Gunung Papandayan dalam Catatan Pengembaraan Kisanak Ngetengmania (3)

by Fadhli

Sesampainya di Pondok Saladah, sebuah area pemondokan sementara di Gunung Papandayan, ternyata sudah banyak puluhan pemondokan lain yang berdiri, terdiri dari ratusan kisanak lain dari berbagai penjuru karesidenan dan perguruan. Sebagian di antara mereka nampaknya sudah hening dan mulai memasuki tenda ketika 16 kisanak baru tiba lebih dari pukul 10 malam.

Para kisanak pun tidak membuang waktu lagi untuk mendirikan pemondokan kecil. Setelah pemondokan para kisanak berdiri dan posisi diatur, ternyata berlebih kapasitasnya.

Setelah itu para kisanak memasak air, untuk membuat ramuan hangat kepada tubuh yang selain sudah banyak mengeluarkan banyak cairan keringat, juga menghirup banyak karbondioksida yang diproduksi malam hari, walaupun hubungan antara air hangat dan karbondioksidanya itu saya sendiri tidak mengetahuinya dengan pasti. Yang jelas, bandrek, energen, kopi itu enak..

Kehangatan juga bukan hanya terjadi karena minuman. Suasana hangat, bahkan cenderung panas, timbul akibat para kisanak mulai unjuk peralatan pengelananya. Ada yang membawa cahaya penerangan yang bisa dibuat melebar atau fokus misalnya. Tapi yang bikin eneg adalah cara kisanak ini menunjukkannya. “Heiii itu apaan tuh yang di deket pohon??” tanyanya kepada yang lain. “Mana sih, mana??” kisanak yang lain penasaran. “Coba lihat lebih jelas..” sambil melebar-fokuskan cahayanya bulak-balik dengan tangan dan dibuat bersuara. Jelas kisanak yang lain langsung iri dengki.

Ada pula kisanak lain yang jumawa karena tungku api mini yang dia bawa berjaya di antara yang lainnya karena apinya paling besar. Tempat masak yang dia bawa pun adalah yang biasa digunakan pasukan keamanan republik. Biar dilihat kisanak yang lain, dia sengaja menandatangani besar-besar punggung peralatan masaknya disaksikan kisanak yang lain yang mukanya mesem-mesem. “Apaan banget deh kisanak yang satu ini..

Dan segala kejumawaan lain bertimbulan, sarung tangan lah, makanan berlapis coklat lah, hingga bantal tiup yang dibawa. Bahkan kejumawaan ini berlangsung sampai esok harinya dengan tambahan pisau lah, sandal lah, kacamata lah..

Setelah lelah beradu peralatan, kisanak mulai masuk peraduan, walau sebagian masih melanjutkan perbincangan dan penghangatan badan dengan tungku api. Waktu hampir menunjukkan batas pergantian hari ketika para kisanak mulai mendengkur, eh, maksudnya terlelap.

Rencananya, jam 2 dini hari mereka akan melanjutkan pendakian untuk mengejar mentari yang mulai merekah bersama fajar. (Lho, si mentari jadinya sama si fajar nih?? Trus gimana dong sama si mawar? Mawar, maafin fajar ya #Halah!)

Udara yang sangat dingin di Pondok Saladah, ditambah pemondokan yang berongga karena kelebihan kapasitas, membuat sebagian kisanak tidak bisa tidur nyenyak karena menggigil. Juru tulis sendiri terbangun beberapa kali untuk membenarkan posisi kupluk dan alas tidur.

Sekitar pukul 2 dini hari, udara tetap terasa sangat dingin. Apa boleh buat, cobalah berusaha membuat tubuh panas dan berkeringat. Artinya, berhenti dari tidur. Bergerak-gerak adalah pilihan. Mengunyah makanan juga pilihan, karena nanti sistem pencernaan juga akan bekerja dan itu akan menimbulkan panas dalam tubuh (ngasal abis).

Di pemondokan sebelah, suara beberapa nyai terdengar menghibakan karena belum bisa tidur akibat udara yang dingin. Akhirnya mereka berinisiatif untuk menyalakan tungku api setelah sebelumnya juga membaluri bagian tubuh yang sensitif dengan udara dingin dengan ramuan gosok, pijat, dan urut yang sudah terpercaya panasnya sampai ke tulang.

Air kembali dihangatkan hampir 1,5 liter. Dan… tumpaaah sodara-sodara! Seperti biasa, bukannya mendapat hukuman jalan jongkok atau berdiri dengan satu kaki karena bersalah, para kisanak malah tertawa riang gembira. Untungnya sumber air so dekat kaka, jadi tinggal masak ulang.

Kopi pun diseduh, daging ayam cincang digoreng. Harumnya mungkin tercium sehingga membuat para kisanak lain mulai terbangun. Padahal yang bikin bangun karena berisik. Perut kembali diisi untuk menguatkan otot, otak mah belakangan. Hehehe.. Eh, tanpa terasa, bulan purnama sudah menghilang di balik bukit. Arloji sudah menunjukkan lebih dari pukul 2, yaitu hampir pukul 3.


Lalu bagaimana dengan rencana menuju puncak? Jadikah kisanak melanjutkannya? Atau keasyikan makan dan minum? Ikuti terus kisahnya dengan klik di sini..