Wejangan Sang Kapten

by Fadhli

Para pembaca sekalian, kemarin telah kita saksikan bersama pertandingan sepakbola antara tim nasional Indonesia melawan Bahrain. Skornya yang 10 untuk Bahrain dan 0 untuk Indonesia memicu banyak perbincangan. Sampai-sampai ada ibu-ibu yang membincangkannya di mushola setelah selesai beribadah.

Maaf, bukannya tidak boleh Bu, tapi gantian dong tempatnya.. hehe, maklum agak sempit tempat sholatnya. Daripada curhat di situ, mending di blog nih kayak saya. Mau panjang lebar juga, silakan.. Lagipula ibu-ibu juga belum tentu nonton kan.. ramenya aja deh..

Nah, karena saya juga ga nonton, maka saya tidak akan berkomentar tentang jalannya pertandingan kemarin di tulisan ini, walaupun bisa dihubungkan juga. 

Seperti yang akan anda ketahui setelah saya beri tahu sekarang ini, bahwa saya dan tim akan menjalankan turnamen futsal dengan lawan dari beberapa regional di Pulau Jawa. Secara ngasal, panitia menunjuk saya sebagai kapten untuk tim kami, ehm, ehm..

Baik, sebagai kapten ada baiknya saya memberikan sedikit wejangan, khususnya kepada diri sendiri, dan umumnya kepada para jama’aaah oh jama’aaah.. Eh, maaf, maaf, maksud saya kepada tim saya, dan juga semua pembaca blog ini…

Ada tiga wejangan yang akan saya sampaikan, dan hendaknya dicamkan saat bermain futsal.

Yang pertama, hendaklah orientasi kita bukan pada kemenangan, apalagi kekalahan. Itu semua hanyalah akibat. Yang harus kita upayakan adalah mencetak lebih banyak gol daripada lawan. Cukup itu saja.

Yang kedua, jangan terkecoh dengan istilah bermain lepas. Karena sudah jelas-jelas kita bermain futsal. Saya sendiri sampai sekarang tidak tahu jika ada olahraga yang bernama “lepas.” Setahu saya, kalau kita main layangan, malah yang lepas itu berarti kalah. Jangan bermain lepas kalau seperti ini.

Apalagi, jika bermain lepas diartikan lepas dari tanggung jawab. Pemain bertahan malah ngopi di pinggir lapangan, penyerang malah jadi artis, atau penjaga gawang malah menjadi wasit, maka sudah pasti tim akan kalah. Jangan, jangan bermain lepas kalau seperti itu.

Nah, mungkin maksud bermain lepas yang benar adalah, selalu melepaskan diri dari penjagaan lawan, dan selalu melepaskan bola dari kaki lawan. Itu baru saya setuju. Jadi, bermain lepas harusnya maknanya seperti ini.

Yang ketiga, bola itu bundar, tetapi bundar itu belum tentu bola, karena bisa jadi yang bundar itu topi saya, kalau tidak bundar, maka itu bukan topi saya.

Yang keempat, karena saya sudah sampaikan di awal bahwa wejangannya cuma tiga, maka yang keempat ini dianulir. Lebih baik kita akhiri saja latihan bikin skrip #stand_up_comedy ini. Dan langsung turun ke lapangan!!!