Selintas Perjalanan ke Filipina (+ Singapura) – Tamat

by Fadhli

Baik, ini seri terakhir dari tulisan selintas perjalanan sepulang dari Filipina, tepatnya ketika transit di Singapura sebelum sampai di Jakarta kembali.

Dari Manila kami diangkut terbang oleh maskapai Jet Star sekitar pukul sembilan malam, dan tiba di Changi International Airport Singapura tengah malam. Tidak banyak yang dilakukan di malam hari di bandara yang keren ini kecuali update status di Facebook (dengan internet gratis), pijat kaki di mesin gratis, dan tidur meringkuk di sofa.

Saat sedang nyenyak-nyenyaknya tidur, kami dibangunkan oleh petugas keamanan. Mereka memeriksa paspor, menanyakan tiket dan tujuan. Saya pikir mungkin sesuatu telah terjadi, tetapi karena ngantuk, ya tidak perlu tahu lah ada apa. Setelah diperiksa, saya kembali ke peraduan hingga fajar.

Pagi harinya kami janjian ketemu teman pelatihan asal Singapura yang sudah lebih dulu tiba di negaranya itu beberapa hari sebelum kami. Dengannya kami berniat mengunjungi beberapa tempat di Singapura. Kami keluar bandara pagi-pagi sekali karena harus terbang pulang pada pukul 12. Ancang-ancang kami paling lambat harus sudah tiba di bandara sekitar satu setengah jam sebelumnya. 

Kami akhirnya bertemu teman itu di stasiun MRT (mass rapid transportation) di bandara, karena kami akan naik itu. Tiket dibeli secara elektronik dengan memasukkan uang ke dalam mesin sesuai harga yang tertera termasuk deposit 1 $ Singapura. Mesin ini tidak mengenal kembalian. Setelah membayar, maka kami mendapat tiketnya, untuk ditempel di palang pintu masuk di stasiun pemberangkatan dan di palang pintu keluar di stasiun tujuan. Deposit bisa didapat kembali setelah kita mengembalikan tiket di stasiun tujuan.

Saya tidak ingat ke stasiun mana tujuan kami, karena asyik mengobrol. Yang jelas kami beberapa kali transit. Dari hasil mengobrol dan pengamatan, moda tranportasi MRT ini lebih maju dibandingkan KRL komuter di Ibukota. Kondisi stasiun dan dalam kereta sangat bersih. Penumpang tidak boleh makan di dalam kereta.

Informasi kedatangan kereta di stasiun tertera dalam papan hitung mundur yang tepat waktu. Keselamatan penumpang juga dijaga. Ada semacam pintu lagi di peron yang tidak akan terbuka sebelum kereta sampai. Dan hebatnya, pintu-pintu di peron itu sesuai posisinya dengan pintu-pintu keretanya jika berhenti, sehingga menjaga antrian penumpang tetap tertib.

Di dalam kereta juga informasi disampaikan dengan jelas, baik oleh announcer maupun papan tanda yang berkedip ke arah stasiun mana kita menuju di setiap pintu. Petunjuk disajikan dalam 4 bahasa: Inggris, Melayu, Hindi, dan Cina.

Tujuan kami pertama adalah Orchard Road, yang terkenal itu. Di daerah ini banyak mal-mal besar. Namun karena saat itu masih pagi, sekitar pukul 7, rata-rata pertokoan belum buka. Kami menyempatkan makan nasi ayam di salah satu kedai di daerah ini. Juga melewati Kantor Kepresidan.

Dari situ kami bergerak ke Little Indian. Dinamakan demikian karena banyak orang keturunan India di sini. Di sini dapat ditemukan kuil Hindu, terdapat juga masjid, dan Mustafa Center (pusat perbelanjaan).

Dari Little Indian kami mengarah ke China Town. Kondisi gerimis saat itu. Hal yang bisa ditemukan di sini adalah belanja murah, sebagaimana daerah glodok lah gitu… hehe… setidaknya itu yang teman Singapura kami bilang, yang ibunya orang Palembang. Kami membeli souvenir seperti gantungan kunci, dan kaus. Kami pun mengunjungi salah satu kuil Budha di sini.

Dari sini saya mulai melirik-lirik waktu, sudah pukul 10an gitu. Maka kami sampaikan ke teman kami itu. Akhirnya, sekalian jalan pulang kami temukan masjid juga di dekat daerah China Town. Teman Singapura kami malah yang mengajak masuk ke dalam untuk ambil foto.

Selesai dari situ, barulah kami menggunakan taksi untuk kembali di bandara.

Dan kami tiba di bandara, telah melewati waktu untuk boarding yang ditetapkan di tiket, sekitar pukul 10.55. Maka dengan kondisi panik kami berlari, di counter jetstar saya minta excuse untuk didulukan, dan dengan bantuan petugasnya, kami diizinkan tidak melewati mesin pemindai. Tapi oh, antrian imigrasi belum lagi… Beruntung imigrasinya cukup cekatan.

Lepas dari situ saya masih sempat menukarkan uang kembali ke rupiah, khawatir di Indonesia sulit. Lalu berlari ke boarding gate, dan ahh… masih ada antrian. Tidak lama berselang, kami diperiksa lagi segala barang bawaan, tiket, dan paspor. Tidak lama menunggu, kami naik pesawat dan terbang ke Jakarta.

[Tamat]