Wisuda dalam Kenangan

by Fadhli

Setelah diri saya merasa terlalu cengeng, lebih tepatnya bosan berbaring di kamar lebih dari seharian karena diare, saya berniat mencoba minum teh hangat di salah satu kedai kopi di universitas tempat saya kuliah dulu. Tadinya berniat menghirup udara segar di pinggir danau sambil membaca buku. Mungkin saja dengan begitu saya juga bisa bahagia dan melupakan bahwa saya baru saja diare.

Saat melewati balairung, ternyata hari ini bertepatan dengan wisuda semester ganjil. Beribu orang mungkin sedang berbahagia pada hari ini di tempat ini.

Setahun lalu saya juga menghadiri wisuda teman. Dua tahun sebelumnya, saya yang diwisuda. Entah mengapa saya datangnya selalu pas dengan wisuda semester ganjil. Dan kalau seseorang diwisuda di semester ganjil, kemungkinannya ada dua, lulus cepat 3,5 tahun, atau ya telat, minimal 4,5 tahun. Saya jelas bukan anak yang rajin gila, jadi tidak mungkin pilihan pertama. 

Dan tentu semua orang boleh memiliki makna tersendiri tentang wisuda. Tapi kalau saya ingat-ingat dua tahun lalu, saya sendiri lupa memaknainya sebagai apa.

Yang saya ingat justru kebanyakan repot-repotnya. Maklum, jiwa mahasiswa yang masih perhitungan. Kami harus membayar toga yang ratusan ribu untuk sekali pakai. Mau diwariskan kepada adik atau saudara tetap saja sulit nantinya, dengan alasan bahwa bayarannya itu bukan hanya untuk toga, tapi sepaket dengan biayabiaya lain. Jadi adik saya nanti misalkan kalau mau diwisuda, ga bisa bayar biaya administrasi lainnya saja tanpa toga, karena itu sepaket.

Kemudian persiapan baju-baju lain. Saya sendiri gak ambil pusing dengan pakaian. Ga beli baru. Ga pake dasi. Toh sebagus-bagusnya nanti juga ditutup toga. Kecuali kalau disuruh pake topeng yang bisa nutupin muka yang pas-pasan, mungkin saya milih-milih beli topengnya. Haha

Belum lagi repot-repot orang tua yang datang, sewa mobil, bawa makanan, beli ini itu dan sebagainya. Padahal sebelumnya, baru saja penelitian dan sidang skripsi pun memakan biaya banyak. Memang itu semua mungkin akan terasa lunas ketika orang tua bisa mengantarkan anaknya diwisuda sarjana, sekali seumur hidup (kecuali yang rajin mau nambah gelar sarjana lainnya). Tapi pada dasarnya tetap saja, saya merasa itu beban.

Dan sadisnya, pada pengalaman saya, peristiwa-peristiwa menuju wisuda itu malah cenderung mengenaskan. Saya menghilang dari organisasi, sempat sakit radang tenggorokan yang panjang, dipindah pembimbing akademis yang membuat bimbingan agak lebih sulit bahkan sempat diomeli oleh pembimbing baru, H-1 sidang saya belum dapat penguji luar dan harus mengejar-ngejarnya di kereta, dan sampai saat sidang saya terpojok dengan pertanyaan salah satu penguji, “Kamu bisa jelaskan ga? kalau ga bisa, biar saya saja yang menjelaskan…” dan dengan menunduk saya bilang, “Iya Bu, saya tidak bisa,” dan nilai sidang saya diumumkan hanya mendapat nilai B+, di saat hampir semua teman saya yang lain di fakultas ini minimal mendapat A-, dan kebanyakan A untuk yang lain.

Beruntung saat pembimbing asli sudah kembali ke Indonesia, beliau berbaik hati menambah nilai dari sisi proses pengerjaan penelitian menjadi A-. Tapi saya dapat kabar pula dari beliau bahwa di sidang yudisium dengan dosen-dosen lain, nilai saya tetap dipertanyakan, koq bisa bertambah signifikan padahal nilai sidangnya jauh dari sempurna.

Belum lagi revisi skripsi yang berulang-kali, bahkan ada penguji yang meminta saya merevisi sampai 2 kali, dan salah satunya saat saya sedang merasakan sakit gigi yang sadis abis, membuat saya ingin tertidur saja di masjid salah satu rumah sakit sebelum bertemu sang pembimbing di ruangannya.

Mungkin saya agak hiperbolis, dan banyak yang lebih hebat perjuangannya dari saya untuk menjelang wisuda. Tapi tetap saja, saya masih berpikir, apa makna wisuda buat saya waktu itu? Euphoria bebas dari sengsara? Nyatanya pas wisuda, yang paling saya nikmati adalah foto-foto dengan berbagai gaya… Hehehe

Tuh kan, gara-gara wisuda orang, saya lupa niat awal saya untuk minum teh. Eh, pas sampai tempat yang dituju, ternyata kedai tehnya sudah tutup. Sudah lah, kita akhiri lanturan ini. Tabik…😀