Gunung Papandayan dalam Catatan Pengembaraan Kisanak Ngetengmania (1)

by Fadhli

Alkisah, 240 tahun setelah erupsi besar terjadi di Gunung Papandayan pada 11 Agustus 1772 atau bertepatan dengan 11 Jumadil Awal 1186 H, tersebutlah 16 orang kisanak yang melakukan pengembaraan ke sana. Mereka hendak menelusuri misteri keindahan gunung api dengan ketinggian 8,776 kaki atau 2665 meter dari permukaan laut (mdpl) jika diukur secara vertikal dengan altimeter, atau dengan meteran jahit atau meteran apapun bisa, asal cukup dan mau.😀

Keindahan yang dimiliki Papandayan sekarang seakan menutupi fakta bahwa erupsinya di zaman dulu diperkirakan menghabiskan 40 desa dan menelan sekitar 3000 korban jiwa, belum lagi harta benda dan hewan ternak yang entah dihitung atau tidak.

Sampai saat ini Papandayan masih aktif sebagai gunung api. Seandainya meledak kembali, otoritas kebencanaan republik memperkirakan ada sekitar 11.500 warga yang harus dievakuasi, dan 170.000 penduduk di sekitar 5 kecamatan dan 20 desa terdekat akan terdampak. 

Perjalanan 15 kisanak dimulai 27 Oktober sekitar jam 10 pagi dari sebuah daerah di Jayakarta yang terkenal dengan sebutan Pasar Rebo. Para Kisanak berasal dari berbagai penjuru karesidenan seperti Depok, Jayakarta, Bekasi, dan ada yang bergabung setelah berkelana dari Tangerang. Mereka akan menempuh perjalanan sekitar 5 jam dengan gerobak penumpang besar bermesin.

Satu kisanak yang tidak lain tidak bukan adalah juru tulisan ini berangkat secara terpisah dari Ibukota Priangan. Bagi dia, menuju Papandayan yang terletak di Kabupaten Garut itu berarti bergerak ke arah tenggara dari Bandung, masih sekitar 15 kilometer lagi dari Kota Garut atau sekitar 3 jam perjalanan dengan gerobak penumpang bermesin ukuran sedang dari Bandung.

Walaupun sempat terhadang hujan deras di sela-sela perjalanan, akhirnya semua kisanak dengan gembolan bawaannya dapat berkumpul tepat setelah senja tenggelam di Masjid Besar Cisurupan, sekitar 7 kilometer sebelum pos pendakian. Sebagian kisanak belum saling mengenal pada awalnya hingga pada akhirnya perjalananlah yang menyatukannya.

Selepas memanjatkan doa demi keselamatan, 16 kisanak diangkut kembali dengan 2 gerobak terbuka bermesin. Kira-kira setengah jam perjalanan dengan jalur berbatu, mereka tiba di pos pendakian. Arloji ketika itu menunjukkan sekitar pukul 19.30 ketika pendakian dimulai.

Sekitar satu jam perjalanan awal, para kisanak masih berjalan bersama beriringan, membelah jalur kawah yang sangat indah namun belum dapat dengan jelas dilihat karena kondisi sudah malam. Sorotan penerangan yang diikat di kepala, dibawa di tangan, atau diengkol menjadi bantuan penghasil cahaya selain rembulan purnama dan bintang-gemintang.

Batu-batuan yang diinjak di area kawah ini terasa licin dan basah karena hujan baru saja mengguyur. Semangat para kisanak untuk melalui area ini semakin menggebu karena tidak ingin belerang yang menyengat terus tercium dan menyelusup ke paru-paru sehingga membuat pusing kepala dan nantinya akan repot mengeluarkan ramuan Pak Dalang “pancen oyeee!

Lewat dari area kawah, para pengembara ini harus menuruni area yang sudah ditumbuhi tanaman untuk melewati area longsor yang awalnya bisa dilalui dengan datar namun terpotong. Kondisi tanahnya licin, membuat kisanak berhati-hati. Setelah itu mereka harus menyebrangi sungai kecil dengan melewati batu.

Sebetulnya ada jalur lain yang lebih mudah, tapi bukan para pendekar namanya kalau tidak nekat. Tanggung gelar kisanak sudah dilekatkan di tulisan ini, biar heroik sedikit. Padahal sebenarnya jalur yang satu lagi memang belum diketahui, daripada tersasar dan memakan waktu lagi, lebih baik pilih yang sudah di depan mata saja.

Selepas menyeberangi sungai, terdapat jalur menanjak yang menurut bahasa Kompeninya itu bonus track. Derajat kemiringannya kira-kira 75 derajat atau lebih. Bantuan tali kadang disangkutkan ke batang pohon untuk antisipasi saja, padahal dengan kemampuan para kisanak tali itu sebenarnya tidak dibutuhkan.

Beberapa kisanak terbukti memiliki kecepatan yang dahsyat dalam melalui medan terjal ini. Di saat 9 kisanak yang lain masih sibuk, ada yang ganti kostum supaya lebih mudah mendaki, ada yang minum, ada yang mengejek-ngejek padahal dengan niat menyemangati, terhitung sekitar 7 kisanak lain sudah melesat jauh ke depan. Saat rombongan kisanak terakhir baru selesai melalui jalur terjal, 7 kisanak sudah tidak terlihat di ujung jalur datar.

Bagaimana kisah selanjutnya? Apa yang terjadi dengan para kisanak itu? Klik di sini untuk ikuti kisah selanjutnya..