“Mendaki” Gunung Padang

by Fadhli

Pada tanggal 26 Mei 2012 (udah lama ya baru ditulis, #malas, hehehe), saya, Iril, dan Balad melakukan perjalanan ke Gunung Padang. Bagi saya, itu baru saja dua pekan setelah pendakian ke Gunung Gede. Namun pendakian kali ini tidak seperti pendakian ke gunung besar yang harus membawa banyak perbekalan dan memakan waktu berhari-hari.

Gunung Padang adalah nama sebuah situs megalitikum (bangunan yang terbuat dari batu-batu besar zaman prasejarah). Letaknya berada di daerah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Kami berniat mendatanginya setelah tahu bahwa di situs itu akan dilakukan ekskavasi (penggalian) untuk membuktikan keberadaan piramida di bawahnya. Ini untuk antisipasi jika saja setelah digali pengunjung tidak diperbolehkan masuk, maka kami pun meluncur ke sana. 

Menggunakan kendaraan yang dipinjam dari orang tua dari Bandung, kami menuju ke arah Sukabumi melalui Cianjur dengan patokan Jalan Raya Warung Kondang. Anda bisa menggunakan bis umum jurusan Sukabumi dari Bandung untuk sampai sini.

Waktu tempuh ideal sampai ke Jalan Raya Warung Kondang kira-kira 2 jam. Setelah menemukan plang penunjuk arah ke situs, kita masih harus masuk sejauh 20 kilometer ke dalam dengan kondisi jalan yang kadang halus, namun lebih banyak yang berbatunya (tidak disarankan menggunakan mobil pendek). 

Tanda penunjuk arah bisa kita temukan dengan jelas di jalan ini, walaupun jaraknya berjauhan antara yang satu dengan yang lain.

Kami pun tidak melihat kendaraan umum melintas melalui jalan. Jadi mungkin pengguna kendaraan umum harus menyewa angkutan umum ke dalam.

Akhirnya kami sampai di depan gerbang situs megalitikum. Setelah parkir, kita masih harus menempuh jalanan lagi sekitar 500 meter. Ada penyedia jasa ojek. Namun kami lebih memilih jalan kaki.

Gerbang Masuk

Dengan membayar retribusi resmi Rp. 1000 per orang (sungguh sangat murah), kami mulai mendaki tangga menuju punden berundak yang ada di situs megalitikum ini.

Pos Pembayaran Tiket Masuk

Ada 2 tangga yang bisa digunakan, sebut saja tangga orisinil dan satu lagi artfisial. Yang orisinil adalah jalur yang memang asli dibuat sedari dulunya dari zaman prasejarah, dengan kondisi yang curam. Sementara jalur artifisial adalah jalur buatan pengelola situs, dibikin baru-baru saja untuk membantu mengurangi kecuraman.

Ayo, dipilih mau lewat mana?

Kecuraman Jalur Asli😀

Sesampai di atas, dengan kaki yang lumayan pegal, kita akan menemukan situs punden berundak. Secara awam punden berundak saya terjemahkan sebagai bangunan prasejarah yang memiliki beberapa tingkat. Jangan bayangkan bangunannya seperti rumah atau gedung zaman sekarang, di Gunung Padang ini semuanya tersusun dari bebatuan besar dan tanpa atap. Jadi secara sekilas kita melihat sekat-sekat dari bebatuan tersebut.

Ada lima tingkat yang bisa diidentifikasi di situs Gunung Padang ini. Di tingkat pertama ada menhir dan semacam ruangan. Yang unik pula terdapat dua batu yang bisa menimbulkan nada suara, padahal batu itu tidak kopong dalamnya alias padat. Sudah ada yang meneliti secara ilmiah tentang nada suara apa yang dimaksud. Mitosnya, sering terdengar suara-suara dengan sendirinya jika malam hari dengan seorang pesinden yang bernyanyi.

Salah satu ruangan di tingkat 1

Batu bertangga nada

Di tingkat kedua dan ketiga terdapat batu dengan lubang-lubang kecil menyerupai jejak kaki macan dan rusa. Namun saya tidak mempercayai itu sebagai jejak binatang asli, mungkin lebih ke kejadian alamiah pada batu-batu itu.

“Tapak Macan”

Di tingkat keempat, hal yang cukup menarik perhatian banyak orang adalah batu besar. Mitosnya, yang bisa mengangkatnya akan terkabulkan keinginannya. Saya mencobanya (tanpa keinginan apapun ya), dan tidak bisa mengangkatnya. Kalau ga kuat jangan dipaksa, daripada encok. Hehe

Berat euy…

Dan di tingkat puncak, konon katanya di situlah singgasana penguasa zaman dulu. Dan kami malah foto dengan foto melompat-lompat di situ.

Hyaaat….

Terakhir, sebagai tips, tentu saja akan lebih baik jika kita telah memiliki pengetahuan terlebih dahulu mengenai situs Gunung Padang ini dari kajian sejarah dan arkeologis sehingga tidak blank dan meaningless saat sampai di sana. Di sana sebetulnya terdapat pula guide resmi, namun setelah saya curi-curi dengar sedikit penjelasannya, masih agak bercampur dengan penafsiran dan cerita-cerita yang subjektif.

Berhubung kami mendadak saat itu, jadi kami membaca kajian-kajiannya setelah pulang. Anda bisa cari di situs forum-forum arkeolog atau sejarah. Dan banyak kajian dan pendapatnya, tidak hanya satu lho.

Nah, berikut dokumentasi video yang dibuat oleh Iril: http://www.youtube.com/watch?v=PSyXaKtis5o