Titip Doa buat Oma

by Fadhli

Malam ini karena baru saja melakukan satu pencapaian target ibadah di bulan puasa (walaupun telat dikit dari target), saya berniat melakukan “kenduri” buat diri sendiri: makan spesial.

Sampailah saya di satu tempat makan dengan ayam panggang sebagai menu utamanya. Ini pertama kali saya makan di tempat itu, sekenanya saja saya temukan sambil menyusur jalan.

Hingga menu ayam panggang dihidangkan di depan mata, saya segera teringat kepada Oma (Ibunya Ibu) saya. Ah, ini 1 Agustus. Sudah enam tahun Oma berpulang ke sana.

Kenapa ayam panggang? Karena kalau di rumah lagi ada rezeki untuk beli ayam, dan akan masak dengan menu ayam panggang, Oma-lah yang biasa masak dan membumbuinya dengan lezat. Warnanya kecoklat-coklatan. Selain juga biasa memasak panganan khas lainnya yaitu kue cucur dan binde biluhuta (sayur jagung) khas tempat kelahiran beliau, Gorontalo. 

Sebenarnya saya sudah pernah menulis beberapa memoar berkesan dengannya. Tapi tidak apa, sekarang saya menulis proses berpisah terakhir di dunia ini dengan beliau.

Jadi, beberapa pekan (mungkin mencapai sebulanan) sebelum beliau berpulang, saya mengunjunginya di daerah Babelan, Bekasi. Waktu itu saya masih kuliah. Jadwal kunjungan kalau Oma lagi di Bekasi biasanya akhir pekan, menginap di sana. Saya curhat kehidupan dan kuliah, kadang menemaninya jalan ke mall (#gaya) atau ke tempat saudara yang lain di daerah situ juga.

Saya menceritakan proses aplikasi beasiswa berasrama (dan ber-uang saku) yang sedang saya ajukan ke satu institusi. Singkatnya, beliau mendoakan supaya berhasil. Supaya beban-beban orang tua mulai berkurang. Abang saya pun sudah lulus dari salah satu sekolah kedinasan dan mulai bekerja.

Namun selain itu, saya juga menceritakan rencana berangkat ke Medan selama liburan yang akan segera tiba untuk mengunjungi saudara-saudara Ayah. Nah, di sinilah walaupun tanpa alasan dan dilontarkan sambil bercanda, Oma seperti berat mengizinkan, kalau ga salah malah bilang jangan. Ya tapi karena nadanya bercanda, saya tetap berangkat.

Di Medan, saya liburan. Sampai mendapatkan pengumuman bahwa saya diterima dalam program beasiswa itu. Maka saya pun harus pulang ke Depok untuk mengurusnya. Dan belum bertemu lagi dengan Oma. Hanya bertelepon. Dikarenakan saya harus masuk kamp pelatihan yang diadakan institusi beasiswa itu sebelum masuk asrama.

Nah, 1 Agustus 2006 siang hari, saat saya sedang di kamp pelatihan, telepon dari Abang berkali-kali masuk. Tapi karena sedang di tengah sesi diskusi, saya matikan. Saya balas sms, “Lagi di seminar, Bg. Ada apa?” Balasannya sungguh membuat saya sedih dan panik, karena menyatakan Oma sudah meninggal.

Maka saya hampiri panitia pelatihan sampai ke depan podium seminar karena panitia itu sedang memoderatori seminar. Saya meminta izin untuk menunaikan kewajiban terhadap jenazah Oma. Saya berangkat ke Bekasi.

Alhamdulillah, masih sempat saya bantu proses pemandian jasadnya yang sudah mendingin. Saya pun meminta izin kepada keluarga untuk menjadi imam sholat jenazahnya. Di kuburan dengan matahari yang sudah mulai menghilang, saya juga temani turun ke liang lahatnya.

Mulai saat itu, kami berpisah sudah secara fisik di dunia ini dengan salah satu inspirasi kami untuk rajin membaca karena Oma juga biasa melahap buku di usianya yang sudah senja. Oma yang biasa menyediakan waktu khusus antara sholat maghrib dan isya untuk wirid dan dzikir.

Oma yang suka mengajak dan membiasakan berjalan kaki (walaupun kadang saya menolak, hehe). Oma yang tidak asing entah karena kemampuan merenda atau hal lainnya di kalangan tetangga di manapun dia tinggal (di rumah kami di Cimahi, atau di rumah anaknya yang lain baik yang di Cipinang maupun Bekasi).

Oma yang suka bilang, “Ati olo…” (kira-kira artinya, aduh sayang… diucapkan dengan nada mengasihani) kepada cucu-cucunya kalau lagi ada masalah atau kalo lagi kena marah.

Maka di kenduri kecil ini, di bawah pancaran bulan Ramadhan, saya sertakan juga doa untuk Oma. Semoga beliau sudah melihat indahnya taman-taman surga, dinaungi pengampunanNya dan rahmatNya… Juga semoga Oma ga marah karena saya ingetnya karena makanan (ayam panggang), hhe… Tenang, beliau suka bercanda koq.

Mohon doa juga ya dari pembaca…😀