(Bukan) Resensi Kung Fu Panda 2

by Fadhli

Menonton bioskop tanpa bekas rasanya sayang juga, karena menonton di bioskop itu mengeluarkan uang dan menyita waktu. Sebisa mungkin selesai menonton harus ada pelajaran yang bisa dipetik dan dibagikanlah walaupun sedikit. Itu setidaknya niat saya sampai saat ini. Mudah-mudahan berlanjut.

Tentu saja yang akan dibagikan dalam blog ini bukan keseluruhan cerita, karena itu artinya saya akan merugi. Udahlah saya yang ngeluarin uang, menceritakan ulang pula, enak sekali buat pembaca dan rugi buat saya. Ibarat penelitian, ini seperti mengetik ulang wawancara tanpa bayaran. *Matre! Haha

Maka, judul tulisannya ditambahin “(Bukan)” karena ini memang bukan resensi dan tidak mengikuti kaidah resensi. Ini hanyalah komen yang selintas-lintas ditulis, nama blognya juga kan cuma selintastulis. Hehe…

Langsung ke pembahasan Kung Fu Panda 2. Seperti kebanyakan mayoritas film pendekar lain, maka akhir cerita bisa disimpulkan: mereka akan menang di akhir dengan perjalanan yang dikemas dramatis, heroik, bahkan hampir saja kalah dan mati terlebih dahulu hingga kekuatan yang mengantar kemenangan datang. Tapi dalam Kung Fu Panda, di semua adegan itu, bahkan yang sangat dramatis pun, tetap bisa mengundang tawa.

Satu ungkapan dari Po, si Kung Fu Panda, yang saya catat dalam telepon genggam saat menonton adalah, “Masa lalu tidak menentukan siapa dirimu, tapi menjadi apa yang kita pilih sekarang (itulah dirimu…).” Ungkapan ini diucapkan Po, setelah lama merenung siapa sebenarnya dirinya karena dia sebagai seorang Panda koq memiliki ayah Bebek. Ibarat Jaka Sembung bawa gitar, ga nyambung jreng. (Kalimat terakhir juga ibarat Jaka Sembung makan lanting, ga penting! Haha)

Diskusi tentang masa lalu ini pun pindah dengan salah seorang kawan (via teks telepon genggam) yang justru mengatakan bahwa masa ini bisa jadi adalah akibat aktivitas kita di masa lalu. Nah lho? Gimana dong…

Ya ga apa-apa, ga usah diributkan antar keduanya (padahal saya juga ga tau juga jawaban pastinya, hehe). Yang jelas, kita hidup di masa kini. Masa lalu kalau pun kurang-kurang kita perbaiki sekarang. Dan untuk masa depan, harus kita upayakan perbaikan-perbaikan.

Dalam pemahaman terbalik, masa lalu jangan disesali, ntar kita terperangkap di sana, dan jadilah kita manusia jadul. Raga ada di zaman kiwari, tapi hidup seakan menatap masa lalu mulu.

End.

~ tuh kan bener, ini (Bukan) Resensi.😀