My 2011 Journeys of Indonesia – Jogja 2

by Fadhli

Edisi Mewah (2 – 6 Oktober 2011)

Disebut edisi mewah karena pulang dan perginya saja menggunakan maskapai Garuda Indonesia. Kemudian tinggal di Hotel Phoenix, yang cukup mewah buat saya. Tentu saja semua difasilitasi kantor, dan memang dalam rangka dinas.

Kamar

Dan oleh karena dalam rangka dinas, waktu yang bisa dimanfaatkan untuk jalan-jalan hanya setelah sore hari sampai dengan malam. Terima kasih sebesar-besarnya kepada teman saya dan istrinya di Jogja yang telah membawa saya berkeliling. Berikut tempat-tempat yang saya kunjungi kali ini. 

Warung Makan Pak Pele

Warung makan dan lesehan ini terkenal karena katanya artis Taufik Savalas meninggal dunia setelah sempat makan di warung ini. Tentu saja meninggalnya karena sudah takdirnya. Hehe. Letaknya ada di sebelah barat alun-alun utara.

Kami datangi pada malam hari dan memang banyak orang yang makan di sana. Menu yang kami cicipi adalah nasi goreng magelangan, mie godog, dan bakmi jawa.

Warung Makan Pak Pele

Sepeda Warna

Beranjak ke alun-alun selatan, mata saya disuguhi warna-warni dari lampu-lampu yang mengelilingi lingkaran alun-alun itu. Warna-warni itu pun bergerak, karena bersumber dari sepeda yang dihiasi dengan lampu beragam warna.

Dengan membayar 25ribu untuk bertiga, kami pun mencobanya.

Naik Sepeda Hias

Benteng Vredeburg

Benteng ini ada di sebelah ujung Malioboro yang dekat ke arah alun-alun utara, bersebelahan dengan Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949. Sayangnya hari sudah sore, dan gerbang sudah ditutup untuk umum. Yang penting berpose lah ya di depan bentengnya

Benteng Vredeburg

Masjid Gedhe Kauman

Masjid ini yang dulu terkenal dengan perubahan kiblat yang dilakukan oleh KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Letaknya ada di sebelah timur dari alun-alun utara. Saya menyempatkan shalat maghrib (dijama’ dengan Isya) di masjid ini.

Di depan plang Masjid Gedhe Kauman

Kawaii Sushi

Nah, kalau yang ini saya sekalian promosiin usaha temen yang mengantar saya ke sana kemari. Kawaii Sushi namanya, terletak di Pom Bensin Lempuyangan. Saya suka desain ruangan warnanya yang cerah, cocok untuk jiwa muda, buat yang tua juga cocoklah buat menyegarkan usianya yang udah maghrib. Hehe. Makanannya juga enak (apa karena saya dateng dengan bosnya ya dibuat enak? hehe). Yang paling enak adalah, makan gratis!

Bersama Bos Kawaii Sushi

Warung Kopi Joss

Di area Stasiun Tugu banyak terdapat warung-warung kaki lima, dan yang terkenal adalah Kopi Joss ini. Yang dimaksud dengan “joss” katanya adalah suara arang yang dimasukkan ke dalam gelas kopi. Saya sendiri pas memesan ga tau bahwa akan ada arang yang dicelupkan. Jadi deh minum karbon hasil pembakaran arang. Gapapa, sekali-kali. Selain minum kopi berarang itu, kami juga melahap nasi kucing dengan beberapa lauk.

“Joss” suara arang dicelup ke kopi…

Toko Batik Puspa Kencana

Kalau ini untuk membeli oleh-oleh untuk keluarga. Teman saya menyarankan sekali-kali membeli di toko yang bermerk khusus, bukan di tempat yang menjadi distributor seperti Mirota atau beberapa yang lain di daerah Malioboro. “Pilih yang bagus lah buat orang tua,” Saya sih setuju dan nurut saja. Maka kami meluncur ke arah Jalan Gejayan. Setelah selesai membeli ternyata uang di dompet kurang. Maka saya pinjem dulu ke kawan, haha (udah lah ngerepotin, malu-maluin!). Tetapi tenang, setelah pulang langsung saya minta mampir ke ATM dan kontan dibayar.

Kafe Mirota

Bener gak ya nama kafenya? Yang jelas ini juga termasuk tempat makan yang terkenal yang dimiliki oleh pemilik yang sama dengan toko batik Mirota Kawasan Malioboro. Letaknya di Kotabaru. Menu yang kami cicipi nasi kucing dengan berbagai lauk yang gile, murah-murah banget. Makan 15rebu aja bisa kenyang mampus kali. Dan kita coba juga Es Dawet ukuran jumbo. Edaan, bener-bener gelasnya setengah bola futsal kali ada. Sayang, kami ga mengambil gambarnya.

Demikian edisi perjalanan di Jogja kali ini.

Sego Segawe