Kostan (lebih dari) 5 Merana – Sekilas Kostan Mengenaskan, Maling pun Enggan

by Fadhli

Kalau bukan karena mencari teman yang sedang sama-sama merasakan kesusahan, mungkin saya tidak akan pernah menghuni kostan ini. Sungguh, saat membuka pintu kostan itu di akhir tahun 2009, yang bagi saya itu sudah lewat satu semester dari waktu ideal untuk lulus, saya tidak melihat ada yang istimewa dari kostan itu. Bahkan cenderung mengenaskan.

Disambut Asep untuk masuk setelah menunggu dijemput di lapangan futsal dekat kostan itu, saya lihat caranya membuka pintu. Ajaib! Tidak menggunakan kunci. Michael Houdini atau David Copperfield juga tidak akan kami terima sebagai penghuni jika tidak bisa membukanya tanpa sulap. Dan memang begitulah, belum akan kami sebut menjadi anak Kostan (lebih dari) 5 Merana jika belum bisa membuka pintu ini. 

Tangan kiri Asep dimasukkan melalui jendela yang sudah berdebu, setelah melewati jendela, dibelokkan ke arah kanan, mencari slot yang pas, dan ckreek suara tarikan slotnya. Pintu bisa dibuka. Terkesan gampang bukan? Tapi perlu latihan berkali-kali untuk mencari letak slotnya. Mungkin karena itu pula walaupun tidak pernah dikunci dengan kunci standar, tidak pernah ada kemalingan. Kalaupun pernah, itu dalam kondisi pintu sudah terbuka dan para penghuni mungkin sedang ketiduran, emang dasar para penghuninya pelor semua: sekali nempel, langsung molor. Haha. Belum ada sejarahnya maling tahu cara buka pintu itu.

Lagipula apa yang mau dicuri maling? Saya layangkan pandangkan ke kostan selebar 3x4m (mungkin) setelah Asep membuka pintu. Di sudut kiri memanjang sebuah tempat tidur dengan penopang kayu setinggi 50 cm dari tanah, dengan kasur yang tipis, dan bantal yang kusam. Di depan tempat tidur itu ada televisi di atas sebuah meja. Di bawah meja terdapat bertumpuk-tumpuk kertas dan kardus. Biasa, anak kuliahan yang materialistis, maksudnya kerjaannya mengumpulkan materi-materi kuliah sampai menumpuk dan berantakan.

Yang lebih ajaib lagi televisinya. Saya menyebutnya dwifungsi. Bisa jadi televisi atau radio. Lho koq bisa? Kalau lagi keluar adatnya, tuh televisi layarnya menyipit, seperti mata yang kelopaknya sedang menutup, sisa tinggal garis di tengah. Nah, saat itulah disebut radio. Soalnya apa yang mau diliat di layar? Cuma bisa didengar. Kadang perlu digebrak-gebrak untuk mengembalikan fungsinya sebagai televisi yang bener.

Yang lebih hebat lagi dari televisi itu, selain tidak punya remote, tombol-tombolnya tidak bisa dilihat kasat mata. Butuh tingkat pengetahuan sendiri untuk mencari tombol jika ingin mengganti saluran atau mengatur volume. Tombolnya sudah rusak, jadi tuts nya ada di dalam, ibaratnya kalau keypad handphone sudah rusak, yang kita colok adalah tuts di dalamnya. Ini pun begitu, dicolok menggunakan ujung gagang pencukur kumis dan jenggot. Itulah remote kami.

Dan itu, syarat selanjutnya menjadi anggota kami: mengganti saluran televisi ajaib. Mungkin sama seperti Chinmi yang tokoh Kungfu Boy, kami harus mencari titik pas sebelum mengeluarkan jurus pelemah lawan. Bedanya, jurus Chinmi adalah peremuk tulang, kami adalah pengganti saluran televisi. Wakakak banget deh pokoknya.

Sisa barang di sudut-sudut kamar adalah lemari reyot berisi pakaian, buku-buku, dispenser, sepatu, gelas-gelas kotor, pakaian tergantung, laba-laba yang menjaring sarangnya, cicak, kadang kecoa dan nyamuk. Alhamdulillah sih nyamuknya cuma satu, temennya doang yang segambreng..

Jadi kalau saya bilang maling ga pernah masuk, mungkin ya karena paduan itu semua. Masuknya aja susah. Eh, udah susah masuk, barangnya paling berharganya cuma televisi. Televisi mau dinyalain, layarnya labil. Mau diganti saluran, ga tau caranya dia. Ah, diambil pun malah ngerepotin nih barang-barang. Akhirnya sang maling pun pulang dengan tangan hampa. Bukan hanya dengan tangan hampa, mungkin dia bilang ke teman-teman malingnya, “jangan maling di kostan (lebih dari) 5 merana deh, bener-bener lu yang dibikin merana ntar..” Wakakak, rasakan lah maling.

Kalau anda mencari sesuatu yang paling berharga di kostan kami, anda tidak akan temukan di barang-barang itu. Barang paling berharga kami sudah kami simpan jauh di dalam lubuk hati: Persaudaraan.. #huweeeek, sok bijak, padahal langsung pada muntah ngedenger ini..