Pendakian ke Puncak Gunung Gede (1)

by Fadhli

Edisi jalan-jalan kali ini selain membutuhkan nyali, juga membutuhkan ketahanan (durability), baik fisik maupun mental. Maklum lah, buat saya sebagai orang baru dalam hal mendaki gunung (yang serius), ini bisa dikatakan tahap belajar supaya terbiasa menghadapi hambatan, tantangan, ancaman, dan gangguan – dalam PPKN biasa disingkat menjadi HTAG, masih ingat kan? hehe. Karena ternyata mendaki gunung yang betulan itu memang memerlukan persiapan yang matang, daripada sekedar ke “gunung wisata” seperti Tangkuban Perahu, Bromo atau ke gunung yang untuk membaca dan atau membeli buku (itu mah toko buku Gunung Ag*ng ya??)

Menurut Harry Wijaya dan Christian Wijaya dalam bukunya Rekam Jejak Pendakian ke 44 Gunung di Nusantara, Puncak Gede ini memiliki ketinggian 2958 mdpl (meter dari permukaan laut). Letaknya terbagi antara Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur, dan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Puncak Gede masih termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP), dan bertetangga dengan Puncak Pangrango. 

Pendakian ke Puncak Gede ini saya ikuti bersama tim dengan mengambil jalur Gunung Putri untuk naik. Sedangkan untuk turun, kami mengambil jalur Cibodas. Saat berangkat saya tidak tahu apa perbedaan kedua jalur tersebut. Sampai setelah mengalaminya sendiri, maka saya percaya bahwa jalur Gunung Putri memang lebih terjal. Itu pula yang dikatakan oleh orang-orang sepanjang perjalanan.

Berangkat malam hari dari Terminal Kampung Rambutan Jakarta, kami menggunakan bis ekonomi melalui Puncak dengan ongkos seharga 15.000 rupiah. Sekitar 2 jam perjalanan, kami berhenti di Cipanas, persis di area Istana Presiden. Dari situ kami menyewa angkot ke Sukatani dengan jalan yang menanjak dan berkelok. Angkot dan isinya pun bergoyang-goyang, karena kondisi jalan yang agak rusak dan berbatu, ditambah gelak tawa para calon pendaki di dalamnya.

Pedagang di daerah Sukatani, Gerbang menuju Pos Pendakian Jalur Gunung Putri *Photo: Novi

Sampai di Sukatani tengah malam, sebagian tim langsung beristirahat dengan menumpang di rumah penduduk (tentu saja setelah menginap kami membayar uang “kebersihan”). Sebagian tim yang lain mengurus perizinan ke Pos GPO (Gede Pangrango Operation), yaitu sekretariat yang akan memeriksa persyaratan (administratif dan sedikit teknis) sebelum para pendaki menjelajahi gunung. Dari rumah penduduk ke Pos GPO itu membutuhkan waktu sekitar 5 menit.

Di Pos GPO, barulah kami mengambil surat izin. Harap diketahui, surat izin harus diajukan paling lambat 3 hari sebelum pendakian. Pengajuan dilakukan di Pos Cibodas dengan membawa fotokopi identitas diri semua pendaki, dan membayar retribusi. Registrasi dilakukan mengingat semua jalur pendakian di area TNGP ini mempunyai kuota jumlah pendaki. Saat ini TNGP sudah mengembangkan sistem pendaftaran online, silakan cek di sini.

Pos Perizinan Pendakian Jalur Gunung Putri, Sedang Ramai😀

Sifat perizinan ini sangat ketat. Kami menyaksikan beberapa pendaki yang perizinannya belum selesai dan diminta kembali ke Cibodas malam itu. Persyaratan teknis lain yang harus diperhatikan adalah: dilarang membawa shampoo, sabun, deterjen, atau barang-barang sejenis yang potensial mencemari sumber dan aliran air; dilarang membawa senjata tajam seperti parang, pisau besar, dan peralatan berburu yang potensial merusak flora dan fauna; dilarang membuat api unggun karena khawatir memotong ranting dan batang pohon, atau potensial menyebabkan kebakaran; sampah pun harus dibawa kembali dan akan dicek di pos keluar.

Setelah perizinan selesai, semua tim kembali berkumpul di rumah yang dipinjam untuk beristirahat. Tapi sebelum benar-benar tidur, kami membagi beban logistik umum semacam beras, kompor, tenda, dan barang-barang lain untuk kepentingan bersama.

Di rumah penduduk, berbagi logistik umum dan beristirahat

Bangun di pagi hari, kami segera berkemas. Mengisi perut dengan sarapan dan teh hangat, melakukan “ritual biologis,” dan menyiapkan bekal makanan siang untuk di perjalanan. Setelah semua siap, berangkaaaaat!

Klik di sini untuk baca sambungannya..😀