Magang di Lembaga Internasional (Pengalaman Menarik)

by Fadhli

Saya ceritakan bagian ini berdasarkan motivasi saya bergabung dengan lembaga ini ya. Motivasi saya bergabung antara lain: 1) belajar bekerja di lembaga internasional yang dimenej profesional, 2) meningkatkan keberanian dan kemampuan berbahasa Inggris, 3) berkontribusi berdasarkan skill yang saya punya, 4) dapet pengalaman untuk nilai tambah mengajukan beasiswa ke luar negeri.

Yang pertama, karena saya ingin belajar bagaimana bekerja dalam atmosfir profesional dan internasional. Di sini saya belajar bertemu, ngobrol dengan orang dari beberapa negara. Yang saya ingat pernah ketemu adalah orang-orang dari Kanada (tinggal di Inggris), Afrika Selatan, Bangladesh, Korea, Swedia, India, Prancis, Maroko, Afghanistan, Geneva, Jepang, Colombia. Beruntung sekali mereka pernah ketemu saya (halah, kumat!), maksudnya sebaliknya. Itu dari sisi keragaman negaranya.

Dari sisi profesionalitas kerja, ini adalah tantangan. Pertama ketepatan waktu. Ini agak ga bisa ditoleransi kalau sama Bos. Saya pernah ditinggal hanya karena saat menemani beliau rapat di salah satu komisi pemerintah, saya izin keluar ruangan. Dan karena dia rasa saya terlalu lama keluar, saya ditinggal. Setelah sampai kantor baru dikasih tau, “I couldn’t wait for you Zul…” Kalo saya mau jawabin ngasal, saya plesetin lagu Coldplay aja kali ya “Yeeeee, how long must you wait for me?? In my place, in my place…” wkwkwk. Lanjuut.

Selain ketepatan waktu, adalah persiapan detail. Luar biasa ini, kalau mau ngadain acara kayak seminar sehari aja tuh bisa dimulai sebulan sebelumnya, itu belum termasuk jika analisis ilmiah dan dokumen-dokumen pendukung dihitung. H-7 semua persiapan teknis udah siap semua biar aman. Kerja berdasarkan task list yang terbagi jelas. Follow-up dikontrol, sampai ke detail lembar absensi, folder, dan bahan-bahan buat peserta. Bener-bener deh, pra, acara, dan pasca –acara semuanya harus rapih. Tuntas paripurna.

Yang lainnya adalah bekerja sistem, baik sesama divisi, antar divisi, bahkan antar lembaga lain. Kita diajarkan menjadi orang yang supel, tapi harus bisa melobi, dan berkoordinasi dengan baik. Semua saling bekerja sama dan membantu. Ga ada salah-salahan kalau kerja, kalau ada yang kurang, yang lain segera back-up.

Dalam proses pembelajaran itu, sering kalau Bos merasa puas dengan kerjaan kita, dia bikin pesta kecil-kecilan di kantor. Setelah 2 hari seminar berturut-turut misalnya, Ibu Bos beliin kita pizza, es krim, buah, minuman ringan, kue. Wah, asyik deh pokoknya. Belum lagi nerima SMS, “Zul, great work today, thanks so much” Beuuh… seneng kan kalo digituin.

Nah, selain profesionalitas, saya juga jelas pengen meningkatkan bahasa Inggris saya dong. Sayang sekali kalau kesempatan ketemu banyak ekspatriat tapi ga bisa meningkatkan keberanian, seengaknya kenekatan lah, ngomong pake bahasa Inggris.

Tugas-tugas yang terkait dengan ini biasanya adalah membaca bahan dan dokumen, menerjemahkan dokumen singkat, membuat ringkasan dokumen. Kalau yang kayak gini agak aman, karena pasif. Nah, kalo diminta menjadi penerjemah langsung itu baru agak deg-degan. Biasanya kalau dalam rapat-rapat bersama orang-orang Indonesia yang menggunakan bahasa Indonesia, saya diminta duduk di sebelah Bu Bos, dan jadi penerjemah apa yang sedang orang-orang bicarakan, dan kalau Ibu Bos bicara, kadang saya menerjemahkannya ke Bahasa Indonesia supaya peserta yang lain juga mengerti. Tau sendiri Bahasa Inggris aktif saya agak-agak sundanese gimana gitu, hhe, walaupun saya coba terus untuk tingkatkan.

Nah, tugas saya juga mengonfirmasi kehadiran peserta jika kantor mengadakan acara. Beberapanya ekspatriat. Deg-degan kadang kalau nelepon bule, karena suara telepon kan kadang ga jelas (alasan! Haha). “Good Morning. Is this Mr. X? How are you? I’m Zul, I would like to confirm whether you are coming or no to this meeting? Bla bla bla” Hehe

Yang menarik antara lain:

  1. Diminta jadi penerjemah di workshop yang pesertanya kalangan LSM. Dan pembicara lainnya dari Kementerian dan salah satu Komisi pemerintah. Jadi, Ibu Bos ngomong beberapa kalimat, langsung saya terjemahin. Widih, pengalaman pertama yang bikin saya deg-degan, bahkan saya bilang ke Panitia yang keliatannya jago Bahasa Inggrisnya supaya bantuin saya benerin kalo ada yang salah-salah.
  2. Ada sebuah rapat, Ibu Bos ini kayaknya punya posisi penting juga di rapat itu, jadi duduknya di bagian presidium rapat, di depan. Saya masuk ke ruangan rapat itu dan diminta duduk di samping kiri Ibu Bos, dengan posisi mundur dikit. Jadi, ada di barisan presidium juga dong, cuma emang agak munduran dikit. Abis duduk, saya layangkanlah pandangan ke peserta, dan eh, ada dosen-dosen saya dulu. Saya senyum-senyum aja… Cie, cie, bisa juga ya sekarang ada di depan dosen-dosen, kalo ngajar dulu kan mereka yang di depan saya. Halah, sombong! Astaghfirullah
  3. Suatu hari kami kedatangan Kordinator Global salah satu organisasi, jadi dia ini yang membawahi organisasi ini di tingkat pusat lah gitu. Tujuan kedatangannya salah satunya adalah untuk berdiskusi dengan LSM. Nah, dibutuhkan penerjemah untuk itu. Saat rapat mingguan, dicarilah orang yang akan menjadi penerjemahnya di antara kami. Saya waktu itu udah menundukkan pandangan, biar ga ditunjuk. Alhamdulillah, temen saya yang ditunjuk. Tapi baru aja lega, eh, si Ibu Bos meralat karena ternyata temen saya itu udah di-take sama Ibu Bos untuk ikut satu acara. Akhirnya pandangan tertuju pada saya. Dan, ya gimana lagi, I had to accept that. Hasilnya sih ga bermasalah, saya tetap menjaga ketenangan. Itu sih kuncinya.

Nah, motivasi saya bergabung selanjutnya adalah berkontribusi dengan beberapa keterampilan sederhana yang saya punya. Agak literate dengan komputer, sehingga beberapa staf kalo nanya detail MS Word, Excel, Powerpoint, bagaimana ubah format pdf ke word atau sebaliknya (dengan tidak bermaksud sombong), nanyanya ke saya, walaupun beberapa juga ga bisa saya jawab, tapi sebagian besarnya cukup memberi solusi. Kalau ada seminar (yang terakhir kedatangan tamu dari Geneva), saya lah yang stand by mensetting dan operasikan slide.

Awal-awal diminta untuk mengubah grafik dan di kantor tersebut belum ada aplikasi tercinta yang biasa saya pakai (CorelDRAW dan Photoshop), maka saya berjuang (*lebai) menggunakan hanya aplikasi Paint yang jadul itu, hehe… Tapi lumayan lah hasilnya…

Nah, yang saya cukup senang juga antara lain:

  1. Poster bikinan saya (walaupun idenya dari orang kantor), dibawa ke Bangkok dalam sebuah pertemuan regional, dan kata Bu Bos (dapat laporan dari staf yang berangkat), bahwa orang-orang di pertemuan itu excited juga dengan posternya.
  2. Masih di pertemuan yang sama, delegasi kantor membawa boneka beruang yang dipakein kaos. Nah, desain kaosnya saya yang bikin. Cerita punya cerita, dalam beberapa acara serupa boneka beruang berkaos itu juga dibawa sampai ke Samoa. Hihi
  3. Poster seminar “Healthy Living Healthy Eating” juga disebar di gedung, jadi di lift2 dan di toilet dipajang poster ajakan untuk hadir di acara itu.
  4. Poster yang akan dipajang di seminar “Healthy Living Healthy Eating” sebagai bahan acara juga dipamerin oleh Bu Bos ke orang-orang yang datang ke kantor. “This is just a great poster”, katanya ke salah seorang Profesor dan beberapa koleganya. Padahal saya cuma edit-edit dikit dan tracing dari kartun yang ditemukan di Mbah Gugel.
  5. Saya mendesain kaos untuk acara farewell dan welcoming meeting pimpinan suatu unit kerja bersama. Yang satu akan pindah ke Beijing dari Jakarta, digantikan oleh orang yang datang dari Papua Nugini.
  6. Cover2 CD yang dikompilasi oleh orang kantor, hampir semuanya saya yang diminta desainin, dari awalnya fotokopian menjadi agak berwarna, hhe

Nah, itu 3 motivasi bergabung saya yang kayaknya udah tercapai, dan satu lagi yang sekarang belum tercapai adalah sekolah ke luar negeri atas pengalaman magang di lembaga ini. Mudah2an kesempatannya akan segera menyusul. Mohon doanya…

Kisah ini masih akan berlanjut… Klik di sini…