Gunung Papandayan dalam Catatan Pengembaraan Kisanak Ngetengmania (Tamat)

by Fadhli

Akhirnya setelah mulai menyesuaikan suhu tubuh dengan suhu pegunungan dini hari dengan beraktivitas masak-memasak dan sadar hari semakin pagi, maka 16 kisanak mempersiapkan perjalanan menuju puncak.

Pemondokan dan gembolan mereka tinggalkan sementara. Yang dibawa adalah terpal yang biasa digunakan sebagai alas duduk maupun sholat, beberapa botol air mentah untuk wudhu dan air mineral untuk minum, juga makanan-makanan kecil untuk dimakan dan dipamerkan.

Sebelum berjalan, ada kisanak dari perguruan lain yang menghampiri kisanak yang 16. Katanya, “Para kisanak ini hendak berkelana ke puncak kah?” “Tentu saja,” jawab salah satu kisanak. “Kalau begitu kita bisa berjalan bersama, kami tidak tahu jalan..” harapnya. “Hahahaha (tertawa jumawa), kisanak belum tau jalurnya? Sama dong..” (Dikirain ketawa-ketawa itu udah pada ngerti jalur, dasar kisanak ueedan) “Oh begitu, ya sudah kalau begitu kita berjalan beriringan,” jawabnya dengan muka ill feel

Satu jam perjalanan awal dengan kondisi yang gelap, para kisanak hanya dapat berjalan kurang dari 1 kilometer. Beberapa kali mereka melalui jalur yang salah dan buntu hingga akhirnya di jalur permulaan hutan mati berhenti karena tak yakin.

Pada saat menunggu ini ada satu kisanak yang curcol melihat babi hutan saat hendak BAK malam tadi. Memang sebenarnya area Pondok Saladah masih dipenuhi binatang liar, kadang anjing dan kucing liar. Berhubung waktu itu ramai dengan para pemondok, mungkin mereka tidak berani mendekati, hanya orang-orang tertentu yang melihatnya. Ini bonus camp istilahnya.

Saat yang lain berhenti menunggu kepastian jalur, beberapa kisanak ada yang mencoba menjadi tim pendahulu, berlari sedikit lebih jauh hingga akhirnya melihat tali-tali yang diikat pada pohon untuk menandakan jalur. Jangan harap bisa melihat jejak kaki, karena walaupun sudah dijejak, tanah di hutan mati ini tidak akan berbekas.

Tapi tak terasa fajar mulai menyingsing, mengejar matahari terbit dari puncak harus direlakan. Para kisanak ini melakukan sholat berjamaah terlebih dahulu di hutan mati hingga jalur mulai terang.


Mulailah terlihat kayu-kayu yang terbakar erupsi, entah akibat erupsi besar tahun 1772, ataupun 2002. Pemandangan yang eksotis, karena dipadu dengan tanah berwarna putih yang dari baunya dilapisi sulfur.

Perjalanan 1 jam kemudian menanjak secara bertahap melalui area vegetasi. Di salah satu titik, para kisanak bisa melihat asap kawah yang mulai membumbung.

Di titik yang lain, para kisanak bisa melihat area pemondokan dengan tenda berwarna-warni. Langit pun biru saat itu, sementara puncak-puncak kecil hijau lain membuat suasana semakin berwarna.


Hingga tibalah para kisanak di Tegal Alun. Konon sebelum erupsi besar terjadi pada 1772, area ini merupakan bagian dari kerucut Gunung Papandayan. Setelah meletus, area ini menjadi bagian tengah dari kerucut puncak yang terbagi dua menjadi Gunung Papandayan dan Gunung Puntang sekarang. Jadi seperti kisah O*J, di sana gunung, di sini gunung, di tengah-tengahnya Tegal Alun.

Tegal Alun merupakan taman yang dipenuhi Edelweiss Jawa. Saat kami sampai, mereka masih belum tumbuh terlalu mekar. Terkait edelweiss, saya ingin mengatakan ini sebenarnya waktu berkumpul dengan para kisanak, tapi waktu itu tidak jadi karena khawatir garing, “Pecinta alam sejati tidak memetik edelweiss untuk diberikan kepada kekasihnya, tapi dia merawatnya seperti merawat kasih sayang pada kekasihnya…” #EAAAAA

Tegal Alun pun merupakan “studio foto alam” yang indah, maka para kisanak pun menjadi model-model dadakan. Mungkin hampir sejam untuk mengambil foto di sini, berhubung rol kameranya tidak perlu yang gulungan lagi. Selain foto-foto, kembali pamer terjadi, sarung tangan, kacamata, tim-tam (walaupun terpaksa makannya, kasian kalo ga laku, mubadzir), apel, pisau, dan chunky bar.

Sebenarnya dari Tegal Alun ke Puncak Papandayan masih sekitar dua jam lagi. Namun menurut referensi, Puncak Papandayan yang biasa dilalui dari Tegal Alun ini bukan puncak tertinggi, melainkan puncak kedua tertinggi (2623 mdpl). Puncak tertinggi dengan ketinggian 2665 mdpl sebenarnya dikenal dengan Puncak Malang. Tetapi nampaknya dalam 100 terakhir tidak ada yang bisa ke sana karena memang jalunya masih “perawan.”

Dua pendaki (sayangnya Bule) Heinz dan Thomas di awal Oktober kemarin mencoba mencapai puncak tertinggi walaupun hanya sampai 300 meter sebelum tiba di puncak menurut pembacaan GPSnya (kemungkinan jarak ketinggian vertikal ya, bukan jarak jalannya)

Sementara karena para kisanak sudah melewati batas waktu seharusnya dari rencana pengelanaan, maka diputuskan untuk kembali saja turun. Toh puncak bukanlah satu-satunya destinasi dalam perjalanan. Destinasi lainnya kan Pangalengan. #ups!

Akhirnya para kisanak kembali ke pemondokan. Dua jam dihabiskan untuk masak dengan menu burger, martabak mie, coklat, indomie telor, dan lain-lain. Perut yang penuh membuat juru tulis akhirnya meninggalkan jejak ritual biologis kembali di sela-sela pohon di Pondok Saladah, yeaaaay… #bangga_salah_arah

Tenda pun dibereskan, tas kembali dipacking. Perjalanan turun dimulai. Area kawah yang saat malam belum terlihat mulai memanggil dari kejauhan. Kamera-kamera kembali dikeluarkan. Dan, mode panorama diaktifkan. Di area kawah, asap-asap mengelilingi para kisanak, suasana jadi heroik dan eksotis.

Sekitar dua jam perjalanan turun. Para kisanak sampai di pos pendakian awal.

Kembali ke Masjid Besar Cisurupan dengan gerobak terbuka bermesin. Di Masjid para kisanak bersih-bersih. Sekitar pukul setengah 4 sore mereka baru berangkat ke Terminal Guntur di Karesidenan Garut.

Dan dari situ perjalanan pulang dimulai.

Tapi cerita belum selesai. Ternyata para kisanak mendapat “bonus trip” dalam perjalanan pulang. Kisanak yang menuju Bandung biasanya hanya butuh waktu 3 jam, menjadi dua kali lipatnya karena terkena macet sebelum memasuki area Nagreg. Kondisi bis ekonomi sangat panas, walaupun bisa duduk dan tidur sih.

Sementara para kisanak rombongan Jakarta, yang biasa membutuhkan waktu 5 jam, melaporkan tiba dengan waktu 9 – 10 jam, dan sebagian kisanak berdiri. Mereka terjebak macet di area sebelum Nagreg dan juga di Cipularang, menyebabkan mereka tiba di rumah masing-masing rata-rata pukul 3.30 dini hari. Dan sebagian harus langsung bekerja di pagi hari. Kalau juru tulis untung cuti… hahaha #kaboor….

Tamat

Pelajaran:
1. Lain kali kita hindari trip di saat libur panjang akhir pekan ke area yang beririsan dengan tempat wisata yang pasti penuh macam melewati Bandung, Garut (ramai karena liburan di Cipanas).
2. Pendakian jika targetnya puncak, lebih baik tidak menggunakan waktu kurang dari 1 hari, minimal 2 hari 1 malam.
3. Pembagian logisitik (tenda dan makanan) lebih baik diatur, supaya tidak terjadi kelebihan.