My 2011 Journeys of Indonesia – Green Canyon

by Fadhli

Green Canyon (29 Oktober 2011)

Kali ini kami akan menjajal body rafting (arung jeram tanpa perahu). Lokasi yang terkenal untuk olahraga sekaligus wisata di Jawa Barat ini sering disebut orang sebagai Green Canyon. Itu bukan nama aslinya, Menurut situs mypangandaran.com, nama itu dipopulerkan oleh seorang warga Perancis pada tahun 1993, kemungkinan besar karena dia membandingkannya dengan Grand Canyon yang penuh dengan dinding berbatu.

Nama aslinya adalah Cukang Taneuh yang berarti jembatan tanah dalam bahasa setempat. Hal itu dikarenakan di atas lembah dan jurang Green Canyon terdapat jembatan dari tanah yang digunakan oleh para petani di sekitar sana untuk menuju kebun mereka.

  Nama Aslinya: Cukang Taneuh

Masih menurut situs yang sama, Green Canyon Indonesia ini terletak di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Ciamis, Jawa Barat. Dari Kota Ciamis sendiri berjarak sekitar 130 km atau jika dari Pangandaran berjarak sekitar 31 km. Di dekat objek wisata ini terdapat objek wisata Batukaras serta Lapangan Terbang Nusawiru.

Saya, Waway, Takim, dan Iril merencanakan keberangkatan dengan mobil pinjaman orang tua dari Bandung supaya lebih hemat. Jadi, setelah beraktivitas di Jakarta, kami meluncur ke Bandung pada hari Jumat. Kecuali Iril yang menyusul sendiri, kami berangkat menuju Bandung dan menyempatkan diri beristirahat terlebih dahulu. Iril akhirnya tiba hampir tengah malam di Bandung. Setelah beristirahat sebentar dan juga mempersiapkan keperluan akhir, kami pun berangkat.

Harap diketahui, yang mengemudi paling lancar adalah Iril. Saya baru selesai belajar. Kadang masih suka mati mesin mobil, akibat canggung memainkan kopling dan gas.

Berangkat tengah malam dengan harapan bisa sampai sekitar 5-6 jam kemudian. nyatanya perjalanan tidak semudah yang dikira. Selain baru pertama kali melalui Jalur Nagreg yang tentu harus berhati-hati karena banyak truk kontainer dan kendaraan penumpang besar, di antara kami belum pernah ada yang tahu pasti lokasinya.

Berbekal GPS dari aplikasi gadget Waway lah biasanya kami menentukan arah. Sampai di satu titik sebelum daerah Banjaran, kami memutuskan menempuh jalur tikus hasil rekaan GPS. Bayangkan, hampir jam 4 pagi dan kondisi masih gelap, harus melalui jalur yang agak rusak dan berbatu padahal mobil kami berjenis city car. Kami pun harus sebuah jembatan besar yang agak mengerikan.

Dengan kondisi demikian, ditambah kekhawatiran jangan-jangan tersesat, kami rehat dulu di sebuah mushalla sekaligus menunaikan shalat shubuh. Matahari mulai malu-malu muncul, sebagian penduduk sudah mulai keluar rumah. Itu kami manfaatkan untuk bertanya. Dan memang, tidak ada orang yang akan ke Green Canyon melalui jalur itu. Haha. Kami kembali ke jalur besar.

Walaupun sudah diselingi sarapan mie instan dan gorengan di jalan, sambil mengambil uang di ATM untuk melunasi pembayaran di lokasi nanti, tetap saja perjalanannya terasa jauh buat saya. Maklum, jam terbang belum seperti supir trans-sumatera. Hehe. Oia, selama perjalanannya juga kami mencari zipper bag, semacam kantong plastik yang bisa tertutup rapat untuk melindungi alat-alat elektronik dari air, tetapi kami tidak menemukannya (ini menjadi pendukung tragedi yang akan kami kisahkan kemudian).

Sampai di kantor EO hampir jam 10 pagi, kami tidak sabar untuk segera mengarungi jeram (walaupun belum beristirahat, ini juga menjadi pendukung tragedy lain). Setelah melunasi pembayaran, peralatan disiapkan. Rompi pelampung, helm, sepatu khusus (sepatu ini cuma saya yang dapat, karena stok habis, hehe, itupun sudah bolong di bagian jempol).

Bergaya bersama di depan kantor EO

Dari kantor EO ke basecamp,  kami masih harus menaiki mobil bak terbuka. Goyangannya mengawali latihan jeram kami, jalurnya lagi-lagi, seperti hutan yang baru dibuka, berbatu, turunan curam, dan tanjakan tajam.

Naik mobil bak terbuka…

Sampai di basecamp, kami harus trekking untuk turun ke area sungai.

Bersama peserta lain, tapi masih satu EO

Titik awal pengarungan kami tepat di mulut Guha Bahu, sebuah gua yang konon mengeluarkan bau dari kotoran-kotoran kelelawar di dalamnya (sumpah, tapi ini baunya bukan dari mulut gua, mulut lo aja kali, hehe #ga nyambung). Di depan mulut gua ini juga kami mendapat penjelasan singkat tentang teknik kegiatan ini. Peralatan elektronik diamankan di tas anti air yang ikut dihanyutkan kemudian.

Di depan mulut Guha Bau

Dan… byuuur!

Turun ke sungai…

Mengarungi jeram ini susah-susah gampang, terutama di arus tanggung yang sedang kami hadapi. Debit air sedang tidak rendah, namun tidak terlalu kuat juga, warna sungai agak coklat menandakan air meninggi. Tetapi tetap bisa dinikmati, di beberapa titik peserta lain ada yang sampai hanyut dan membuat instruktur mengejarnya.

Salah satu gulungan jeram sedang

Sebenarnya dalam aktivitas ini tidak selamanya kita berada di dalam air (terutama yang tidak cocok untuk bekerja di air, haha). Di jeram yang sangat deras, menggulung, dan dipenuhi bebatuan, tentu peserta menepi dan berjalan. Di saat itulah kita menikmati keindahan dinding-dinding batu yang mirip dengan Grand Canyon. Berasa ada di zaman purba.

Gaya bersama diapit dua dinding purba…

Sedangkan ketika berada di dalam air, tips dari saya ada 2. Pertama, tetap tenang dan jangan panik dalam kondisi apapun. Kedua, ini agak teknis, adalah konsistensi menjaga –maaf- pantat dan kaki tetap terangkat. Dengan demikian kita bisa mengapung dengan tenang, di arus yang mengguncang sekalipun. Jika sekali saja panik dan itu menyebabkan teknik kedua terabaikan, rasakan sendiri akibatnya. Saya merasakan sendiri, pantat atau punggung kita terantuk batu, dan pedih. Hehe

tenang dan jangan panik

Sesi yang paling enak ketika harus melompat dari tepi dan langsung masuk ke air yang sedang menggulung, dan badan langsung dihanyutkan. Saya akan lompat tinggi-tinggi, dan membiarkan tubuh terhempas di air, serasa menghempaskan beban penatnya dunia yang penuh kerjaan #lebay! Setelah itu biarkan tubuh terbawa hanyut, mudah-mudahan pas sampe udah di surga. Ngimpi! Hahaha

Menyeburkan diri ke gulungan air

Satu yang membuat saya agak malu. Adalah lompat dari tebing yang sangat tinggi. Berkali-kali sesudah berada di ujung tepi tiba-tiba nyali saya ciut, kalah oleh Waway dan Iril, haha. Ya sudah, karena sayang kalau sudah di Green Canyon tapi melewatkan ini, akhirnya saya pasrahkan untuk menjatuhkan diri. Dan aaaah… alhamdulillah tidak apa-apa.

Ciaaaat….!

Di akhir aktivitas ini sekitar pukul14 lewat, kami beristirahat di pelabuhan kecil. Santap siang. Masing-masing kita mengevaluasi lukanya. Ada yang lecet-lecet, lebam berwarna merah atau biru, bahkan ada yang mengucurkan darah sedikit. Itulah risiko perjuangan, hehe.

Makaan

Namun terjadi tragedi pertama di sini. Ternyata tas anti air yang menyimpan barang elektronik ditembus air ketika ikut dihanyutkan. Kamera Iril sih tidak masalah karena kamera itu digunakan oleh EO untuk memotret. Yang kasihan adalah Waway, handycamnya basah. Semua rekaman dengan saya yang penuh gaya hilang, dan handycam itu harus diperbaiki dengan biaya yang lebih mahal dari biaya ke Green Canyon. Nasib, Way, sabaaar… Itulah mengapa penting juga membawa plastik atau zipper bag itu kalau bermain air. Hehe

Kamera Waway sebelum rusak😀

Dari pelabuhan, kami menaiki perahu motor, sembari meluruskan badan setelah rafting, menikmati keindahan kiri kanan sungai yang berdinding batu, dan ditumbuhi pohon-pohon. Seperti di film Jurassic Park saja rasanya.

Di atas perahu…

Setelah selesai, bertukar foto dengan rekan yang lain, Rencana kami melanjutkan ke Pantai Batu Karas. Di sini, kami hanya beristirahat, makan. Setelah menunaikan shalat maghrib, kami menyengajakan tidur sebelum pulang ke Bandung. Tidur sekitar 2 jam lebih. Setelah terasa cukup, kami melanjutkan perjalanan pulang ke Bandung.

Makan menjelang malam di sisi pantai

Nah, tragedi kedua muncul. Di perjalanan tengah malam, tiba-tiba Iril menghentikan laju mobil. Dan “hweeek”. Muntah saudara-saudara. Mungkin memang karena dari awal dia yang mengendalikan mobil, istirahat pun minim. Untung kami membawa plastik P3K berisi minyak angin dan obat-obatan lain.

Selain khawatir akan kondisinya, kecemasan berikutnya adalah: siapa yang akan nyetiiiiir?? Hahaha

Terpaksa saya ambil alih. Padahal itu belum setengah perjalanan. Masih daerah Ciamis, yang terpikir di benak saya adalah Nagreg yang meliuk-liuk. Mata pun sudah mengantuk. Baru sebentar saya ambil kemudi, saya putuskan untuk istirahat dulu di salah satu pom bensin. Sekitar jam 2 malam waktu itu.

Bangun jam 5an, setelah shubuh saya kembali melajukan mobil. Waway, Iril, dan Takim lanjut tidur. Sepi banget mobil. Haha. Dan masuk Nagreg, alhamdulillah tidak terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Hanya, di tanjakan maut, mesin mati karena lagi-lagi canggung memainkan kopling. Sisa perjalanan alhamdulillah lancar. Sampai di rumah orang tua di Bandung: langsung tiduuuuur!