Belajar dari Perjalanan “Che”

by Fadhli

Beberapa hari ke belakang saya selesai membaca biografi bergambar berjudul “Che karya Spain Rodriguez dan menonton film The Motorcycle Diaries yang juga tentang Ernesto Che Guevara. Sebenarnya saya tidak terlalu mengidolakan Che, tapi saya nampaknya selalu tertarik dengan kisah yang memuat tentang perjalanan atau penjelajahan.

gambar: books.google.co.id

Cerita dalam dua media tadi diambil dari catatan Che selama melakukan perjalanan di seputar Amerika Selatan dengan seorang kawannya yang bernama Alberto Granado. Keduanya menggunakan motor jenis Norton 500 yang dijuluki La Pedorosa yang berarti “Si Perkasa.” Mereka memulai perjalanan saat Che belum menyelesaikan kuliah kedokterannya dengan rute dari Buenos Aires dan berakhir di Venezuela. 

Perjalanan itu kemudian menjadi sarana Che untuk melihat kondisi sosial masyarakat Amerika Selatan, terutama di komunitas masyarakat pribumi yang disinggahi. Dan itu yang membuat Che melakukan gerakan revolusi pada akhirnya.

Kisah lengkap silakan baca dan tonton sendiri, ingat blog ini hanya tulisan yang selintas ya (lihat url nya dong… hehe).

Tapi setidaknya ada dua impresi kuat yang saya tangkap dari kisah perjalanan Che. Ini lepas dari masalah ideologinya ya… Yang pertama adalah proses dan substansi perjalanannya. Dan yang kedua adalah kegigihannya.

Dari sisi perjalanan, Che pada prosesnya tidak sekedar melakukan travel yang bersenang-senang dan berfoya-foya. Nyatanya memang mereka tidak membawa (dan tidak punya) uang banyak. Dan di perjalanan justru menemui beberapa kendala, mulai dari tenda yang hilang, motor mogok, jatuh, dan sebagainya. Dalam catatan perjalanannya, Che juga mendokumentasikan kondisi sosial di tempat-tempat yang dia singgahi.

Dan tidak cukup berhenti sampai pencatatan dan kepedulian, Che secara langsung turut membantu komunitas. Episode yang terpenting mungkin saat membantu komunitas penderita kusta yang diisolasi di satu daerah. Dia membantu membangunkan rumah warga, membujuk seorang yang awalnya menolak dioperasi, dan berbaur tanpa kesenjangan. Anggota komunitas malah menyebutnya, “He is the real man” karena tidak takut bersalaman dengan penderita, padahal perawat-perawat tidak memperbolehkannya.

Nah, buat semua yang bercita-cita untuk melakukan banyak perjalanan, termasuk saya sendiri, sebaiknya kita memang memiliki nilai lebih dari perjalanan kita. Ada banyak contoh lain yang bisa diambil, misalkan perjalanannya adalah perjalanan menuntut dan menyebarkan ilmu seperti Ibnu Batuta, atau Marco Polo yang sambil berdagang.

Impresi yang kedua adalah tentang kegigihan. Saat menonton, saya mengasosiasikan Che dengan Panglima Besar Jenderal Soedirman (dari satu sisi kegigihannya). Karena saat membaca dan menonton itu, saya baru tahu kalau Che juga adalah penderita asma kambuhan yang kalau bengek terlihat sangat kepayahan.

Tapi penyakit tidak membuatnya berhenti berjalan. Bahkan kemudian hari menjadi pemimpin gerilyawan yang keluar masuk hutan, persis seperti Jenderal Soedirman yang mengarungi hutan dalam tandu.

Bahkan satu saat Che nekat (dicampur keras kepala) untuk berenang menyebrangi sungai besar supaya sampai ke komunitas penderita kusta di malam hari untuk menyampaikan kata perpisahan sebelum pergi meninggalkan mereka. Sesuatu yang tidak pernah dilakukan orang sebelumnya.

Memang mungkin begitu juga harusnya buat seorang petualang. Menikmati perjalanan dan membuat nilai lebih. Dan itu harus ditambah kegigihan, terutama dalam mengambil risiko dan pilihan. Karena perjalanan sering menghadirkan ketidakpastian dan guncangan-guncangan. Iya gak?

Let the world change you and you can change the world

sumber tambahan: wikipedia