My 2011 Journey of Indonesia – Bromo!

by Fadhli

Perjalanan ke luar kota yang luar biasa untuk menutup tahun. Bersama Waway, Budi, Balad, Arman, Rido, Azmi, Yanti dan Irmaw, akhirnya saya merasakan salah satu mahakarya Sang Pencipta di belahan timur pulau Jawa ini. Ini sebuah perjalanan yang memuaskan karena setidaknya telah direncanakan sebulan sebelumnya.

Perjalanan dimulai dari Kamis, 15 Desember. Semua pasukan, kecuali Irmaw, berangkat dengan kereta ekonomi dari Stasiun Pasar Senen Jakarta, pukul 15.30an dengan karcis seharga 55ribu rupiah. Perjalanan di kereta ini memakan waktu 12 jam, yang dihabiskan dengan ngobrol ngalor-ngilur, becanda, makan, dan tidur. Kisah yang banyak dieksplorasi adalah dari Arman, karena dia sedang berlibur dari kuliahnya di Australia.

Sampai di Stasiun Pasar Turi Surabaya, 16 Desember dini hari, terjadi beberapa kesimpangsiuran #lebaydotkom. Pertama, tentang loket karcis di stasiun itu yang kami rasa belum buka. Azmi, dan Budi, yang belum mendapatkan tiket pulang berencana membeli tiket kelas ekonomi di sana. Sedangkan yang lain, sudah memiliki tiket pulang dengan kereta eksekutif karena tiket kelas ini bisa dibeli di Jakarta, sebelum kita berangkat.

  KA Ekonomi Kertajaya, dari Pasar Senen ke Pasar Turi

Beberapa dari kami mengatakan bahwa loket baru buka jam 7, sementara waktu menunjukkan masih pukul 5.30. Maka, sambil membunuh waktu, saya mencoba berjalan di sekitar stasiun, di area pusat informasi. Dan memang belum ada orang. Eh, tapi ada seorang Mbak yang berseragam PT KAI melintas, saya iseng tanya aja. “Mbak, kalau loket penjualan tiket buka jam berapa ya?” Mbaknya jawab, “Udah dari jam 5 tadi, Mas. Itu belinya keluar dulu dari stasiun ini, di pintu masuk reservasi.”

Mendapat informasi ini, maka saya beritahu kawan-kawan. Azmi dan Budi segera menuju loket yang dimaksud. Dan, jreng, jreng, jreng: ternyata tiket sudah sold out walaupun ga pake diskon akhir tahun. Di sinilah awal terjadinya tragedi Mawar Berduri yang akan diceritakan nanti.

Kesimpangsiuran kedua, Irmaw yang belum kunjung datang, sementara kami sudah dikerubungi supir-supir taksi yang SKSD (sok kenal sok dekat), supaya mereka bisa mengangkut kami ke tujuan berikutnya. Kabarnya Irmaw datang menggunakan kereta eksekutif malam, yang menurut jadwal seharusnya sudah datang pula pagi itu. Sampai pada akhirnya Irmaw sendiri yang mengontak Waway bahwa dirinya sudah tiba di Stasiun Pasar Turi diantar Omnya yang tinggal di Surabaya menggunakan mobil. Lho?? Ternyata Irmaw sudah tiba dari malam hari menggunakan pesawat tempur (pesawat terbang maksudnya) dan sempat mampir dulu di rumah Omnya. Hoalaah.

Setelah komposisi tim lengkap, perjalanan dilanjutkan menuju Terminal Bungur Asih dengan menggunakan mobil sewaan seharga 10ribu seorang dikali 9orang sama dengan hitung sendiri. Di terminal ini, tim sarapan terlebih dahulu, sementara saya masuk bilik renungan karena perut akan melakukan ritual biologis (tau kan maksudnya?). Jadilah saya tidak sarapan dan hanya minum susu kotak.

Selain sarapan, Azmi dan Budi memutuskan untuk pulang ke Jakarta nanti menggunakan bis. Maka di terminal inilah mereka membeli tiket bis pulang. Catat namanya: PO Mawar. Eksekutif, dapat makan, snack, ber-AC dan bertoilet. Harga 220ribuan. Catat! Sekali lagi, Catat!

Dari Bungur Asih, kami melanjutkan perjalanan dengan bis patas AC menuju Probolinggo seharga 23ribu perorang, dengan waktu tempuh 2-2,5 jam. Di Terminal Probolinggo, kami melanjutkan perjalanan ke penginapan dengan menggunakan elf sewaan yang dikemudikan Pak Rohim seharga 25 ribu perorang (nomor kontak Pak Rohim ada di Budi jika perlu, masalahnya anda belum tentu tahu nomor kontak Budi kan? Hehe. Saya punya nomor kontak Budi. Tapi anda belum tentu tau nomor kontak saya kan? Hehe #ga_jelas!).

Perjalanan dari Probolinggo ke tempat penginapan ditempuh sekitar 1,5-2 jam lagi. Di sela perjalanan, kami masih menyempatkan membeli beberapa keperluan, terutama bahan makanan di salah satu minimarket dan pasar tradisional.

Penginapan Kami

Di salah satu sudut halaman penginapan

Sampai di penginapan menjelang sore hari. Dihabiskan dengan makan, bercanda, tidur, bangun lagi, tidur lagi, bercanda lagi. Hehehe. Di penginapan ini juga beberapa kali didatangi pedagang. Ada yang jual topi dan sarung tangan. Ada yang jual kaos bertuliskan Bromo. Saya membeli satu kaus. Kalaupun besok tidak sampai ke puncak, yang penting ada bukti.

Saung di depan penginapan

Gaya di Saung *Balad ga sopan pegang kepala orang, wkwk

Makan malam disiapkan oleh Chef Rido dengan menu indomie goreng rasa balsam. Hehe. Sampe sekarang kami belum mengetahui apa penyebab rasanya menjadi seperti itu. Untungnya setelah makan kami masih tetap sehat.

Mie Goreng Rasa Balsam

Karena esok harus berangkat dini hari, maka kami menyegerakan tidur malam. Jam 3 dini hari di 17 Desember, kami berkemas dan berangkat dengan Jeep untuk melihat mentari terbit di salah satu titik di daerah perbukitan. Kami menyewa 2 jeep dengan kapasitas 4-5 orang per mobil, masing-masing seharga 350ribu dengan rute puncak pengamatan sunrise dan kawasan Puncak Bromo. Berhubung kami meminta tambahan rute ke Savana (sering disebut juga Bukit Teletubbies) dan Kaldera (yang dinamakan Pasir Berbisik), bayaran ditambah 150ribu permobil. Pengeluaran yang cukup besar untuk ini memang.

Di tujuan pertama, kami gagal melihat matahari terbit karena puncak tempat pengamatan berkabut. Padahal Azmi dan Irmaw sudah merelakan menyewa kuda seharga 30ribu untuk sekitar 10-20 meter saja. Dan itu tetap saja tidak terlalu bermanfaat untuk menghemat energi (sorry to say, hehe) karena untuk mencapai puncak pengamatan, tetap saja harus mendaki ratusan tangga yang lumayan bikin ngos-ngosan.

Yang kuda, yang kuda, yang kuda… hehe

Di atas puncak pengamatan dengan latar belakang putih kabut, kami melaksanakan sholat shubuh bersama, dan tentu saja, foto-foto… Tidak perlu disesali soal kabut, matahari tetap terbit koq, hanya mungkin dia malu menampakkan dirinya.

Ini lagi sujud, bukan nyembah batu…😀

Latarnya kabut😀

Bergaya di tangga

Dari situ kami menuju bukit Teletubbies. Dan sebelumnya sempat meminta berfoto dengan penduduk setempat untuk membuktikan bahwa perjalanan kami bukan hoax. Walaupun kena sedikit zonk, karena Emak-emak penduduk Tengger ini meminta bayaran untuk difoto. Hihi. Ckrek!

Sama Emak-Emak Tengger😀

Di bukit Teletubbies ini pemandangan sungguh menakjubkan. Bahkan studio foto mungkin kalah. Oia, menurut supir jeep, kalau kita mengikuti jalur di Savana ini, bisa sampai ke Semeru.

Jeep kami parkir di bukit teletubbies

Di Pasir Berbisik kita merasa seakan ruang hidup ini menjadi luas, berbeda dengan kehidupan sehari-hari di lingkaran gedung, meja kerja, dan kamar kostan (apalagi kalau temen-temen pada numpang nginep, wakakak).

Dan akhirnya, puncak Bromo!

Untuk menuju puncak ini, saya memilih tidak menggunakan jalur tangga, selain karena penuh orang yang naik, ingin mengetes saja stamina yang sudah lama ga dipake kegiatan adventure dan survival. Beruntung saya masih kuat, walaupun masih kalah dibandingkan penduduk sana yang dengan santai dan bersarung berjalan di atas saya.

Di dinginnya udara puncak, saya bersyukur bisa sampai di Bromo ini bersama teman-teman. Pemandangan dari atas terhadap sekeliling juga top-markotop. Hamparan kaldera yang membentang, dibatasi dan dikeliling savana yang hijau dengan beberapa bukit yang beralur, membuat kami ingin berlama-lama di daerah Bromo ini.

Namun, waktu tidak mengizinkan. Sekitar pukul 8-9 pagi itu kami kembali ke penginapan. Saat turun dari puncak, saya, Rido dan Balad menguji kecepatan turun dengan balap lari sampai finish di Pura. Dan terhitung, yang tercepat dengan catatan waktu hanya sekitar 3 menit adalah saya lho, walaupun menggendong tas berisi persediaan makanan dan minuman. Jumawa banget nih saya.

Rute Balap Turun Bromo

Kembali ke penginapan untuk beres-beres, 17 Desember menjelang siang kami meninggalkan kawasan Bromo yang menakjubkan. Rute perjalanan pulang seperti rute perjalanan berangkat.

Sampai di Terminal Bungur Asih sore, kami mengucapkan selamat jalan kepada Azmi dan Budi, karena jadwal keberangkatan bis mereka adalah malam itu jam 7. Sementara jadwal kereta eksekutif kami adalah keesokan harinya jam 8 pagi dari Stasiun Pasar Turi. Malam harinya tanpa Azmi dan Budi kami menumpang tidur, makan, dan diantar jalan-jalan pula ke Jembatan Suramadu oleh keluarganya Irmaw di Surabaya. Sementara kabar dari Azmi dan Budi, jadwal keberangkatan mereka telat 2 jam. #tragedi_mawar

Dan 18 Desember, perjalanan kereta api eksekutif menuju Jakarta berjalan lancar. Dan ini kontras dengan Azmi dan Budi yang naik bis mawar. Bayangkan, mereka sempat dioper empat kali di beberapa tempat dari bis PO Mawar yang katanya Eksekutif, ke AC Ekonomi, sampai Ekonomi dengan segala pekerja proyek (baca: kuli pembangun) yang menyetel radio keras-keras dan hanya menggunakan kaos dalam, haha, sampai daerah Bekasi bensinnya habis, dioper lagi. #tragedi_mawar.

Akibatnya, Azmi dan Budi yang berangkat 17 Desember malam, malah tiba belakangan dibandingkan kami yang berangkat 18 Desember pagi, dan sudah sempat jalan-jalan dan makan enak di daerah Surabaya. #tragedi_mawar.

Husssh… jangan bilang-bilang ya, ini rahasia. Dan bisa mengungkit luka lama.

Cheers!

nb: semua foto dalam jurnal ini diedit dari koleksi Budi dan Irmaw