Privilege

by Fadhli

Beberapa waktu lalu saya sempat membaca satu artikel tentang salah seorang sultan yang ditilang oleh seorang polisi lalu lintas “biasa.” Biasa di sini maksudnya tidak berpangkat tinggi. Singkat cerita, polisi itu merasa agak canggung menilang sultan yang melanggar arus jalan terlarang (tanda forbidden). Namun akhirnya sultan mengaku bersalah dan ditilang.

Karena kejadian itu, si polisi awalnya sempat diomeli atasannya karena berani-beraninya menilang seorang pemimpin propinsi. Tapi justru kemudian ada perintah dari sultan sendiri untuk menaikkan pangkat sang polisi tersebut karena keberaniannya menegakkan hukum sekalipun kepada pejabat.

Waw, keren dong (polisi dan sultannya)?? Hmm… Menurut saya nggak juga. Ya memang seharusnya begitu. Itu standar minimal. Saya bingung, mungkin karena negara ini terlalu biasa melanggar standar, sehingga seseorang (apalagi pejabat tertentu) jika melakukan standar yang memang begitu seharusnya, menjadi terasa sangat hebat, seakan melakukan sebuah pekerjaan yang mendobrak.

Masih ingat juga kisah seorang menteri yang naik kereta untuk menghadiri rapat di Istana? Media lantas bersorak-sorai, menepukinya. Nyatanya, beliau naik kereta jurusan Bogor di pagi hari yang sangat lengang. Sementara ke arah sebaliknya (Jakarta) beribu-ribu orang tumplek di satu rangkaian kereta seperti pepes peda. Makanya, di milis komunitas KRL, aksi sang menteri tidak terlalu istimewa. Biasa saja. 

Beribu-ribu orang lebih hebat koq perjuangannya dari seorang menteri (dalam hal naik KRL), dan bukan hanya sekali-kali, melainkan setiap hari, berangkat dan pulang kerja demi mencari sesuap nasi buat anak-istri (kecuali yang jomblo, haha). Bukan, bukan untuk mengecilkan kesederhanaan sang menteri. Itu jelas patut diapresiasi, tapi menjadikannya sebuah hal yang istimewa sehingga seakan-akan bisa mengubah carut-marut transportasi di Indonesia, tidak juga.

Kembali ke judul. Saya mendapat tag notes di Facebook tentang kisah sultan yang ditilang itu pas banget waktu saya pulang dari perjalanan yang polisi juga berusaha menilang saya, ajaib.

Ini yang kedua kalinya polisi berusaha menilang. Membandingkan dengan kisah sang sultan, jelas beda skenario. Jika polisi yang menilang sultan itu merasa canggung untuk menilang, bahkan atasannya ikut-ikutan ewuh-pakewuh kepada sultan dan mengomeli si polisi yang menilang, tentu akan berbeda ceritanya dengan polisi yang berusaha menilang saya yang rakyat jelata, bermobil sederhana, dan keliatan kere (berkaos dan sendal jepit).

Sebelumnya saya (dkk) pernah distop karena dituduh tidak menggunakan sabuk pengaman saat duduk di sebelah bangku pak sopir yang mengendalikan mobil agar baik jalannya. Padahal jelas-jelas saya menggunakannya. Mau disumpah saya keren juga mau deh, eh, maksudnya disumpah bahwa saya benar-benar menggunakannya juga saya bersedia (walaupun menggunakan atau tidak menggunakannya saya tetap keren #lho?!). Tapi diminta berbohong untuk tidak menggunakannya jelas saya tidak mau.

Yang baru saja kemarin, distop polisi karena saya hanya membawa STNK fotokopian. Ya jelas saya hanya bawa fotokopian karena yang asli sedang diperpanjang pajaknya di Jakarta. Saya sempat dihadapkan pada pimpinan yang berusaha menilang dan mereka mendebat kami.

Nah, di sinilah cerita tentang privilege-nya. Sebenarnya saya juga kurang suka menggunakan privilege, yang menurut kamus artinya hak istimewa. Apalagi kalau jelas-jelas saya benar, atau bahkan salah. Tapi kalau saya dipaksa berbohong, nehi lah ya kalau urusannya ga genting-genting amat. Ke semua polisi itu saya sudah berusaha menjelaskan dengan apa adanya. Tetep aja dipersulit. (Beda kan antara pejabat dan rakyat biasa perlakuannya?)

Kalau sudah begitu ya, apa boleh buat. Males menghabiskan waktu, berpanjang urusan alisan ngebangke, saya keluarkan kartu yang ada tulisannya begini, “Pemegang kartu ini… mendapatkan perlindungan penuh dan terbebas dari gangguan menjalankan tugas resmi, sesuai dengan kesepakatan Hak Istimewa dan Kekebalan yang disepakati oleh Pemerintah Indonesia….” Dan tetap saya jelaskan kepada polisi itu bahwa saya memang bukan dalam rangka tugas resmi waktu itu. Saya hanya meyakinkan polisi: masa saya bohong sih kalau STNK kami sedang diperpanjang. Kalau ada apa-apa, silakan diperkarakan, ini identitas saya. Ada kontak keamanan yang berkoordinasi dengan Kepolisian di Jakarta juga. Malu lah kalau identitas ini disalahgunakan untuk berbohong. Begitu pesan yang ingin saya sampaikan pada polisi itu.

Dan, itupun belum cukup, si polisi masih harus disanjung-sanjung, dimintakan maaf, seakan ingin meyakinkan bahwa dirinya antisalah. Setelah itu, barulah kami diberi jalan. Hmmm… memang susah ya kalau hidup di negara privilege. Yang harusnya biasa saja kejadiannya jadi istimewa, eh mau jadi biasa saja malah harus dikeluarkan yang istimewa-istimewa.