Selintas Perjalanan ke Filipina (+ Singapura)

by Fadhli

Kali ini saya akan menceritakan secara selintas perjalanan saya ke Filipina pada akhir Juni sampai tengah Juli lalu, plus transit sekitar setengah hari di Singapura. Dengan kedua perjalanan itu, jadilah di paspor saya tertera tanda imigrasi dari empat negara selain Indonesia, yaitu Bangkok, Nepal (2011), Filipina dan Singapura (2012).

Sama seperti perjalanan saya ke luar negeri sebelumnya, saya bisa terbang ke Filipina karena menjadi salah satu peserta suatu pelatihan (bukan banci konferensi ya, tapi mafia! haha). Pelatihannya bertemakan “debat dan produksi media bagi para pemuda.” Segala transportasi dan akomodasi ditanggung oleh sponsor sekaligus penyelenggara. (Kalo mau tau detail jelasnya, kontak saya aja ya, ini tulisan bukan resmi soalnya, jadi ga bawa institusi, tapi bukan hoax juga koq, jamin! :D) 

Pada tanggal 19 April 2012 saya mengirimkan aplikasi. Setelah diundur sekitar lima hari dari jadwal seharusnya, pada tanggal 12 Mei 2012 (saat saya lagi ekspedisi ke Gunung Gede tuh!), ternyata mereka mengumumkan bahwa saya terpilih menjadi salah satu dari 40 lebihan peserta lain. Tentu karena tidak bisa akses email di gunung, saya baru buka emailnya pada tanggal 13 Mei.

Sebenernya selain senang, tentu saya khawatir. Sebabnya adalah acara ini mengandung debat. Saya dulu pernah trauma gara-gara diketawain orang seruangan waktu debat di SMA. Gara-gara salah nyebut nama perdana menteri salah satu negara (#fatal). Mana pelatihan ini debatnya dalam Bahasa Inggris pulak!. Tapi bagaimanapun, saya ga boleh kabur dong. Berani melamar, harus berani bertanggungjawab #naon_deui.

Akhirnya setelah bulak-balik berkomunikasi dengan panitia terkait pengurusan tiket, pada tanggal 25 Juni tengah malam, saya (dengan teman saya sih sebenarnya yang bernama Waway) diterbangkan menuju Filipina dengan Cebu Pacific Airlines (iklan tidak berbayar). Sampai di Ninoy Aquino International Airport pukul 6.30 pagi gitu lah. Setelah tukar mata uang, kami pun diangkut penjemput ke lokasi pelatihan. Ternyata bukan di Manila, tapi di Kota Kawit, Provinsi Cavite, 30 menitan dari Manila.

Selintas Pelatihan

Pelatihan berlangsung pada dari tanggal 25 Juni sampai dengan 8 Juli. Tadi sudah disebutkan bahwa saya tiba pada tanggal 25 Juni pagi. Itu sesaat sebelum pelatihan secara resmi dibuka oleh panitia. Artinya, tidak ada waktu mandi, dan mandi terakhir adalah 24 Juni sore (penting dibahas!). Tapi tak apa, orang mana tau. Dengan percaya diri saya mengelilingi peserta yang sedang santap pagi dan berkenalan. “Good morning everyone, my name Zul, from Indonesia…” (lupa udah sikat gigi atau belum :D)

Secara umum, pelatihan berlangsung setiap harinya dari pukul 08.30 dan berakhir pukul 19.00, kadang lebih jika ada kelas opsional. Kelas pagi itu berisi debat, sampai bosen, eh, sampe makan siang maksudnya. Setelah makan siang kelas jurnalisme sampai menjelang sore, dan sorenya produksi video sampai matahari terbenam. Ada beberapa kali juga kelas tambahan setelah itu seperti Social Media, perkenalan dengan alumni batch sebelumnya, dan kelas opsional seperti layout media, how to be a millionaire, dan sebagainya.

Di kelas debat kami diajarkan praktik dan metode (kompetisi) debat dengan menggunakan sistematika CRE (claim, reasoning, evidence). Pelatihnya adalah jagoan-jagoan debat. Di kelas kami kedua trainer berasal dari Filipina. Tapi di kelas sebelah, berasal dari New York, dan dulunya sempat menjadi guru SMP Lady Gaga.

Di kelas debat, padahal ga tau tuh ngomong apa…😀

Di kelas jurnalisme, pada akhir pelatihan kami diminta menghasilkan media memoir (semacam tulisan yang menceritakan bagaimana kita berinteraksi dengan media, atau hal yang paling berkesan terkait media), kemudian juga jenis tulisan fitur dan opini. Tentu saja dengan dibekali materi terkait karakteristik setiap media, bagaimana memformulasikannya, kaidah-kaidah, dan hal terkait lainnya.

Di kelas produksi video, di akhir pelatihan kami harus menghasilkan satu video singkat berisi berita secara berkelompok. Pelajaran yang kami dapatkan di sini cukup teknis, seperti mengambil gambar dengan kamera, pencahayaan, teknik wawancara, editing, dan lainnya.

Sesi pengambilan gambar… #yang artis siapa nih, malah sy yg diliatin org2…😀

Sebenarnya panitia juga menyediakan waktu liburan, sehari ekskursi ke daerah pegunungan di Tagaytay, walaupun pada akhirnya kami mengerjakan tugas video di sana (rajin!). Ada juga malam kebudayaan negara-negara peserta, dan pada malam terakhir, diadakan malam talenta juga.

Lagi di Tagaytay, latar belakang area Taal Volcano, gunung api terkecil di dunia

Bagaimanapun, bagi saya tentu ini sungguh bermanfaat, walaupun jujur juga sangat melelahkan. Kami kadang harus tetap terjaga hingga larut malam karena banyak tugas yang harus diselesaikan. Mulai dari tugas individu membaca dan menulis (untung ga ditambah berhitung!, hehe), tugas kelompok seperti merencanakan video dan menulis fitur. Belum lagi berkonsultasi dengan para trainer.

Just enjoyed, dengan dopping minimal 3 cangkir kopi sehari dan 2 gelas minuman berkarbonasi setiap makan. Huff…

Oh iya, yang mau baca hasil media memoir saya, klik di sini

(lanjutannya kisah klik di sini)