Perjalanan yang “Menguliti” – Testimoni untuk Buku Meraba Indonesia

by Fadhli

Di jurnal-jurnal sebelumnya sudah dibahas beberapa perjalanan saya di tahun 2011. Kali ini istirahat dulu ya, biar ga bosan yang baca. Saya aja yang nulisnya kadang bosan (baca: MALAS!). Kita selingi dengan tulisan yang selintas ini.

Dan beberapa hari ini sedang asyik juga tenggelam membaca buku-buku tentang perjalanan. Ada Negeri van Oranje yang belum selesai dibaca, tapi sudah dipinjam teman. Ada Ondel-Ondel Nekat Keliling Dunia, mengisahkan seorang pasukan perdamaian PBB asal Indonesia yang ditugaskan di beberapa negara rawan konflik seperti Irak dan Liberia. Agak lamaan juga udah baca Edensor tentang kisahnya Andrea Hirata yang kuliah di Perancis. Selalu ada pelajaran dan inspirasi seru yang didapat dari buku-buku perjalanan semacam itu, lebih dari motivator dengan kata-kata “dewa”nya yang menawarkan sejuta mimpi #halah!

Nah, yang paling anyar kelar dibaca dan akan dibahas kali ini adalah Meraba Indonesia: Ekspedisi “Gila” Keliling Nusantara. Farid Gaban dan Ahmad Yunus, adalah 2 wartawan “gila” yang dimaksud (kalau Mas Farid di salah satu cuplikan videonya bukan gila lagi, tapi “Ueeeedan!” hehe). Mereka menyusur pinggiran dan pulau terluar sekeliling Indonesia dengan kendaraan utama sepeda motor bekas. Tersedia juga video singkat liputannya jika kita membeli bukunya.

 

Dimulai dari monumen yang menjadi lambang kedigdayaan negara di depan Istana Negara, selama hampir 1 tahun mereka berekspedisi meraba Indonesia hingga ke daerah-daerah yang simbol kedigdayaan pemerintah itu sepertinya tidak lagi terasa. Nasionalisme dan wawasan nusantara yang menjadi bahan jualan di pidato-pidato para pejabat pusat, hanya tinggal anginnya di daerah-daerah terluar tersebut.

Kemiskinan, ketertinggalan, masih menjadi warna khas di daerah-daerah yang mereka kunjungi, sekalipun di daerah dengan kekayaan alam yang melimpah. Mungkin itu pula yang menyebabkan mereka kehabisan akal untuk menghidupi diri dan keluarganya, sehingga di sebagian daerah menggunakan bom untuk mencari ikan, yang tentu saja merusak terumbu karang.

Jangan bicara Freeport, Newmont, atau perusahaan besar lain yang mengeruk kekayaan di daerah-daerah Indonesia tanpa berkontribusi pada kemakmuran masyarakat, wong aparat kepolisian kita saja masih sering “malakin” para distributor kebutuhan dasar ke daerah-daerah terpencil itu. Di satu perjalanan, Farid dan Ahmad jelas-jelas melihat dengan mata kepala mereka sendiri aparat yang “membajaki” pedagang laut itu, bukan hanya di 1 pos, bahkan sampai 2-3 kali, yang keseluruhannya para distributor itu bisa kehilangan lebih dari setengah juta.

Memang (pejabat) negeri ini masih lebih mementingkan simbol. Di satu daerah, sebuah masjid berdiri megah, dengan bahan-bahan elok yang dikirim dari Jawa. Padahal sekelilingnya, masyarakat masih banyak yang kesusahan, jalan masih becek, air bersih susah didapat. Apakah itu arti kemakmuran sesungguhnya?

Sama seperti tugu 0 Kilometer di daerah Sabang, atau tugu-tugu bertulis Wawasan Nusantara dan Nasionalisme, yang menekankan pentingnya kesatuan persatuan dan kesatuan bangsa. Padahal faktanya, tetap saja itu masih menjadi sebuah simbol. Sekalipun benar, Wawasan Nusantara masih terbatas pada usaha kesatuan negara sebagai citra geografis. Tapi secara ekonomi? Pemerataan masih jauh dari kesatuan. Maka jangan salahkan jika masyarakat di daerah-daerah itu bersikap acuh terhadap jargon ipoleksosbudhankam. “Emang gue pikirin!

Buku ini menguliti ketidakseimbangan pembangunan, menggambarkan daerah yang masih sering sekedar jadi wahana eskploitasi, atau diperhatikan jika hanya terjadi konflik batas geografis. Beruntung sebagian masyarakat itu juga terus bekerja-keras, berupaya mandiri, dan tetap setia pada negara ini.

Buku ini sebaiknya dibaca para orang-orang pusat yang sudah merasa cukup berhasil atau citranya sudah dianggap baik. Buat pejabat yang ramai-ramai diberitakan media hanya karena naik KRL di pusat negara, dan belum pernah merasakan pelayanan PELNI dengan toilet yang hanya satu untuk sekian ratus penumpang. Kapal yang (maaf) tinjanya sering meluap, bau pesing, muntah bercampur jadi satu. Belum lagi pelayananan makanan yang tidak karuan dengan nasi dan lauk yang tidak lagi segar. Itu sudah dirasakan Farid dan Ahmad, dan tentu dirasakan berulang-ulang oleh masyarakat setempat.

Buat pejabat yang merasa sudah berhasil dengan program listrik, jembatan, transportasi, komunikasi dan informasi, pendidikan, dan sebagainya, tengok-tengoklah dulu daerah pinggiran itu…

Kalau boleh mengutip ungkapan dari salah satu pemimpin (notabene pemimpin di negara ini mayoritas muslim kan?), “Seandainya ada kambing yang terperosok lubang di Hadramaut (daerah yang jauh, karena jalanan rusak), maka aku bertanggung-jawab terhadapnya.“ (Umar bin Khaththab Ra). Zaman sekarang mah bukan lubang yang bikin kambing terperosok, satu kampung tenggelam juga pada lempar-lemparan tanggung jawab. Fuiiih

Tabik,