Krakatau, the Living Legend (1)

by Fadhli

Setelah perjalanan ke Kawasan Bromo dan Buni Ayu, terlontar ide untuk melakukan perjalanan ke Krakatau. Saya sendiri lupa bagaimana sampai tercetus nama tempat ini. Tetapi ide ini semakin terlontar dalam pikiran ketika saya menghadiri pameran pariwisata Indonesia yang diadakan tengah tahun ini dan menemukan brosur dari daerah Lampung.

Di dalamnya tertera: Festival Krakatau. Saya berpikir, bagus nih kayaknya kalo perjalanan ke sana dilaksanakan sekaligus melihat festival yang akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2012 itu, lumayan kan dua tiga pulau bisa terlampaui dengan satu dayungan. Maka Saya lempar lagi wacana itu ke beberapa teman, dan satu dua orang langsung merespon untuk mewujudkannya.

Rencana itu tetap disimpan sampai beberapa bulan, dan hampir membeku jika saja beberapa orang (saya inget banget itu adalah Rido dan Dewi) tidak rajin-rajin (baca: mendekati bawel) bertanya baik via sms atau facebook. “Zul, jadi ga Krakatau?” “Gimana rencana Krakatau?” 

Dan tibalah akhir bulan Agustus 2012, sehabis lebaran, ketika saya menyadari bahwa tinggal satu bulan lagi menuju Oktober. Maka selepas meminta dukungan untuk mewujudkannya dari sebagian teman-teman ngetengmania, kebetulan mereka baru saja turun dari Gunung Burangrang (Bandung), saya langsung begadang karena ada perlunya… terore-roret (pake nada Bang Rhoma). Keperluannya yaitu menulis rencana perjalanan (itinerary, kebiasaan disingkat itin) ke Krakatau.

Persiapan
Saat menulis itin, saya sembari riset kecil-kecilan terkait festival Krakatau lebih serius. Ternyata sodara-sodara, Festival Krakatau itu hanya namanya saja membawa Krakatau, tapi teganya, teganya, festival itu hampir seluruhnya diadakan di Bandar Lampung. Maka mengingat sumber dana, tenaga dan waktu, saya putuskan untuk tidak memasukkannya dalam jadwal. Yang bisa sedikit diharapkan beririsan paling bertemu dengan rombongan Tur Anak Krakatau, yaitu bagian dari acara festival yang benar-benar diadakan di kawasan Krakatau pada tanggal 7 Oktober.

Pelabuhan Bakaheuni, salah satu area paling populer untuk memasuki Bandar Lampung

Secara garis besar itin kami dimulai dari tanggal 5 Oktober malam untuk perjalanan dari Jakarta, tiba tanggal 6 Oktober pagi di sana dan langsung bersentuhan dengan laut, dilanjutkan mendirikan tenda dan masak bersama-sama di pinggir pantai (ini yang bikin sensasi beda) pada sore hari, dan tanggal 7 Oktober dialokasikan untuk mendaki Gunung Anak Krakatau.

Peserta pun mulai mendaftar. Kuota dua puluh orang dengan cepat terpenuhi, dengan banyak antrian di waiting list untuk antisipasi ada yang membatalkan. Menolak orang untuk bergabung itu sebenarnya ga enak, tetapi boleh buat apa? Demi keselamatan dan keamanan perjalanan, harus ada pembatasan.

Akhirnya saya mulai kontak orang kapal dan mulai menawar harga sewa. Tapi parahnya, perkiraan harga saya jauh di bawah yang beliau tawarkan. Saya pun agak panik, hingga akhirnya dijelaskan bahwa dengan harga yang ditawarkan itu adalah untuk kapal dengan kapasitas 30 orang.

Wow, maka ini seperti jalan keluar bagi mereka yang berada di waiting list, sekaligus solusi buat harga kapal. Dengan menambah orang, berarti budget sharing bisa lebih ringan. Deal akhirnya dengan kapal tanpa banyak tawar, karena saya emang orang yang agak ga tega tawar-menawar, dan pada akhirnya benar, sumber air tawar sedang kering di Krakatau #nyambung_aje. Ya itung-itung sekalian memberdayakan ekonomi bangsa lah.. Hehe

Dalam masa persiapan ini ada dua hal yang menjadi perhatian beberapa teman dan saya sendiri sebenarnya, yaitu erupsi Anak Krakatau 2 September, dan peristiwa ditabraknya ferry KM Bahuga Jaya. Untuk erupsi, karena masih ada waktu sebulan lagi sebelum perjalanan, maka saya bilang ke temen-temen untuk tetap tenang sementara saya memantau terus kondisi. Hampir tiap pekan saya kontak orang kapal untuk menanyakan situasi. Sampai beberapa hari sebelum keberangkatan kondisi aman terkendali, walaupun kemungkinan naik tidak akan bisa sampai bibir kawah.

Sementara untuk urusan ferry, ya saya ga bisa kontrol itu, beruntung pada akhirnya kita mendapat kelas eksekutif saat pergi dan pulang dengan jatah pelampung yang memadai.

Setidaknya ada dua kali konsolidasi dengan tim kecil sebelum keberangkatan. Mereka adalah Balad sebagai seksi dokumentasi yang pada akhirnya ga ikut karena harus berangkat kerja ke Kalimantan, Rido sebagai seksi logistik, Yanti sebagai bendahara, Azmi sebagai seksi heboh dan juru tulis, serta Andin dan Lastri sebagai dapur umum. Mbak Irra juga muncul dalam sekali pertemuan.

Konsolidasi ini memastikan saja update keuangan, logistik umum dan makanan, termasuk kesiapan angkot dan kapal di sana. Alhamdulillah pada akhirnya tidak ada kekurangan logistik dan makanan selama dalam perjalanan. Terima kasih banyak tim. Lain kali kita pergilirkan tugasnya.

Riset Dasar tentang Krakatau
Ternyata Krakatau itu menarik, bahkan namanya terkenal sampai ke lain benua sebagai bahan penelitian. Inggris sudah menjadikannya sebagai bahan penelitian sejak Nyonya Meneer belum berdiri, hehe, maksudnya beberapa tahun selepas erupsi besar di tahun 1883. Maka sebenarnya disayangkan jika masyarakat Indonesia tidak ngeh dengan popularitas Krakatau dalam bidang keilmuan, terutama vulkanologi (gunung api). Ibarat kata pepatah gajah di pelupuk mata tidak terlihat, apalagi semut di seberang lautan kali ya? Mungkin orangnya sedang tidur, ga bisa liat apa-apa, hehe

Saya memulai membaca sejarah dan sisi-sisi menarik Krakatau dari rubrik Cincin Api Kompas. Yang membuat miris ternyata pertanyaan dari Prof Tukirin, seorang peneliti gunung api Indonesia yang mengajak kita unTuk miKirin. Dia mengatakan bahwa Indonesia ini memiliki dua pertiga gunung api di dunia, tapi perhatian dan penelitian terhadapnya sangat sedikit.

Bahkan Singapura, yang tidak punya gunung api at all alias sama sekali, mereka punya pusat studi gunung api. Berbanding terbalik dengan negara empunya, Krakatau dengan segala karakteristik uniknya minim dari publikasi ilmiah. Jika saya cari buku referensi tentang Krakatau yang ditulis orang Indonesia, saya belum bisa menemukannya sampai sekarang.

Kata Profesor Tukirin pula, ya mungkin karena memang kondisi di Indonesia belum terlalu menghargai sisi penelitian ilmiah, karena fokus orang dan pemerintah lebih ramai di politik. Padahal menurut opini saya, dengan banyaknya gunung api, perlu upaya riset dalam rangka mitigasi bencana, menyelamatkan hajat hidup orang banyak, yang itu juga bagian dari tugas pemerintah #asyeeek, sok analitis.

Dan karena tidak menemukan referensi berbahasa Indonesia, saya terpaksa membaca “Krakatoa: The Day the World Exploded 27 August 1883” karya Simon Winchester. Kenapa terpaksa? Ya karena ditulis dalam Bahasa Inggris yang sebagian frasenya tidak saya mengerti #males.

Sampul Depan Buku tulisan Simon Winchester tentang Krakatau

Simon Winchester menggali sejarah letusan Krakatau mulai dari hubungannya dengan Indonesia sebagai daerah jajahan Belanda dengan VOCnya, kemudian teknologi penemuan telegraf, awal letusan, saat letusan dan efeknya. Sampai hari keberangkatan, saya hampir menyelesaikan semua halamannya, walaupun sebagian halaman belakang tentang efek letusan dari sisi pergerakan sosial belum tuntas.

Satu lagi yang saya lakukan dalam riset dasar adalah menonton film dari Discovery Channel tentang dua orang peneliti yang mendatangi Krakatau. Mereka menjelaskan proses letusan Krakatau di tahun 1883, dan hal-hal apa saya yang membuatnya sungguh “mematikan” bahkan efeknya bisa terasa sampai lima tahun setelahnya. Film ini sangat membantu saya dalam memahami beberapa istilah dan proses yang dijelaskan juga di buku Simon Winchester.

Bersambung… klik di sini untuk lanjutan….