Krakatau, the Living Legend (Tamat)

by Fadhli

7 Oktober 2012. Pagi-pagi sekitar pukul 3, peserta mulai berbangunan <– *bahasa apa sih ini? Itu dilakukan supaya bisa sampai saat matahari terbit dan melihatnya dari Gunung Anak Krakatau.

Senter, sepatu, dan perlengkapan relevan lain dari masing-masing individu disiapkan. Kapal kembali berderu memanaskan mesin dan membawa kami menuju Gunung Anak Krakatau dalam jangka sekitar setengah jam. Tenda dan perlengkapan kami tinggalkan sementara.

Sampai di daratan bibir Gunung Anak Krakatau, kami melaksanakan sholat shubuh berjamaah. Setelahnya kami diberi pengarahan singkat oleh petugas BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam) yang menjaga pos. Dimulai dengan doa, kami berangkat naik, meninggalkan 3 peserta yang tidak ikut karena satu dan lain hal.

Persiapan akhir sebelum mendaki the Living Legend

Memasuki area Gunung Anak Krakatau yang masih ditutupi pepohonan di bagian luarnya, kami menemukan pohon tumbang yang masih terbakar, akibat lontaran api dari puncak gunung sekitar 4 hari sebelumnya.

Kayu bakar alami…😀

Sekitar 5 menit kami sudah memasuki daerah berpasir. Kondisi seperti itu yang membuat gunung dengan ketinggian hanya sekitar 300-400 meter dari permukaan laut ini membutuhkan kesabaran menaikinya. Singkatnya, setiap langkahan kita akan merosot kembali ke bawah karena menjejak pasir itu.

Tanjakan pasir bikin kerja keras melangkah…

Dalam waktu sekitar setengah jam, akhirnya kami mencapai patok 9. Dari sini kami bisa melihat matahari yang malu-malu terbit. Maka apalagi yang kami lakukan, setelah bersyukur bisa sampai menaiki Sang Legenda Hidup, selain mengabadikannya dalam kamera. Bendera merah putih juga menghiasi kerumunan foto kami, satu usaha kecil untuk membuktikan bahwa Indonesia memiliki banyak kekayaan alam sekaligus pariwisata.

Krakatau, Ini INDONESIA!

Kami pun turun kembali karena paling lambat harus kembali ke Pulau Rakata pukul 7. Di perjalanan, ada sebagian tim yang hendak mencoba jalur baru *baca: tersesat dikit, padahal sudah mau sampai di bibir gunungnya lho… hahaha, puas banget saya cak-cakin.

Sebelum kembali ke kapal, kembali kami berfoto di depan plang Anak Krakatau, bahkan ada bule yang ikut foto bersama kami.

Di bawah gunung sekaligus bibir kawah bersama Bule…😀

Kembali ke Pulau Rakata, tugas terakhir adalah memasak dan membereskan tenda. Tapi mohon maaf, saat teman-teman memasak, saya membantu membereskan tenda. Dan saat teman-teman mulai makan, perut saya mulai mules. Maka saya putuskan untuk “meninggalkan” jejak di Pulau Rakata ini… Yeaaay… walaupun harus masuk-masuk dikit ke daerah hutannya.

Sebelum pukul 10, dengan hati yang mengharu biru #halah, kami meninggalkan Pulau Rakata dan area Anak Krakatau. Sekitar 3 jam dari Pulau Rakata, kami sampai kembali di Dermaga Canti. Beres-beres dan makan siang, lalu kami kembali menaiki angkot menuju Bakaheuni dengan mampir dulu untuk beli oleh-oleh, yang pasti Keripik Pisang berlumur coklat (mungkin itu pasir anak Krakatau yang dicampur gula ya??) dan kerupuk khas lampung apa namanya itu.

Dari Bakaheuni kami bertolak menjelang maghrib dengan menguasai hampir setengah kelas eksekutif di kapal ferry, ditambah hiruk pikuk canda di antara kami, termasuk Mbak Rara dan Fik yang menyumbang tendang kenangan, eh tembang maksudnya… wkwkwk… Kapal ini sempat tertahan satu jam karena antrian di Pelabuhan Merak. Dari pelabuhan Merak kami kembali ke Kampung Rambutan.

Di sinilah kami berpisah, kembali ke rumah masing-masing, untuk kembali beraktivitas rutin, mengumpulkan pundi-pundi, supaya bisa jalan bersama lagi #Amiiin…

Kalau anda mau berjalan cepat, jalanlah sendirian, tapi kalau mau berjalan jauh, jalanlah bersama-sama– Pepatah

Bonus Trip:
– Di perjalanan ini ada beberapa kali peristiwa “Kena Deh”, yang pertama saat pulang merapat di Merak, rombongan kita paling semangat antri terdepan di pintu keluar kapal, taunya salah pintu. Hahaha. Yang kedua, saat orang lain rempong beli oleh-oleh di Jalan Trans-Sumatera, Bang Baiaou cukup membelinya di Pelabuhan Merak, dengan harga yang sama.

– Kata Bhe, ini adalah perjalanan bersejarah buat kita semua, karena bisa mendaki dari titik 0 meter dari permukaan laut.

– Moa memperkenalkan istilah baru, yaitu Woles… artinya Selow…