Krakatau, the Living Legend (2)

by Fadhli

Jumat 5 Oktober 2012. Dua puluh delapan peserta naik bis pukul 11 malam dari Kampung Rambutan. Itu mundur satu jam karena sebagian besar tim terjebak macet menuju Kampung Rambutan. Dan yang agak bikin kesal, walaupun kami sudah mengisi hampir penuh bis, bisnya masih aja ngetem. Kira-kira jam 11.30 malam bis baru bergerak.

Krakatauers dan barang bawaannya…😀

Dari Kampung Rambutan bis melaju ke arah Merak, awalnya suara cekakak-cekikik dari para peserta masih terdengar, tapi seiring malam semakin larut dan pagi menjelang, peserta menjadi hening karena tidur. 

Saya merem melek merem melek di bis ini karena kebagian tugas jaga *ronda . Dalam bis ini saya ingat dua kali terhambat dengan kondisi padat merayap karena ada kecelakaan dan perbaikan jalan. Dengan demikian, sampai di Pelabuhan Merak yang dijadwalkan di itin seharusnya 00.30 molor sampai jam 03.30.

Transportasi berikutnya yang kami tumpangi adalah kapal ferry ro-ro (roll in – roll out, kayak deodorant aja ini, hhe) dengan nama Jatra II. Berangkat hampir pukul 4, kami menguasai hampir setengah kursi di kelas eksekutif. Di kapal ini yang banyak dilakukan juga adalah tidur. Sekitar pukul 6 kami baru tiba di Pelabuhan Bakaheuni.

Selamat Datang di Lampung😀

Di Bakaheuni supir angkot yang akan kami carter sudah menunggu lama sebelum kami tiba. Dia bilang biasanya orang-orang kalau menuju Dermaga Canti, tempat kami bertolak dengan kapal kayu untuk ke Krakatau nanti, adalah dini hari sekitar jam 4. Tapi tidak mengapa, namanya itu hal yang tidak terduga. Tiga angkot yang kami sewa akhirnya melaju dan menghinggakan kami di Dermaga Canti sekitar pukul 08.00.

Di Dermaga Canti, Kapten Kapal beserta kru sudah menunggu, sementara tim kami dipersilakan sarapan terlebih dahulu, tidak lupa membeli 4 galon air mineral untuk persediaan menginap. Tidak lama setelah itu, kapal pun bertolak. Sebagai tambahan, ada 3 orang lain yang ikut dalam kapal kayu kami menuju Krakatau karena mereka tertinggal rombongan perjalanannya.

Dermaga Canti

Harinya Snorkeling dan Bermain Air
Hari pertama dalam perjalanan Krakatau ini dihabiskan dengan snorkeling. Awalnya ada empat titik yang akan dijajal, yaitu Sebuku Kecil, Sabesi, Umang-Umang dan Lagoon Cabe.

Kapal pun mulai membelah lautan menuju Pulau Sebuku Kecil sekira 1,5 jam dari Dermaga. Peserta asyik mencoba duduk di bagian kapal paling depan, merasakan ayunan ombak macam kora-kora dufan versi mini. Teriakan karena kaget saat melawan hempasan ombak terdengar.

Menantang Ombak di Ujung Kapal

Mengefektifkan waktu untuk istirahat sebelum snorkeling

Namun melihat kondisi gelombang yang cukup tinggi di daerah Sebuku Kecil, kemudian memang titiknya yang tidak terlalu bagus, diputuskan untuk pemanasan saja dan memberi pengarahan sedikit tentang dasar-dasar snorkeling kepada mereka yang belum pernah melakukan sebelumnya. Lagipula cuaca panas saat itu. Sekitar setengah jam dihabiskan di Pulau Sebuku Kecil ini.

Pemanasan di Sebuku Kecil

Kapal kemudian melaju ke Pulau Umang-Umang. Di sini adalah titik snorkeling pertama kami. Di dasarnya ada terumbu karang #ya iyalah namanya juga snorkeling dan ikan-ikan kecil.

Tapi ikan-ikan itu ga bisa “disogok” dengan biskuit. Saya membawa crackers dan menaburkannya di daerah yang banyak ikan, tapi ikan-ikan itu ga agresif ke atas, tapi menunggu biskuit itu jatuh. Ya, ga jadi deh dikerubutin ikan.

Keindahan terumbu karangnya, menurut beberapa teman juga tidak sebagus di Pulau Pramuka. Tapi tidak mengapa, sebagai permulaan awal setelah beberapa bulan tidak kena air laut.

Snorkeling di Area Pulau Umang-Umang

Karena mulai merasakan lapar dan capek, maka selanjutnya kami berniat akan langsung ambil makan siang saja di Pulau Sabesi sekitar setengah jam dari Pulau Sebuku Kecil, dan satu titik snorkeling di Sabesi dilewatkan.

Setelah makanan dan peralatannya siap di Pulau Sabesi, ternyata kami tidak langsung makan tetapi membawanya ke Pulau Rakata yang masih sekitar 2 jam lagi. Oleh karena itu, makanan ringan kembali menjadi pilihan dan… tidur lagi untuk tidak merasakan lapar.

Ketika bangun, dan melihat arah ke mana kapal menuju, waaah… ternyata sudah mendekat ke Krakatau Sang Legenda Hidup. Badannya terbakar, dengan ciri dipenuhi kepulan asap di puncaknya, tapi tetap kekar. Warnanya pasirnya kecoklatan tanda lama dipanaskan.

Gunung Anak Krakatau, Sang Legenda Hidup

Di seberangnya kami bisa melihat Pulau Rakata, itu adalah salah satu puncak dari Gunung Krakatau yang dahulu meledak. Dan Rakata, hanya satu pertiga dari bagian Gunung Krakatau yang meletus di tahun 1883.

Setelah singgah di pos perizinan Gunung Anak Krakatau, kami melintasi area Gunung Krakatau yang dulu hilang. Enam miliar ton kubik tanah hilang ketika Gunung Krakatau dahulu meletus, ditandai dengan warna laut yang lebih dangkal saat ini, bukti ada daratan dahulunya.

Anak Krakatau (kanan) dan Rakata (kiri)

Di Puncak Pulau Rakata, masih membekas aliran magma tempat keluarnya erupsi. Di antara Gunung Anak Krakatau sekarang dengan Pulau Rakata, terdapat beberapa bongkah batu yang berdiri sendiri, sebagai sisa letusan yang muncul. Saya sungguh takjub jika membayangkan bagaimana dahulu Krakatau ini meletus, dengan segala karakteristik letusan dan fenomenanya…

Bekas aliran magma di Pulau Rakata

Kapal kemudian merapat di Pulau Rakata, tempat kami mendirikan tenda. Tentu saja makan siang yang sudah kami bawa dilahap dulu. Menuju ikan, tempe allright, sambelnya yang bikin ketagihan #alasan untuk menutupi kelaparan, telur dadar, dan sayur, tapi sayur apa ya? Nangka kalau tidak salah.

Tenda-tenda didirikan…

Setelah makan, sebagian peserta ada yang snorkeling lagi di area Lagoon Cabe, dan sebagian pria punggawa perkasa bertugas mendirikan tenda dan jemuran. Oia, sholat juga jangan sampai terlewatkan dengan menggelar fly sheet sebagai alas.

Sholat…

Saya pun menjajal area snorkeling yang bagus di Lagoon Cabe, mencoba jauh hingga ke tengah. Ini adalah area terbagus yang pernah saya temui untuk snorkeling sampai saat ini. Walaupun terumbu karangnya dangkal dan saya terluka di telapak tangan karena menyentuhnya, begitu pula bagian lutut. Goresan membekas dan meninggalkan luka #halah.

Seru-seruan tambahan adalah karena menaiki perahu kecil yang dibuat dari bongkahan kayu pohon mangga yang dilubangi tengahnya. Gampang oleng euy… Selain itu, beberapa kru kapal juga memancing, kalau kami biasa memancing kehebohan, mereka memancing binatang laut asli. Ada yang mendapatkan gurita, dan ikan yang bentuknya seperti belut, tapi panjang dan gede banget…

Perahu terbuat dari bongkah pohon mangga yang dilubangi tengahnya…

Bhe lagi megang Gurita (yang akan digoreng…)

Ikan apa ya namanya? Temen-temen bilangnya “Ikan Gila”

Setelah puas snorkeling ria, waktu senja pun tiba. Para peserta membersihkan diri dan bersiap-siap sholat lagi. Ada yang cerita ke saya, bahwa kru kapal bilang baru kali ini dia membawa rombongan yang sering sholat (padahal kita juga udah digabung dan disingkat lho sholatnya, jama´qashar). Kru ini sampai curcol, “Kapan ya Mas saya bisa mulai sholat, padahal hidup tinggal nunggu mati” – intermezzo

Setelah sholat, kami pun masak, sebagian membuat api unggun, diiringi obrolan dan candaan ringan, termasuk ngopi. Untungnya tidak ada yang bawa kopi bermerk T*p. Jika ada yang bawa, baru saja mendirikan tenda, ntar dia udah bilang, ”Bongkar! Bongkar! Bongkar!” Itu kopi orang Indonesia apa kopi Satpol PP jadinya? Hahaha

Saat makan malam sudah siap dengan menu ayam goreng, lontong yang dibawa dari Kampung Rambutan, sayur sop, gurita goreng yang dibikin oleh kru kapal, kami pun melahapnya bersama di pinggir pantai. Seru banget. Sampai akhirnya air mulai mendekati tempat makan dan kami pindah ke area tenda.

Makan gelap-gelapan…

Di area tenda, kami berdiskusi tentang persiapan pendakian ke Gunung Anak Krakatau esok hari. Disepakati kami akan berangkat dari Pulau Rakata ini jam 4 pagi, kemudian sholat shubuh di sana sebelum naik.

Malam ditutup dengan kisah sejarah Krakatau yang nampaknya membuat sebagian orang makin mengantuk, dan terlelap, mungkin itu tanda bahwa saya bukan calon motivator hebat, tapi mungkin ahli hipnotis… hahaha

Sebagian peserta dongeng pengantar tidur…😀

Karena sebagian sudah terlelap, ya acara selanjutnya adalah tidur menunggu pagi. Saya memilih tidur di luar tenda, karena merasa kepanasan, padahal cuma pakai sehelai kaos lho. Tapi jangan ditiru ya lain kali, karena bahaya untuk paru-paru, selain tanahnya yang dingin, juga kita menghirup banyak karbon yang dikeluarkan pepohonan di sekitar kita.

Klik di sini untuk lanjut bagian terakhir…😀