih gumam-guman sendiri sebelum masuk ruangan. Tapi saya langsung agak pesimis karena ada hal yang menurut saya itu menjadi nilai negatif fatal walaupun sepele: Bandung saya bilang Central Java.

Selesai wawancara, naek ke ruangan lain untuk tes tulis. Tes tulis terdiri dari 2 bagian. Yang pertama menerjemahkan undangan dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris (atau sebaliknya ya? agak lupa). Untuk yang ini saya kerjain sedetail-detailnya, mulai dari kop suratnya di bagian paling atas sampe info kontaknya di bawah.

Tes tulis yang kedua adalah mengomentari artikel. “Ah, bagus ni artikelnya.” Gampang kan ngomentarin?? Tapi masalahnya bukan kayak gitu yang dimaksud. Ini harus diketik dan menggunakan bahasa Inggris dengan Completed Spelling (maksudnya Ejaan Yang Disempurnakan, EYD, maksa ya gue??). Untuk ini saya menggunakan teknis KISS! Dicium layar komputernya gitu?? Bukan! KISS itu singkatan dari Keep It Short and Simple. Ga perlu panjang yang penting tepat pada sasaran, akurat, tegas dan cerdas. Bagus kan jargon acara berita TV dibanding “Terlebai Mengabarkan”? hehe, no offense… Padahal saya sudah lieur mau nulis apalagi waktu itu.

Selesai tahap seleksi ini, saya sih tetep cuma inget satu hal walaupun yang lainnya udah agak pede, yaitu Bandung yang Central Java. Terngiang-ngiang terus tuh, pengen ketawa.

Wawancara Kedua

Saat itu saya sedang ngurus pembuatan paspor di Kantor Imigrasi Kota Depok di pertengahan Desember 2010, dan telepon berdering. Suara dari seberang memanggil saya untuk hadir di wawancara tahap akhir. Saya kembali ke gedung yang sama.

Di wawancara kedua ini saya diwawancara oleh Bos Divisi Operational yang membawahi SDM. Beliau ekspatriat. Pertama kali saya disuruh nebak dia berasal dari daerah mana?? Dia bikin joke waktu itu bahwa berasal dari Bandung, dan namanya Asep. Hehe… Ya jelas ga percaya, tapi emang namanya mirip2 gitu sama Asep.

Sumpah, pertama kali ngobrol lama dengan ekspat, loss beberapa kalimat dan pemahaman sehingga beberapa kali bilang “I’m sorry” untuk meminta pertanyaan diulang. Walaupun bukan orang Amerika atau Eropa, tapi orang ini sudah sedari dulu berbicara Bahasa Inggris. Tapi ga masalah, nekat aja jawab sebisanya. Saya rileks sebenarnya, cuma agak cengo’ tetep.

Abis diwawancara inilah saya dikenalin ke Pimpinan tertingginya di Kantor itu. Nah, yang ini native asli, Inggris adalah bahasa ibunya. Udah, cepet dah tuh ngomongnya. Saya sih ga banyak bicara. Yes or No. Nah lucunya dia nanya sesuatu yang saya ga ngerti nanya apa, tapi emang butuh jawab “yes” or “no”, saya jawab “yes” dan mereka ketawa-tiwi. Bingung sayanya kan? Terus gimana?? Ya saya ikut ketawa ajalah, daripada telat… Hahaha, padahal saya ketawa karena ga ngerti, dan menertawakan diri sendiri.

OK, tahap pertama pengalamannya sampai di sini dulu…

Klik di sini untuk lanjuuut ke Kisah Awal masuk kantornya😀