Gunung Papandayan dalam Catatan Pengembaraan Kisanak Ngetengmania (2)

by Fadhli

Sebelumnya telah dikisahkan bahwa 7 kisanak melesat dengan cepat di tebing yang curam setelah melewati sungai kecil berbatu. Saat 9 kisanak baru saja menjejakkan kaki di atas tebing, 7 kisanak lain sudah tidak terlihat di ujung jalan.

Kisanak yang baru saja tiba di atas tebing masih berjalan perlahan untuk mengembalikan kecepatan denyut nadi per menit. Berdasarkan salah satu kitab pendakian yang disusun oleh penasihat fisik aktivitas petualangan, denyut nadi seharusnya tidak lebih dari 70% x (220 – usia) per menitnya. Jika lebih dari itu dan melakukannya selama lebih dari 20 detik, maka asam laktat akan menumpuk dan menyebabkan otot akan kaku. Maka berhenti istirahat atau melambatkan perjalanan menjadi pilihan untuk pemulihan. 

Saat masih berjalan lambat, para kisanak yang di belakang memberikan kode,
Nyai, Akang.. !
Yaaa..” sahut kisanak yang di depan.
Nanti tunggu ya di pertigaan. Berhenti…” Kisanak yang di belakang berteriak.
Yaaa…” jawab kisanak yang di depan.

Tapi, marilah kita ikuti percakapan para kisanak yang sudah di depan…
Nyai, apa benar ini jalurnya?” tanya salah satu kisanak.
Benar, buktinya hanya ini saja jalur yang terlihat,” jawab kisanak yang lain.
Ciyuus??? Miaapah??
Husshhh.. jangan gunakan bahasa itu.. Ingat, kisah ini bersetting zaman dahulu!
B4ikLah.. K’lo 6tu qT j4Lan t3rus??
Heeeuh, hentikan kealayanmu dulu, baru kita lanjutkan perjalanan..!
Baik Nyai, maaf, maaf, mari kita terus saja

Perjalanan kisanak yang di depan terus berlanjut. Jalur yang datar malah membuat mereka semakin semangat. “Mungkin ini benar-benar pendakian untuk pemula ya.. tidak ada terlihat tanda-tanda menanjak” ujar mereka.

Saking semangatnya, di satu tempat saat rombongan kisanak depan berjalan, terdengar suara “BRUUKKKKKK!

Ternyata salah satu kisanak terpeleset. Walaupun itu tetap tidak mengurangi semangat mereka berjalan.

Namun, apakah terpeleset itu menjadi pertanda sedang terjadi sesuatu pada rombongan kisanak belakang? Berikut dialog di antara kisanak belakang.

Pergi ke mana mereka?” sahut satu kisanak
Itulah yang aku khawatirkan Akang, di sini persimpangannya memang tidak terlihat… Menjorok ke kiri dalam” sahut yang lain.
Kalau gitu aku susul ke arah sana, dan ada yang menyusul ke arah Pondok Saladah, itulah itu jalur yang seharusnya kita lalui
Tapi ke arah situ pun tidak ada yang tahu.. Bagaimana ini Akang?
Ya sudah aku dan dia akan mengejar dulu, biar aman yang lain tetap di sini… aku titipkan gembolanku di sini dulu…

Keributan ini pun terdengar dua pamong yang tiba-tiba muncul dari balik semak-semak.
Ada apa Akang, Nyai?” tanya mereka
Kami kehilangan jejak 7 kisanak, apa Akang Pamong sempat melihat?
Kami pun ini baru turun dari Puncak I, namun dari atas kami sempat melihat ada lebih dari 4 orang dengan bantuan pencahayaan yang duluan sampai, sekitar 20 menit lalu..
Ia, kami khawatir mereka melanjutkan perjalanan lurus..
Kalau lurus itu berarti ke arah Pangalengan.. Itu bukan jalur pendakian, datar terus
Akang Pamong ada ide?
Ada, kalau mereka sudah sampai pangalengan, kami titp tolong dibelikan susu murni ya… ditunggu besok #halah (<– ini bagian fiksi, jgn dipercaya!). Maaf, maaf becanda, maksud kami, kita kejar saja ke arah jalur Pangalengan ini.. Kalau banyak kisanak wanita di depan, mungkin mereka pun belum jauh..

Baik, kalau begitu 2 kisanak bersama 2 pamong akan mengejar, yang lain menunggu di sini, atau kalau ada yang berani menuju Pondok Saladah juga. Kita aktifkan alat telepati kita menggunakan metode genggaman (pada zaman modern disebut: handie talkie)….”

Maka pengejaran dilakukan.

Lihat ini, lihat…!” kata Pamong sambil menunjuk jejak terompah saat para kisanak yang bertugas mengejar masih mencari jejak.

Betul ke arah sana,” kisanak dan pamong pun melanjutkan pengejaran dengan berteriak dan meniup terompet mini darurat, untungnya belum sampai koprol depan belakang sambil tepuk tangan.

Tapi di satu titik, pamong kembali menunjuk, “Ah, tapi ini arah jejaknya sudah berbalik.. Lagipula tidak mungkin sudah sejauh ini.. Jarak teriakan terdengar di malam hari pun seharusnya bisa radius 1 – 3 kilometer di area datar seperti ini. Bagaimana kalau kita ubah saja pengejaran ke Pondok Saladah?

Kita lihat sebentar lagi ke depan, Akang Pamong, sudah tanggung ini. mungkin ada tanda-tanda baru…

Hingga beberapa puluh langkah ke depan sambil agak bertiarap berharap menemukan jejak baru, akhirnya mereka menemukan tanda yang masih “hangat”

Lihat, jejak ini memanjang..
Tanda apakah itu, pamong?
Salah satu kisanak terpeleset.. Arahnya ke depan ini
Pamong dan kisanak pun berpandangan sesaat, sebelum kembali berlari mengejar sambil berteriak…
Nyai…! Akang…! Nyai…! Akang…!

Dan sayup-sayup suara pun terdengar.. “Yaaa…!
Kembali, kembali, kalian salah arah.. Berhenti!

Hingga akhirnya mereka berhasil terkejar.. Dan…

Jangan harap terjadi kesedihan dan drama seperti telenovela, kemudian berpelukan seperti teletubbies… Sebaliknya para kisanak itu malah tertawa-tawa santai.

Itulah salah satu keasyikan para kisanak ini, tidak saling menyalahkan, dan tetap woles. Bukankah ada motto pariwara yang sering disiarkan dalam layar tancap, “Tidak nyasar, tidak belajar…”  Eh, bukannya “Ga kotor, ga belajar” ya? Ah, itu kan layar kaca, ini layar tancap…

Walaupun tidak ada yang saling menyalahkan, tetap harus ada yang menjadi korban ceng-cengan. Itu juga yang membuat perjalanan menjadi lebih berbumbu dan menyenangkan, walaupun tentu jangan sampai berlebihan dan menyakitkan.

Semua kisanak pun kembali ke pertigaan yang dimaksud. Ternyata jaraknya bisa mencapai 2 kilometer. Sungguh dahsyat para kisanak, apalagi banyak dari mereka merupakan srikandi.

Akhirnya, setelah berterima kasih kepada pamong yang membantu pencarian, para kisanak kembali melanjutkan perjalanan dengan jalur yang benar ke tempat perkemahan yang disebut Pondok Saladah.

Perjalanan kisanak ini dilakukan dengan lebih beriringan di dalam jalur pendakian yang sudah tidak terlalu curam dengan banyak vegetasi di sekitarnya, namun di sisi kirinya adalah jurang. Sekitar setengah jam dari pertigaan itu, sampailah para kisanak di tempat perkemahan.

***
Apa saja yang dilakukan setelah sampai perkemahan? Dan tantangan apa yang selanjutnya mereka hadapi? Kami akan segera kembali.. (Klik di sini)