Pendakian Gunung Burangrang + (ditipu ke) Curug Layung

by Fadhli

Sambil sekalian pulang ke rumah di Bandung, saya berniat mendaki dahulu Gunung Burangrang yang terletak di daerah Cisarua, Bandung (bukan Bogor). Rencana mendaki malam pada hari Sabtu, 22 September 2012 dan turun keesokan harinya. Tentu seperti biasa: ala ngetengmania.

Perjalanan dari Depok saya mulai bersama seorang kawan, sebut saja (dan memang benar) namanya Rachmat😀 Kami menggunakan bis MGI untuk sampai Bandung, tepatnya turun di pintu tol Pasir Koja. Dari situ kami melanjutkan naik angkot menuju Cimahi dan berhenti di daerah yang namanya Cihanjuang.

Di Cihanjuang inilah saya bertemu anggota lain yang akan turut mendaki, yaitu Iril, yang bukan sulap bukan sihir adalah adik saya sendiri, yang bertugas sebagai fotografer. Dia sebenarnya naik motor, dan karena itu, saya menitipkan rucksack yang saya bawa supaya diangkut di motor, dan tas ransel Iril yang berukuran lebih kecil saya bawa, dengan niat supaya tidak repot di angkot. 

Dari situ Iril melaju sendiri ke arah pos pendakian yang jaraknya masih sekitar 30 menitan lagi. Sementara saya dan Rachmat melanjutkan naik angkot jurusan Parongpong. Dan ternyata, angkot ini rempong. Entah karena merasa sudah malam, padahal baru jam 6 lewat kami diturunkan saat belum setengah jalan dari tempat tujuan.

Karena tidak ada lagi angkot yang beroperasi menuju rute yang kami inginkan, akhirnya kami menyetop mobil bak terbuka, yang untungnya dia mau mengangkut kami, gratis pula (padahal kami sudah bersedia membayar). Kemudian dari Terminal Parongpong kami melanjutkan naek ojek sekali.

Ojek pun ternyata tidak tahu persis tempat yang dimaksud, dia menurunkan kami sekitar 1 km sebelum tempat asli. Dan di tempat inilah ada kabar yang tidak mengenakkan dari Iril yang sudah sampai duluan di pos. Harap diketahui, bahwa untuk masuk ke pos (komando) pendakian kita harus melalui pos Curug Layung terlebih dahulu. Nah, Iril bilang penjaga Pos Curug Layung tidak mengizinkan pendakian pada malam itu karena ada latihan tentara dari Australia sampai hari Rabu, menggunakan peluru asli, khawatir ada peluru nyasar. Catet: tentara Australia, peluru nyasar, sampai hari Rabu!

Iril balik arah dan ketemu di tempat turun ojeg, dia menjelaskan tempat yang bisa dikunjungi di sekitar situ paling Curug Layung. Bah, udah jauh-jauh dari Depok kalau ga bisa naek Burangrang sayang banget ini. Maka keputusannya ya sudahlah, kita coba dulu balik ke pos lagi, kalau memang takdir ga bisa naek, ya terpaksalah jadi wisata curug saja.

Benar, di Pos (Curug Layung) penjaga bilang tidak diizinkan mendaki Burangrang. Kami sebenarnya sudah mencoba langsung jalan ke arah Pos Komando (pos asli) untuk pendakian Burangrang, tapi malah diteriaki para penjaga untuk belok ke arah Curug Layung. Kemudian saya bertanya kepada mereka, “Ya udah deh Pak, saya mau ke Pos Pendakian dulu mau minta nomor kontak, biar ga jauh-jauh dari Depok gini tapi ga boleh…” Tapi para penjaga Curug Layung itu bersikeras dengan alasan yang sama. Tapi ada yang ga konsisten, mereka bilang, “Ya udah sekarang camp aja dulu di Curug, besok pagi mungkin bisa…” Waah, katanya tadi sampai Rabu, saya mulai ga percaya.

Akhirnya dengan pasrah kami menuju Curug Layung dan membuka tenda di sana, dengan tiket masuk 10ribu rupiah. Di mana letak curugnya pun kami tidak tahu karena sudah malam, yang terdengar hanya suaranya, ditambah kesal terhadap hal yang ga diduga ini. Tapi kami sudah merencanakan sesuatu untuk tetap sampai Burangrang.

Setelah makan malam dan istirahat sekitar pukul 10 malam, kami masuk tenda dan tidur. Jam 3 dini hari kami bangun dan memasak air hangat. Tenda kami bongkar. Sekitar jam 4 kami keluar dari area curug, di dekat pos bahkan mematikan senter dan mengendap-endap supaya ga ada penjaga yang terbangun. Kami menuju Pos Komando yang asli dan tarraaaa…. Penjaga pos masih tidur… hehe

Akhirnya kami menunaikan sholat shubuh dulu di luar pos, dan tidak lama setelah kami sholat, penjaga pos juga bangun, terdengar kecipak air dari kamar mandi pos. Semoga aja hal yang menyenangkan bisa terjadi. Bapak tentara penjaga pos kemudian bangun dan menanyakan apa maksud kami. Saya jelaskan lah maksud kami, termasuk apa yang terjadi di Pos Curug Layung.

Pos Resmi Perizinan Pendakian

Si Bapak Tentara dengan dingin merespon, “Kata siapa ada latihan? Kalau mau naik, naik aja Mas. Minta izinnya di sini, jangan di bawah. Izin resmi pendakian di sini, kalau orang bawah itu kan sipil.” Sial bener berarti tuh orang bawah, apa maksudnya coba menipu-nipu gitu?

Akhirnya setelah membayar uang kebersihan 5ribu rupiah, dengan tambahan apel dan buavita (padahal buat ngurangin beban, hehe) kami memulai pendakian pada pukul 5.30. Kesal masih ada karena pendakian yang semula akan dimulai malam, kemudian buka tenda di puncak seharusnya malam tadi, gagal. Jadi hari ini kami mendaki dan turun dalam setengah hari.

Sekitar 5 menit dari pos, kami melihat ada tangki air biru, nah jangan salah di sini. Jalur pendakian adalah ke kanan dan memasuki hutan pinus, setelah itu jalan akan menyempit dan itulah jalur pendakiannya.

Memasuki jalur komando itu jalannya berliku. Karena sebelum sampai puncak asli, kita akan menemukan beberapa puncak lain (2 atau 3 kalau tidak salah). Itu artinya, beberapa kali harus naik turun, naik turun. Ditambah medannya yang cukup terjal, paha bisa bertemu dada saat nanjak. Di satu area kami menggunakan bantuan tali webbing untuk sekedar meringankan beban naek.

Salah satu jalur terjal

Jalurnya yang sempit, ditambah kanan atau kiri atau keduanya adalah jurang. Tipenya hutan dengan pepohonan masih sangat banyak. Kita bisa melihat Kawah Sunda Purba juga dalam perjalanan itu. Kondisi tanah saat kami naik kering.

Keren, dan masih “perawan”…

Di satu tempat setelah sekitar 2/3 perjalanan, seperti terlihat ada pertigaan, yang ke arah kiri itu turun dan ada beberapa batang pohon melintang, maka ambillah arah yang itu. Karena kalau lurus, itu area “kakus”, dan bisa jadi itu juga tempat buka tenda. Sepanjang jalur setelah itu diberi tali rapia di sebelah kanan arah naik, karena di sampingnya adalah jurang. Salah-salah bisa berbahaya.

Akhirnya setelah hampir 3 jam pendakian, kami sampai di tanjakan setan, yang untuk naek sudah dipasang tambang.

Tanjakan “Setan” sebelum Puncak

Tak jauh dari situ ada tugu memorial pendaki yang meninggal pada tahun 2003. Di dekat situ pula ada pendaki yang sedang buka tenda. Setelah kami saling sapa, mereka bertanya, “Koq bisa naek lewat komando, kata rombongan yang lagi camp di puncak, mereka ga boleh karena lagi ada latihan?” Pengen tertawa rasanya, semacam sama-sama jadi korban acara “Kena Deh.”

Plakat Memorial

Di Puncak Tugu Triangulasi kami pun menemukan 2 rombongan lain. Salah satunya yang juga kena “tipu” penjaga pos curug dan mereka memutar lewat jalur pendakian lain yaitu Legok Haji. Sambil masak, kami pun menceritakan kronologi perjalanan kami kenapa bisa lolos dari pos curug layung.

Tim Lengkap di Tugu Triangulasi, 2050 mdpl

2050 mdpl plus…😀

Sampai sekitar pukul 08.30 di puncak dan kemudian memasak, makan sambil istirahat, jam 11 kami memutuskan untuk turun kembali. Waktu turun lebih cepat, bisa ditempuh 1,5-2 jam saja. Dalam pendakian ini, saya suka bercanda, “Tiaraaap wooiii, ada peluru nyasar, dari Australia tuuuh…” satu hal yang ga pernah ditemukan di dalam perjalanan. Dan sampai sekarang saya masih ga ngerti apa maksud mereka itu telah “menipu” kami. Maka saat pulang dari arah pos komando ke pos curug layung, saya sudah eneg aja, ga mau ngobrol dengan penjaga pos Curug Layung.