Selintas Perjalanan ke Filipina (+ Singapura) Bag. 2

by Fadhli

Setelah menyelesaikan pelatihan pada tanggal 8 Juli 2012, saya dan Waway tidak langsung pulang ke negara asal seperti hampir semua peserta lain. Kami merencanakan backpacking ke beberapa tempat di Filipina. Dengan segala dinamikanya (#naon) kami bisa juga menyelesaikan misi ini dengan bekal utama peta, ditambah buku tulisan orang Indonesia yang sebelumnya pernah ke Filipina. Berikut ringkasannya.

Anilao

Ketika peserta lain diantar ke bandara, saya dan Waway minta diantar ke terminal bus. Berdasarkan buku pegangan, nama terminalnya: Florida, terletak di dekat stasiun LRT (light railway transit) Gil Puyat. Anehnya, supir tidak tahu nama terminal itu, beliau hanya tahu stasiun Gil Puyat. Maka diantarlah kami ke stasiun Gil Puyat, dan benar tidak ada terminal Florida. Ya, siapa tau memang sudah berubah, karena bukunya ditulis beberapa tahun lalu. 

Setelah bertanya-tanya dengan sedikit ragu, walaupun bukan di terminal bis Florida, akhirnya kami menemukan bus dengan tujuan Batangas Pier. Dengan ongkos 125 peso (1 peso waktu itu = 238 rupiah), bus membawa kami ke Grand Terminal di Batangas. Dari Grand Terminal kami melanjutkan dengan jeepney (angkot) ke pertigaan antara Anilao dan Batangas dengan ongkos 35 peso. Dilanjutkan sekali lagi naik tricyle (becak bermotor) dengan ongkos 50 peso. Total perjalanan sekitar 3 jam.

Akhirnya, kami sampai di penginapan pinggir pantai bernama Anilao Beach Club. Sebelumnya kami telah memesan kamar online melalui Agoda dengan harga $71,8 untuk overnight.

Image

model penginapannya kayak gini…😀

Di Anilao ini memang terkenal katanya sebagai tempat diving dan snorkeling. Beberapa orang asing dari diving club juga nampak berada di sana. Namun karena biaya diving mahal, dan saya tidak bisa berenang, maka lebih baik memilih snorkeling saja. Untuk sampai ke situs terumbu karang yang bagus, kami menyewa kapal seharga 2500 peso untuk seharian.

Image

Pemandangan dari pinggir penginapan….

Maka kami pun melakukan snorkeling sesaat setelah makan siang, tak lama setelah baru saja sampai di sana. Menurut Waway, sebenarnya kondisi terumbu karang di Karimun Jawa masih lebih bagus, hanya saja banyak ikannya di sini. Saya disarankan membawa roti atau biskuit untuk disebar pas turun ke air, dan ikan-ikan berwarna-warni pun akan datang mengerubungi.

Image

Dikelilingi ikan warna-warni…😀

Kegiatan tambahan lainnya adalah mendayung kayak setelah snorkeling.

Image

Kayak…

Pada malam harinya kami beristirahat, dan keesokan harinya menjelang siang kami check-out dari hotel untuk melanjutkan perjalanan.

Bicol dan Naga City

Dari Anilao, dengan rute yang sama kami kembali ke Manila, tepatnya ke Stasiun LRT Gil Puyat. Dari situ kami menuju Stasiun LRT Bambang (mungkin terinspirasi dari orang Jawa :D), stasiun yang terdekat untuk menuju stasiun kereta antarpropinsi Tutuban.

Dari Tutuban kami berniat menuju Bicol dengan kereta yang hanya ada satu kali sehari, berangkat pukul 18.30. Namun kami sempat dibuat shocked oleh Mbak-Mbak penjual tiketnya, karena dia bilang harus menunggu sekitar satu jam lagi untuk mengonfirmasi apakah kereta hari itu akan dioperasikan. What?! Padahal kami sudah memesan hotel di Naga City lho. Tapi apa daya, mereka bilang begitu, daripada kami disuruh mengemudikan kereta sendiri #ngarang, lebih baik kami menunggu.

Kami pun menunggu di tempat makan di stasiun. Saya memakan popmie (#cari halal dan aman). Sambil memikirkan bagaimana jika kereta benar-benar tidak berangkat. Di tengah ketidakpastian, datang si Mbak-Mbak penjaga loket, sengaja menghampiri kami dan bilang, “Setelah makan, kamu bisa beli tiket, kereta akan berangkat sore ini…” Yippi, dengan tiket promo seharga 600 peso lebih, kami bisa mendapat kelas sleeper.

Sebelum berangkat, kami awalnya sempat bingung mencari tempat sholat, karena sudah tentu tidak ada, dan itu wajar di negara lain. Akhirnya saya beranikan diri bilang ke satpam untuk sholat di salah satu area stasiun. Alhamdulillah, kami menggelar sajadah bergantian (karena barang juga harus dijaga). Mungkin begitu rasanya menjadi “minoritas”, dan perlu memberanikan diri untuk hal-hal begitu, selama tidak mengganggu kenyamanan orang lain.

Kereta pun berangkat. Perjalanan akan menghabiskan waktu malam, sekitar 10jam. Tidur adalah obat yang jitu untuk menghindari getaran dan rasa kereta yang berguncang-guncang (jujur lebih mulus naek Argo Bromo atau Argo Parahyangan :D). Sudah tidur pun kadang masih terbangun karena guncangan.

Image

Bicol Express, Kereta Antarpropinsi

Image

Kelas sleeper bertingkat, macam di kapal laut

Sesampainya di stasiun Bicol, kami langsung menuju hotel yang sebelumnya sudah dipesan, untuk overnight juga seharga $ 26,14 tambah 300 peso untuk early check-in. Setelah simpan tas, kami pun menuju Cagsawa Ruins dan Lignon Hill dengan menggunakan transportasi semacam elf, harga sekitar 180an peso kalo ga salah untuk waktu 2jam-an.

Di Cagsawa Ruins, kami bisa melihat Mayon Volcano secara jelas. Gunung Api ini bentuk sangat melancip.

Image

Mayon Volcano

Image

Tugu di Cagsawa Ruins

Setelah itu kami menuju Lignon Hill, ini perbukitan juga sebenarnya. Dari atasnya kita bisa melihat Mayon Volcano (lagi), pantai, dan bandara Legazpi. Kondisi membawa tas gendong yang cukup berat, dan minim istirahat membuat saya cukup lelah. Mungkin juga karena kehilangan konsentrasi, ingin sampai buru-buru di atas, saya malah meninggalkan jaket yang dibeli kakak (mahal pulak), saat saya istirahat sebelum mencapai puncak. Setelah sadar, saya mencari dan sudah tidak ada… Huhu….

Image

Bandara (lokal) Legazpi dan Tepi Pantai dari Lignon Hill

Setelah lelah, kami kembali ke Naga City untuk beristirahat di hotel. Keesokan harinya, setelah check-out dan menitipkan tas di hotel, kami berkeliling di Naga City.

Tujuan pertama adalah Universitas Nueva Caceres, universitas tertua di Propinsi Bicol. Di dalamnya ada museum, namun berhubung kala itu sedang istirahat siang, museum ditutup. Kami pun tidak jadi masuk.

Image

Universitas Nueva Caceres

Dari universitas tadi, kami melanjutkan ke Holy Rosary Minor Seminary, dalam kompleks gereja tua Porta Mariae.

Image

Gereja Tua

Setelahnya, untuk menunggu kereta kembali ke Manila jam 18.30 sore, kami menghabiskan waktu untuk nonton bioskop… Dan dengan menumpangi kereta yang sama, kami kembali ke Manila.

Manila

(Ini kayaknya udah kepanjangan ya?? #padahal udah males nulis, wkwk)

Baik, lanjut sedikit lagi. Di Manila kami tinggal di Hotel Atrium seharga $47,55 ditambah charge 1200 peso untuk early check-in (mahal untuk hotel yang berkelas, tapi tanpa wi-fi).

Hari pertama di Manila, kami mengunjungi Intramurous Park, semacam kota tua yang kaya dengan sejarah pembebasan Filipina dari penjajah (terutama tokoh Jose Rijal). Masih terdapat pula peninggalan Kerajaan Islam, Raja Sulaiman.

Image

Image

Image

Dari Intramuros, kami melanjutkan perjalanan ke Rizal Park di pusat Kota Manila.

Image

Malam harinya kami berbelanja souvenir di Mall of Asia, yang katanya terbesar di Asia Tenggara. Di sana sempat ketemu orang-orang Indonesia juga yang sedang berbelanja. Mereka adalah mahasiswa yang sedang melaksanakan program pertukaran singkat.

Esok harinya, sambil menunggu waktu petang untuk meninggalkan Manila, kami masih menyempatkan juga sholat Jumat di daerah Baguio, menemui teman pelatihan asal Filipina di dekat De La Salle, lalu ditemani ke Istana Presiden, dan salah satu universitas negeri di sana.

Demikian selintas perjalanan saya di Filipina. Dan sebagai bagian terakhir, akan saya sampaikan reportase perjalanan dalam rangka transit di Singapura nanti ya…

(bersambung)

Info Tambahan terkait Filipina

> Jika orang Indonesia ke Filipina, mereka akan dikira sebagai orang Filipina juga karena paras dan postur tubuh sangat mitip. Bahkan perlu meyakinkan orang (terutama penjaga toko) bahwa kami bukan orang Filipina karena mereka tetap berbicara dalam Bahasa Filipina.

> Beberapa moda transportasi umum yang ada di Filipina: 1) jeepney, ini model oplet kalau di Indonesia. 2) tricycle, ini model becak bermotor. 3) LRT, ini model KRL komuter.

Image

Jeepney

Image

Tricycle

> Makanan di sana kurang pedas. Kami yang dari Indonesia sepakat tentang hal ini. Bahkan yang dinamakan saus sambal di sana rasanya asam lho. Siap-siap bersabar terkait makanan, atau bawa bumbu sendiri😀

> Kondisi jalan di sana ramai, dan macetnya di jam-jam padat juga tidak kalah dibanding Jakarta.