Ketika Niat (Baik) Tak Ada Tempat…

by Fadhli

Kita mungkin masih ingat pesan Bang Napi, “Kejahatan bukan hanya timbul jika ada niat dari pelakunya, tapi juga bila ada kesempatan. Waspadalah! Waspadalah! Waspadalah

Saya mau bandingkan ini dengan kisah nyata seseorang, sebut saja Dia. Jadi si Dia ini sedang berjalan di trotoar salah satu jalan protokol di Jakarta. Sementara di pembatas jalan raya ditancapkan banyak banner meriah menyambut SEA Games 2011 dengan slogan, “Jakarta, Siap!“, di trotoar itu si Dia malah menemukan sampah botol air mineral.

Untuk tidak menyebutnya polos, si Dia dengan niat baiknya memungut botol itu dan berencana membuangnya. Dia berjalan untuk menemukan tempat yang pas untuk membuang sampah. Ternyata sampai ujung jalan besar itu tidak ada juga tempat sampah.

“Oh, mungkin di gedung seberang jalan raya ini ada,” pikirnya. Maka ia menyebrang lagi (jalan protokol itu lebar-lebar kan, jadi nambah jauh jalannya). Masuklah si Dia ke pelataran gedung di seberang jalan. Beberapa meter setelah dia menyeberang belum juga ditemukan tempat sampah, sampai ujung yang satu habis.

Oh, mungkin di sebelah gedung ini ada,” pikir si Dia lagi. Benar, di gedung sebelah itu ada, setelah berjalan cukup jauh itu.

Menyadari kepolosannya, akhirnya si Dia menggerutu sendiri, “Jangan-jangan itu botol juga udah dibawa orang entah dari mana dengan niat dibuang, tapi gara-gara capek ga nemu tempat sampah, dia buang. Begitu orang lain nemuin, mau dibuang juga, ga nemu tempat sampah juga, dibuang lagi... Gile, berbuat baik aje susah ya di Jakarta

Si Dia yang tadinya merasa sok jago dan buru-buru menyalahkan orang yang membuang sampah itu jadi berpikir, “Berarti ini bukan cuma kesalahan orang yang buang sampah, tapi juga yang harusnya memfasilitasi itu tapi mengabaikan kewajibannya memfasilitasi, dalam hal ini pemerintah dong sebagai pelayan publik, karena itu  jalan publik, atau setidaknya gedung-gedung mewah itu yang letaknya ada di sepanjang trotoar itu.

Maka si Dia juga jadi berpikir pada kasus lain, kalau orang pada menggerutu di kereta yang penuh sesak dan perjalanannya tertunda, ga cukup bilang kepada mereka, “sabar… sabar… sabar…” sementara pihak kereta api yang harusnya bertanggung jawab, ga memberikan penjelasan apapun kenapa kereta yang sudah mereka bayar tiketnya itu berhenti di tengah jalan, dan tidak pasti berapa lama lagi akan berangkat.

Atau ketika busway di jam penuh orang pulang kerja tidak kunjung datang, sementara calon penumpang tetap saja disuruh antri. Ya, mereka antri sudah, sudah begitu panjang bahkan. Yang antri tuh harusnya buswaynya… Berjejer panjang tuh bus yang banyak di halte, biar penumpang ga nunggu lama.

Pendapat saya, perubahan perilaku yang dituntut dari masyarakat oleh pemerintah, harusnya juga diiringi dengan kemauan pemerintah menyediakan lingkungan (fasilitas) yang mendukung orang tidak susah untuk berperilaku baik. Adil kan??

Mungkin Bang Napi juga harus mengingatkan bahwa seharusnya niat baik juga dikasih kesempatan seluas-luasnya… sediakanlah! sediakanlah! sediakanlah!