Namaste, Nepal! (Kisah Singkat di Kathmandu)

by Fadhli

Hampir Ga Jadi Jalan

Lanjutan dari kisah Let’s Rock Bangkok ternyata belum berhenti. Setelah poster presentasi saya dimuat di majalah yang berfokus pada isu pegunungan Asia-Pasifik, ternyata organisasi yang menerbitkan majalah yang berpusat di Nepal itu mengundang saya untuk mendaftar menjadi salah satu peserta Forum Pemuda Asia – Pasifik yang akan dihelatnya. Walaupun prioritas peserta diharapkan berasal dari negara pegunungan Hindu-Kush-Himalaya, tetapi mereka menyediakan tempat untuk beberapa peserta dari Asia Tenggara dan Cina.

Singkat cerita, mendaftarlah saya. Dan, secara resmi diumumkan pada tanggal 1 Juli 2011 bahwa saya terpilih menjadi salah satu dari 40 orang yang terpilih dari 1050 lebih pendaftar. Kabar ini saya sampaikan ke Bos di kantor, dan dia mendukung saya sepenuhnya untuk mengambil kesempatan ini dan mengizinkan tidak bekerja di hari ketika acara itu dilangsungkan.

Sebuah penghargaan bagi saya yang sebenarnya anak baru dalam isu lingkungan ini. Di samping itu, ini merupakan kesempatan untuk menjelajah bagian lain dunia secara gratis, karena ongkos penerbangan, hotel dan makan disediakan oleh panitia. Tapi kawan, istilah no free lunch ada benarnya jika diartikan bahwa segala sesuatu membutuhkan pengorbanan, sekalipun gratis secara ekonomis.

Panitia mengabarkan bahwa mereka tidak bisa membelikan langsung tiket saya dari Nepal, jadi saya harus membelinya sendiri dan mereka akan menggantinya disana. Owh, harganya mendekati dua digit dalam juta rupiah. Uang tabungan dan dompet tinggal ratusan ribu, itu adalah sisa-sisa uang magang yang berakhir awal Juni lalu, yang dihabiskan untuk ambil tes TOEFL, menambah salinan asli hasil tesnya, dan tetek bengek lain. Celengan strawberi saya pun kalo dipecahkan hanya puluhan ribu.

Tapi ini tidak boleh berhenti dibiarkan di sini ( beuuuh😀 ). Saya harus berusaha dulu, gimana lah caranya. Maka saya coba hubungi orang Pemerintah Kabupaten daerah saya berasal. Kemudian Pemerintah Propinsi. Kirim email ke media dan badan nasional yang fokus pada perubahan iklim. Dan via teman yang bekerja di lembaga kemanusiaan nasional. Semuanya tidak terlalu berfungsi. Kebanyakan tidak merespon. Saya pun agak susah sebenarnya untuk pro-aktif karena sudah mulai bekerja lagi dan dalam hari-hari itu agenda penuh.

Sampailah di satu hari saya putuskan untuk membatalkan keberangkatan. Saya sms keluarga untuk mengabarkan ini. Sebenarnya mereka menawarkan bantuan. Tapi jangan lah, terlalu merepotkan. Saya yang akan jalan-jalan, koq mereka yang banyak menanggung beban.

Saya pun kembali mengirimkan email kepada Bos untuk mengonfirmasi pembatalan keberangkatan. Sama sekali tanpa niat memelas supaya mereka merasa kasian setelah email itu saya kirimkan.

Beberapa jam berselang, saat Bos tiba di kantor, saya dipanggil ke ruangan bersama dengan Pimpinan Divisi Operasional. Betapa terharunya saya ketika mereka mengizinkan saya menggunakan jasa travel langganan kantor dengan jaminan, yang intinya bisa dibayar belakangan. Akhirnya jalan terbuka. Tinggal cari uang pegangan. Abang saya memberikan bantuan untuk itu.

Berangkaaat!

Transit di Singapura

6 Agustus sore setelah selesai berkemas, saya ditemani Waway yang baik hati, berangkat menuju Stasiun Gambir. Dari Gambir lanjut Bis Damri yang menuju Bandara Soekarno – Hatta. Berhubung bulan Ramadhan, kami sempat berbuka dulu di salah satu rumah makan cepat saji di bandara sebelum akhirnya saya check in.

Naik pesawat Singapore Airlines untuk transit di Singapura, adalah pertama kali setelah saya berusia dewasa menaiki pesawat dengan ruang yang besar, dilengkapi game, dan makanan yang cukup mengenyangkan.

Sampai di Bandara Internasional Changi (Singapura) saya terkesan lagi. Di dalam bandara itu terdapat kolam ikan koi, lounge dengan layar lebar untuk menonton highlight sepakbola Inggris dengan speaker stereo di setiap kursinya, internet gratis, mesin pijat kaki gratis, taman bunga, kursi dengan musik, bahkan playstation 3. Tersedia pula ruang ibadah yang nyaman. Saya yang harus menghabiskan malam di bandara karena perjalanan baru akan dilanjutkan keesokan harinya, merasa nyaman dengan segala fasilitas itu sekalipun mesti tidur di atas kursi bandara yang sangat empuk. Dini hari pun saya tidak kesulitan untuk mencari hidangan sahur, 7 Eleven buka 24 jam.

Pagi hari, saya melanjutkan penerbangan ke Kathmandu dengan maskapai Silk Air, yang masih satu holding dengan Singapore Airlines.

Namaste Nepal!

Perjalanan sekitar 3,5 jam itu akhirnya akan berakhir. Sebelum berakhir, sudah tampak dari jendela suasana pegunungan yang begitu indah. Mendekati Kathmandu, terlihat bangunan-bangunan rumah berwarna-warni yang jarang hanya memiliki 1 tingkat, walaupun luas tanahnya tidak lebar, mereka mendirikan bangunan bersusun ke atas. Itu ciri khas bangunan di sana.

Tiba di Bandara Internasional Tribhuvan Kathmandu, saya mengurus visa on arrival dengan mengisi 1 formulir dan menyerahkan 1 foto ukuran paspor yang sudah disiapkan dari Indonesia, plus uang US$ 25. Di bandara pula, saya menukar uang dollar Amerika menjadi Nepali Rupee yang sudah pasti saya dapat agak kurang sedikit dibanding bila ditukar di luar. Selain itu, uang rupee yang diterima tidak sebagus dollar yang kita tukarkan. Saya lupa nilai pasti jika Rupee Nepal itu dirupiahkan, yang jelas lebih dari seratus, hampir mencapai seratus lima puluh.

Di mobil panitia penjemputan, saya bertemu dengan Tith dari Cambodia, dan tridente dari Bhutan: Jigme, Dorji, dan Netra. Selama perjalanan menuju hotel, kami sudah sedikit-sedikit membandingkan negara masing-masing dengan Nepal berdasarkan penglihatan saat itu. Tidak ada lampu lalu lintas di sana. Karakteristik bangunan, kebersihan, suasana jalan raya juga menjadi perbincangan.

Sampai di Hotel Goodwill, tempat kami akan menginap, kami mendapat jatah satu kamar untuk dua orang dengan tempat tidur terpisah. Tidak ada AC, hanya kipas angin. Bila dirupiahkan, mungkin mencapai dua ratus ribu permalam. Untung kami tidak harus membayar.

Acara

Lima hari dalam workshop (8 – 12 Agustus 2011) yang berisi 40 lebih pemuda dari 17 negara tentu saja menambah pengalaman, teman, dan tentu saja pengetahuan. Juga motivasi untuk berbuat lebih dalam penerapan wawasan itu di kehidupan sehari-hari.

Ada satu orang dari Vietnam yang sangat aktif dan humoris walaupun masih usia kuliah. Satu orang dari Myanmar yang merasa canggung dengan pengalaman pertamanya ke luar negeri. Ada kawan dari Kazakhstan yang sudah memulai mengisi paspor keduanya dengan stempel-stempel dari negara lain. Yang lain berasal dari India, Pakistan, Afghanistan, Filipina, Bhutan, Nepal, dan beberapa yang tidak bisa disebutkan satu-persatu di sini (padahal lupa, hehe)

Pembicara dan keilmuan yang dihadirkan pun menarik dengan berbagai metode. Kuliah, simulasi, diskusi, dan bermain peran silih berganti. Acara sehari-hari cukup padat, mulai pukul 8 dan diakhir pukul 17 waktu setempat, walaupun seringnya lebih lama. Bahkan satu hari terakhir, sebelum kami menghasilkan Deklarasi dan masukan untuk Rio +20, acara harus diakhiri hampir jam 8 malam. Jadilah keluhan di antara peserta biasanya: “Ini terlalu melelahkan,” “Ga ada waktu jalan-jalan”. Hehe, saya sepakat.

Pengalaman lain bagi saya, ini Ramadhan pertama di luar negeri. Walaupun hukumnya boleh berbuka bagi traveler, tapi saya khawatir justru lebih susah menggantinya di saat orang lain nanti berbuka. Maka saya tetapkan berpuasa, walaupun sudah sempat terpikir apa coba aja buka sekali-kali, hehe. Puasa di sini, dimulai dari sahur yang sekitar jam 4 hingga maghrib yang menjelang jam 7 malam.

Cukup berat  memang, mengingat mungkin saya satu-satunya yang berpuasa, apalagi di saat makan siang. Teman-teman bertanya, “Kenapa ga makan??” Saya jelaskan lah ini Ramadhan, wajib hukumnya berpuasa bagi muslim, kecuali mau menggantinya di hari lain, dan saya tidak yakin bisa menggantinya di hari lain. Itu saja. Di antara mereka tentu saja belum mengetahui tata caranya, maka masih saja ada yang menawarkan sekedar minum atau makan snack, dan saya tetap menolak. Dan mereka cukup heran, bagaimana bisa bertahan tanpa makan apapun. Saya bilang, “Tenang, saya akan makan dari malam sampai pagi…” tentu saja dengan nada humor. Hehe

Disangka Hilang

Di tengah padatnya acara, akhirnya peserta dapat satu kesempatan untuk jalan bersama. Kami memutuskan ke daerah Thamel yang ramai dengan pertokoan souvenir khas Nepal dan juga merupakan tempat berkumpulnya backpacker. Kawasan ini dikenal juga dengan nama Freak Street.

Dalam kesempatan itu, peserta yang memutuskan ke Thamel dibagi menjadi dua kelompok, sebut saja kelompok A dan B. Dari awal sebenarnya saya ikut kelompok A. Baik kelompok A dan kelompok B sepakat, bahwa dalam waktu satu jam sejak berpisah untuk berbelanja masing-masing, akan bertemu di titik awal kembali.

Nah, di sinilah kejadian bermula. Ketika saya melihat-lihat dompet untuk oleh-oleh, eh, saya terpisah dengan kelompok A. Malam pun mulai gerimis. Di jalanan pun sudah tidak terlihat orang-orang kelompok A. Saya pun tidak punya nomor kontak mereka, lagipula saya tidak membeli kartu telepon di sana. Saya pun ingat, bahwa kita sepakat kembali di titik awal. Sambil berlari menembus gerimis, saya pun kembali ke titik awal. Walaupun kelompok A belum ada, beruntung ada kelompok B di sana yang sudah bersiap pulang. Saya masih menyempatkan membeli beberapa kartu pos yang penjualnya bisa beberapa bahasa untuk kepentingan dagang, termasuk Melayu. “Boleh, boleh, boleh…” katanya. “Bila hendak balik?” tanyanya dengan maksud menanyakan kapan saya akan pulang ke Indonesia.

Akhirnya saya pulang dengan selamat bersama kelompok B.

Tapi cerita belum selesai. Setelah saya sampai hotel dan beristirahat di kamar. Selidik punya selidik rombongan kelompok A itu masih mencari dan menunggu saya di daerah Thamel. Ini saya ketahui saat saya turun dari kamar untuk makan malam, dan bertemu dengan rombongan kelompok A yang baru tiba di hotel dengan menggerutu dan mengomel-ngomel (sambil bercanda) pada saya. Serik, yang Kazakhstan dan berbadan tinggi besar itu sampai bilang, “I will kick you, Zuuul!” Belum lagi Edge Filipino, Vi dan Priyanka yang India menceritakan betapa khawatirnya mereka terhadap saya. Untung aja waktu itu belum ada lagu Ayu Ting-Ting, kalo ga mereka udah nyanyi, “Ke mana… ke mana… ke mana kuharus mencari ke mana…  si Zul belanja tak tahu rimbanya”. Hahaha. Mereka mengabadikan foto saat menunggu saya di Thamel, dan juga berfoto saat mereka minum minuman ringan sambil bertoss dan bilang, “Ini untuk Zul”. Hehe. Terharu saya. Bahkan kisah ini terdengar oleh salah satu panitia, dan ikut mencandai saya besok paginya.

Tambah satu hari

Tanggal 12 acara selesai. Tanggal 13 pagi kebanyakan orang sudah langsung pulang. Tapi saya pulang tanggal 14, sehingga tanggal 13 saya sisakan waktu sengaja untuk berbelanja. Dari Hotel Goodwill di daerah Patan, saya pindah dengan tas backpacker menuju salah satu hotel di daerah Thamel yang kalau dirupiahkan hanya 60ribu saja permalam. Saya bebas memilih oleh-oleh sendiri. Oia, hari itu pula saya berbuka puasa di Masjid Jami’ Kathmandu dengan saudara muslim, dan sempat mengumandangkan azan Isya di sana.

Esoknya, saya kembali ke Indonesia dengan selamat dengan transit di Singapore hanya 1 jam saja.