Magang di Lembaga Internasional (Awal Masuk)

by Fadhli

Saya masih inget waktu awal masuk adalah 10 Januari 2011, H-1 sebelum dirgahayu saya yang ke23. Kebiasaan di kantor ini adalah pertemuan semua staf diadakan setiap hari senin untuk membicarakan agenda sepekan lalu dan sepekan yang akan dijalani. Oia, stafnya berjumlah sedikit, sebanyak-banyaknya mungkin 11 orang ya, terdiri dari Country Coordinator, Operational Officer dan team (finance, admin dan HR), M&E Officer, Programme Officer, intern, termasuk driver yang harus tahu jadwal-jadwal kegiatan di luar.

Dari sini saya belajar bahwa untuk rapat itu perlu persiapan karena ia adalah setengah dari pelaksanaan (halah). Agenda pekan lalu dan pekan yang sedang dijalani dibagikan ke semua peserta rapat. Kemudian agenda pekan lalu direview oleh penanggung jawab atau pelaksananya, dan asyiknya ga perlu dan ga dibutuhkan pembicaraan yang panjang dikali lebar sama dengan luas. Cukup jelaskan dengan singkat, to the point, apa hasil agenda itu, dan apa yang harus ditindaklanjuti. Sementara agenda pekan yang sedang berjalan ditentukan mana yang jadi prioritas, mana rapat di luar yang harus dihadiri, dan ditentukan pelaksananya. Selain itu, jika ada info tambahan, biasanya terkait kondisi keamanan atau isu aktual lainnya akan disampaikan. Rapat tidak pernah lebih dari 2 jam, itupun jarang, paling lama mungkin hanya 90 menit. Pembicaraan efektif.

Tapi ya Allah ya Rabbi, itu meeting hari pertama saya ga ngerti apa-apa karena kendala bahasa, juga terminologi HIVnya. Hehehe, ya akhirnya pake jurus ketawa kalo orang pada ketawa, mengangguk pura-pura mengerti, dan senyum-senyum tanda menyetujui. Haiah… Kondisi ini kira-kira berlangsung kira-kira selama dua pekan sampai sebulan awal. Bahkan hanya untuk menyimak pertanyaan dasar saya bingung, padahal si Bos cuma nanya, “How was your meeting??” alias “Gimana rapatnya??” Tapi karena belum penyesuaian, nih telinga saya minta pertanyaan diulang sampai 2 kali.

Yang lucu waktu itu saya dikasih tugas baca. Selesai bacaannya, saya dipanggil ke ruangan Bos. Di ruangan saya ditanya, “How do you find the book??” Saya mengartikannya, “Gimana kamu nemuin bukunya??” Saya jawab begini, “Mas Deni (programme officer) who gave me the book” Bu Bos jawab dengan kata-kata yang terpatah-patah supaya saya mengerti, “No Zul, How – do – you – find – the – book??”Saya tetep keukeuh dengan jawaban yang sama, tapi karena ragu saya menoleh ke Mas Deni, apa maksudnya. Ternyata si Ibu keburu menjelaskan, “I mean, how is the book?? Good, can be understood?? Or how?? Ya, how do you find the book??” Oalaah, hahaha, itu tho maksudnya. Setelah ngerti barulah saya jelaskan bagaimana tanggapan saya terhadap buku itu. Ingat, bedakan “How do you find the book?” dengan “How did you get the book?

Di awal masuk, mekanisme yang agak prosedural tapi juga penting adalah induksi security. Sebelum mendapatkan ID Card yang berfungsi sebagai tanda pengenal dan akses masuk ke pintu kantor, saya harus menyelesaikan 2 modul security guidance (basic & advance) di komputer.

Dalam modul itu dijelaskan panduan keamanan dan mengamankan diri dalam berbagai kondisi, baik normal dan darurat, juga menghadapi ATHG (ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan: PPKN banget sih! :D). Setiap modul akan diakhiri dengan tes untuk mendapatkan sertifikat. Setelah sertifikat didapat, belum juga selesai, karena saya harus mengikuti security, safety, and mental briefing dari unit security dan safety. Setelah itu selesai, barulah kita mendapatkan ID Card dan mengurus finger print. Selain itu, saya juga harus membaca panduan evakuasi dan peta bangunan jika terjadi kondisi yang darurat.

Pelajarannya, kantor ini nampaknya memang serius memperhatikan masalah keselamatan pekerja. Ya wajarlah karena banyak ekspatriat di dalamnya, tetapi menurut saya ga apa-apa begitu, karena harusnya perhatian terhadap kesehatan dan keselematan kerja memang hak pegawai sebagaimana diajarkan di fakultas saya dulu. Hal-hal seperti informasi demonstrasi, tawuran, penutupan jalan, kasus flu burung, kriminalitas, dan bahkan jalan-jalan yang rawan tersebar paku diinformasikan kepada pegawai.

Oia, di belakang ID Card kami juga tercantum nomor kontak focal point security yang bisa kami hubungi jika terjadi sesuatu terkait keamanan dan keselamatan. Terkait ID Card ini, emang cukup bangga juga bisa punya ini (masih saya simpen lho, hehe), dan saya punya cerita. Jadi, mobil yang saya tumpangi pernah distop polisi di Bandung dalam perjalanan pergi dari Jakarta dan ketika kembali dari Jakarta. Saya dituduh ga pakai sabuk pengaman, padahal sudah jelas terpasang melintang di tubuh saya. Entah apa yang membuat polisi-polisi itu menuduh saya, apa karena mereka tersaingi bahwa saya keren?? (hahaha, tidak mungkin…)

Karena saya ga salah dan daripada lama berurusan, saya keluarin lah tuh ID Card gaya-gaya CIA ngeluarin kartu identitasnya sambil bilang, “Dipermudah aja lah Pak, saya dari kantor bla bla bla nih…” Akhirnya kami diberi jalan, walaupun dengan salah satu polisi sempat bersitegang dulu. “Permisi Paak…” Kalau mau ngeledekin mungkin saya udah nyanyi kayak zaman-zaman masih suka demo dulu, “Jalanaan, jalanaan, siapa yang punya?? Bukan Pooliisii, bukan pooliisii” Hehehe.

Ok, kita lanjutkan dengan klik di sini